SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANAN GBKP TAHUN 2022, WARI VI

Invocatio : Matius 7:15

Ogen : Masmur 119:110-112

Khotbah  Perbahanen Rasul-rasul 20:29-31

Tema : Metenget Nandangi Pengajaren si la tuhu  (Waspada terhadap pengajaran sesat)

 

1. Pendahuluan

Munculnya ajaran sesat merupakan suatu tantangan yang membahayakan bagi warga Gereja. Ajaran sesat selalu muncul dari masa ke masa dengan pengajaran-pengajaran yang semakin baru dan mengikuti perkembangan zaman melalui pemutarbalikan fakta kebenaran dari Firman Tuhan. Tujuan dari pengajaran sesat ini yaitu, menjerat para Kristen untuk meragukan hakikat Firman Tuhan. Orang percaya tidak boleh berdiam diri terhadap masalah pengajaran sesat ini, karena pada umumnya ajaran sesat selalu menyerang inti keKristenan. Pengajaran sesat selalu dikemas dengan baik oleh orang-orang yang ingin menyesuaikan dengan cara berpikirnya sendiri (penyimpangan dengan menjauhkan diri dari kebenaran Firman Tuhan. Dalam buku Yohanes Calvin, Institutio mengatakan pengajaran yang menyimpang sudah tentu akan membuat orang berpaling dari kebenaran sejati dan pengetahuan yang benar terhadap Allah akan semakin merosot. Bahkan di era digital sekarang ini pengajaran sesat tersebut bisa muncul melalui berbagai media, baik itu secara individu, media cetak, media social bahkan ada di sekitar orang-orang Kristen (Paulus D. H. Daun, Seri Buku Teologia Bidat Kristen Dari Masa ke Masa). Mari kita pahami bagaimana Perbahanen rasul-rasul 20:29-31 membahas mengenai kewaspadaan kita terhadap ajaran-ajaran sesat.

2. Pendalaman Teks

Kitab Kisah Para Rasul ini ditulis dengan sebuah dorongan kuat dari Lukas yang ditujukan kepada Theofilus, untuk melengkapi kisah awal kekristenan yang berawal dari turunnya Roh Kudus dan murid-murid memiliki keberanian melangkah memberitakan Injil. Dimana dalam 30 tahun sejarah perkembangan Injil, Lukas mencatat dari Yerusalem sampai Roma ada 32 negara, 54 kota, 9 pulau di Timur Tengah 95 orang berbeda tokoh-tokoh menerima Injil Keselamatan (Anon, Alkitab Hidup Berkelimpahan Life Application Study Bible, 2016). Hal ini menegaskan bahwa Kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah tulisan dalam ilham Roh Kudus yang dilakukan Lukas dengan kecerdasan mengungkapkan karya Injil dengan pengalamannya bersama Rasul Paulus.Kitab Kisah Para Rasul juga menjadi dasar kelanjutan Surat-Surat Rasul Paulus yang juga merupakan karya besar dari Rasul yang berada dalam cerita Kitab Kisah Para Rasul. Survei Kitab-Kitab Kisah Para Rasul memberikan data yang sangat kuat serta sempurna tentang perjalanan kegerakan Injil yang mengakibatkan banyak gereja mulai berdiri di kota-kota baik oleh penginjilan yang dilakukan murid-murid, maupun yang dilakukan oleh Rasul Paulus dan rekan-rekan. Allah merancangkan keselamatan sebetulnya sejak dalam Kejadian 3:15 yang kita kenal dengan proto evanggelium. Dosa yang membuat Allah dengan secepat mungkin harus melakukan pemberesan, sebab dosa membuat hubungan Allah dan manusia terputus. Allah sangat tidak kompromi dengan dosa, sebab Allah adalah kudus dan suci.

Sedari dulu sudah ada ajaran-ajaran sesat yang berkembang pada masa Kekristenan mula-mula. Contoh lain ajaran yang menyimpang dari ajaran firman Tuhan di dalam perjanjian baru adalah gnostisisme yang mengatakan bahwa pengetahuan dapat menghapuskan dosa seseorang karena pengetahuan itu dapat melepaskan seseorang dari kenajisan yang berasal dari semua zat dan benda. Gnostisisme telah mencampurkan sebagian ajaran Kristen dengan ajaran agama Yahudi dan filsafat filsafat dari Yunani Persia dan India gnostisisme menganggap bahwa ajarannya lebih tinggi daripada Injil yang sederhana (J. Wesly Brill, Tafsiran surat Timotius & Titus, 1996). Dalam beberapa suratnya Rasul Paulus menuliskan tentang kewaspadaan dalam menghadapi pengajaran sesat yang menyimpang dari firman Allah pengajaran yang benar jika dipahami dengan sesungguhnya maka manfaatnya ialah menjadikan orang percaya tetap setia tidak menyimpang dan Kudus tanpa pernyataan iman yang teguh, maka jika pengajaran-pengajaran di luar kekristenan dating, akan terbukti terlalu dangkal dalam iman dan gagal untuk tetap tegar dalam memelihara Iman percaya. Oleh karena itu Paulus berusaha untuk mengatasi ajaran-ajaran sesat yang berkembang dalam gereja pada saat itu. Maka tidak heran bila Paulus mengatakan bahwa orang Kristen perlu untuk mempertanggungjawabkan imannya (Efesus 4:14). Bagaimana pertentangan pengajaran sesat dengan kekristenan dan bagaimanakah menghadapinya sehingga membutuhkan strategi untuk menghadapinya berhubung dengan pengajaran sesat yang timbul dari masa ke masa dan berdasarkan dari uraian tersebut maka perlu kita memahami apa sebenarnya pengertian ajaran sesat tersebut.

Bidat dalam bahasa Yunani kuno mempunyai pengertian “memilih atau perbedaan pendapat” sedangkan di kalangan para filsuf kata ini mempunyai pengertian “aliran atau golongan”. Dalam kitab para rasul 5:17 dan 15:5 kata ini diterjemahkan dengan istilah “mazhab” atau “golongan” pemakaian kata “bidat” dalam Pengertian modern mengenai kekeliruan secara doktrin tercatat dalam 2 Petrus 2: 1 termasuk didalamnya penyangkalan juruselamat (G.S.M Walker, R, T Beckwith, Pengertian Bidat dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 2001). Dalam bahasa Inggris terdapat dua istilah mengenai bidat yaitu Heresy yang berasal dari kata Yunani yang memiliki arti “pilihan” atau “pendapat” khususnya “pendapat pribadi”. Kata ini kemudian memiliki arti yang semakin berkembang menjadi semacam pendapat atau credo yang berlawanan dengan pendapat suatu pandangan yang salah yang dapat menjurus kepada perpecahan. Ignatius dari antiokhia menyebut kesalahan dalam teologi sebagai bidat dan dalam gereja kemudian bidat berarti sengaja setia terhadap doktrin palsu dan dikutuk sebagai orang berdosa.

Istilah kedua yaitu heretic yang berarti orang yang berpandangan salah terhadap doktrin yang akan membawa dampak negatif dan dapat memutar balikkan kebenaran. Awalnya kata ini tidak mempunyai pengertian perpecahan atau kesesatan. Pengertian ini dipakai ketika gereja diperhadapkan pada masalah ajaran yang menyesatkan dan kebenaran firman Allah untuk menyatakan kesalahan dalam cara berpikir

Dalam Kis 20:29-31, frase yang berkata “aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ketengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.” Sekarang Paulus menghadapi suatu ancaman dalam jemaat. Tiga tahun Paulus tinggal bersama dengan mereka dan ia mengetahui kedaan mereka dan Paulus mengetahui ajaran palsu yang mengancam jemaat. Bukan hanya datang dari luar jemaat tapi bermunculan dari dalam jemaat sendiri. Seorang pemimpin, pasti menghadapi berbagai masalah. Masalah-masalah itu tidak bisa dihindari. Jangan melarikan diri dari masalah seperti dilakukan kebanyakan orang, hadapilah masalah-masalah itu, inilah cara untuk maju yaitu memecahkan masalah-masalah yang ada (Kenneth Boa, The Perfect Leader, 2009). Para pemimpin harus membantu jemaat untuk mengenali apa saja yang dapat merupakan dosa jemaat atau meninggalkan Tuhan dari ajaran-ajaran sesat. Ini harus dimengerti oleh pemimpin dan membantu jemaat untuk mengembalikan kesehatan dalam jemaat. Ajaran dan didikan dapat ditemui dalam setiap lingkup budaya dan tradisi kehidupan. Masing-masing komunitas memiliki budaya dan tradisi dalam mendidik anggota masyarakatnya. Isi didikan dan ajaran mereka pun mungkin sesuai dengan keyakinan yang ada. Pemimpin Kristen adalah pemimipin yang kritis dan kreatif. Ia dapat belajar dan secara kreatif mengembangkan diri dengan nilai-nilai yang baik yang ada dalam masyarakatnya. Namun, ia perlu kritis yakni waspada dan hati-hati dengan ajaran yang ada dan diwariskan dalam budaya masyarakatnya. Apabila ada hal-hak yang dianggap kurang baik, tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen maka sebaiknya hal itu disisihkan saja. Ajaran yang sehat adalah ajaran dan didikan yang bersumber pada ajaran Tuhan. Ajaran tersebut dapat dipelajari dalam Alkitab sebagai pedoman Iman percaya bagi jemaat Kristen.

3. Kesimpulan

Munculnya pengajaran sesat merupakan suatu tantangan bagi orang percaya. Karena ajaran tersebut selalu muncul dari masa ke masa dengan pengajaran-pengajaran yang semakin baru dan mencoba mencocokkan dengan dunia kekinian, tetapi dengan memutar balikkan firman Allah sedemikian rupa agar orang terjerat untuk meragukan hakikat firman Allah. Orang percaya tidak boleh berdiam diri terhadap masalah pengajaran sesat ini karena pada umumnya pengajar yang sesat selalu menyerang inti kekristenan, pengajaran sesat selalu dikemas dengan baik oleh orang-orang yang ingin menyebarkan ajarannya yaitu dengan menyesuaikan keadaan zaman bahkan sampai ke tahap ke logikaan manusia. Pada intinya ajaran sesat selalu mengutamakan apa yang menjadi kesenangan orang banyak tanpa harus memaksakan kehendak suatu ajaran kebenaran. Dapat dikatakan bahwa jika menyimpang dari ajaran yang sesat sepertinya selalu berorientasi kepada hakekat kebenaran seperti menyangkal ketuhanan Yesus, meragukan Alkitab adalah Firman Allah yang berotoritas, menolak ketritunggalan Allah dan menganggap bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha sendiri.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa pengajaran sesat harus segera ditangani karena dapat merusak iman orang percaya. Rasul Paulus membimbing kita agar paham dan menegaskan cara orang percaya untuk menjaga kemurnian ajaran Kristen yaitu dengan memegang ajaran dasar gereja yang benar dan menjunjung tinggi otoritas Alkitab sebagai sumber pengajaran yang benar. Jika Alkitab tidak menjadi pedoman yang dilakukan oleh orang percaya sendiri maka peluang terjadinya penyimpangan dari ajaran benar juga besar karena itu orang percaya harus bertumbuh dalam gereja yang sehat dan persekutuan Bersama saudara seiman orang percaya dan juga harus tunduk kepada Roh kudus yang menuntunnya untuk mengenal Allah secara benar. Timbulnya keraguan terhadap firman Allah tanpa tunduk kepada Roh kudus membuka peluang untuk menjadi sesat dan dapat dipengaruhi oleh berbagai pengajaran di luar kekristenan. Allah mengasihi umatnya dan menginginkan agar Ia dikenal secara benar karena itulah ia memberikan Alkitab yaitu firman Allah kepada manusia dan Roh kudusnya yang menuntun. Seperti yang dituliskan Rasul Paulus dalam 2 Timotius 3:16 segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar untuk menyatakan kesalahan untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran

Di zaman dengan era digitalisasi ini, semakin memudahkan setiap jemaat mendapatkan pengajaran seputar teologia Alkitab, hakekat pengajaran Gereja, bahkan sampai kepada khotbah-khotbah. Media social melalui platform yang ada dapat menjadi mesin pencari bagi setiap jemaat untuk mendapatkan pengajaran Kristen. Untuk itu, gereja (jemaat) harus lebih “Selektif” kepada pengajaran, jangan sampai terhanyut kepada pengajaran yang tidak bertanggunng jawab dengan kebutuhan gereja. Gereja melalui Majelisnya, harus mampu menjadi “Filter” kebenaran atas informasi yang beredar, seperti Paulus yang menegaskan kepada setiap jemaatnya agar berhati-hati, selayaknya juga majelis gereja juga harus mendoktrin jemaat agar “stay on the true path of truth”. 

 

Pdt. Anton KeliatGBKP Runggun Semarang

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANAN GBKP TAHUN 2022, WARI VII

Invocatio : “Maka Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik”.  (Kejadian 1 : 31a)

Bacaan     : Yesaya 3 : 10 – 11

Kotbah     : Efesus 2 : 1 – 10

Tema       : Mengerjakan Pekerjaan Yang Baik

 

1. PENDAHULUAN

Kejatuhan manusia kedalam dosa disebabkan oleh ketidakpercayaan dan ketidaktaatan manusia (Adam dan Hawa) akan apa yang Allah firmankan. Mereka memilih mempercayai tipu muslihat iblis dari pada mempercayai apa yang Allah katakan. Ketidakpercayaan (keraguan) mendatangkan ketidaktaatan (pelanggaran) dan itu adalah dosa yang membawa manusia kepada kematian rohani maupun kematian jasmani, baik pada Adam dan Hawa juga keturunannya. Dosa membawa manusia kepada keterpisahan dengan Allah. Manusia kehilangan “kemuliaan Allah” dan upah dari dosa itu adalah maut. Namun Allah tidak menginginkan anak-anakNya hidup dalam dosa dan menerima hukuman kekal. Oleh karena itu Allah memberikan kasih karuniaNya dalam diri Yesus Kristus yang melayakkan manusia kembali menerima “kemuliaan Allah” dan “janji keselamatan” dari Allah (Roma 6 : 23). Bukan itu saja, dosa mengawali kerusakan ciptaan Allah yang awalnya sungguh amat baik.

2. ISI

Surat Paulus kepada jemaat Efesus mengingatkan jemaat tentang kasih karunia yang telah Allah nyatakan dalam diri Yesus Kristus bagi setiap orang percaya. Hal ini sangat penting dipahami dan dihidupi oleh jemaat Efesus ditengah perkembangan kota Efesus, dimana pada waktu itu kota ini adalah kota yang cukup besar dan terkenal, perkembangannya begitu pesat khususnya di bidang kebudayaan dan keagamaan. Salah satu perkembangan keagamaan yang paling mempengaruhi kehidupan jemaat adalah penyembahan dewi Artemis. Kuil-kuil dewi Artemis berdiri dengan megahnya. Kehadiran Paulus dan Injil yang ia kabarkan membuat ia mendapat pertentangan dari orang-orang Efesus sehingga ia harus meninggalkan kota itu (Kis. 19 :21 – 41). Dengan mengingatkan kembali tentang kasih karunia dari Allah, Paulus menghendaki agar jemaat hidup dalam iman dan pengharapan kepada Allah, tidak terpengaruh dengan budaya atau agama yang bertentangan dengan Injil serta tetap mampu hidup menunjukkan sikap dan karakter sebagai orang-orang yang telah diselamatkan oleh kasih karunia Allah.

Ada beberapa hal yang ditekankan Paulus dalam Efesus 2 : 1 – 10 yaitu :

  1. Ayat 1 – 3 : Siapa Kita Dahulu

Dosa adalah “pelanggaran terhadap hukum atau standart yang ditetapkan Allah. Kita hidup menuruti keinginan daging dan dunia. Oleh karena dosa dan pelanggaran, kita semua sudah mati. Mati dalam artian : 1). Kematian Rohani yang ditandai dengan terputusnya/ terpisahnya hubungan denga nallah; 2). Kematian Jasmani yang ditandai dengan terpisahnya tubuh dan jiwa/roh. Dan jika kita tidak berubah maka kematian kekal akan menyertainya. Kematian kekal dimana manusia akan dibuang ke neraka, yaitu tempat siksaan yang akhirnya membawa manusia jauh dari hadirat Allah untuk selama-lamanya (Mat. 10 : 28; 25 : 41; Ibrani 10 : 31; Wahyu 14 : 11; 20 : 11 – 15).

  1. Ayat 4 – 7 : Oleh Kasih Karunia Allah

Kita yang dulunya mati oleh karena dosa, kembali menerima kehidupan dalam anugerah dan kasih Allah. Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi jaminan kehidupan dan keselamatan bagi orang percaya. Sama seperti Kristus yang mati, kita juga mati terhadap dosa dan seperti Kristus dibangkitkan, kita juga dibangkitkan sebagai manusia baru sehingga kita menerima kehidupan yang kekal dan kemuliaan Bersama dengan Kristus di Sorga (ay. 6). Dalam kasih karunia Allah dan oleh iman kepada Yesus Kristus kita diselamatkan dari dosa dan kematian kekal.

  1. Ayat 8 – 9 : Bukan Karena Hasil Usaha

Kasih Karunia adalah sesuatu yang kita terima dariAAllah bukan karena hasil usaha atau kelayakan kita untuk menerimanya. Tetapi semata-mata karena Allah begitu menyayangi kita. Allah tidak menginginkan anak-anaknya mati oleh karena dosa sehingga Allah sendiri berinisiatif untuk menyelamatkan kita dengan memberikan anakNya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus (Yoh. 3 : 16). Oleh karena itu tidaklah layak dan pantas jikalau ada yang memegahkan diri dalam kehidupan ini. Kita semua adalah manusia berdosa, yang berada pada titik terendah namun oleh karena kasih karunia Allah kita dilayakkanNya menerima kemuliaan.

  1. Ayat 10 : Hidup Melakukan Pekerjaan Baik

Menerima kasih karunia dengan cuma-cuma bukan berarti kita bisa hidup seenaknya, bukan berarti kita bisa terus menerus hidup dalam hawa nafsu duniawi, menuruti keinginan daging, pikiran yang Jahar dan sikap hidup yang tidak berkenan bagi Allah. Namun sebaliknya, Allah menghendaki setiap orang Kristen menyadari keberadaanNya sebagai orang yang telah diselamatkan untuk hidup dalam iman dan pengharapan kepada Allah, hidup kudus dan benar sesuai firman dan kehendakNya.

3. REFLEKSI

1. Allah telah menyatakan kasih karunianya bagi kita, oleh karena itu sudah sepantasnya dan seharusnya kita menghargai kasih karunia itu dengan hidup dalam kehendakNya. Hidup dalam kesetiaan dan ketaatan; hidup dalam kebenaran dan kekudusan; meninggalkan semua hal-hal yang tidak berkenan bagi Allah; hidup dalam Kristus (2 Kor. 5 : 17 “ Jadi siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru : yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.)

2. Kita mau hidup sebagai orang fasik atau orang benar adalah pilihan kita. Namun orang benar akan hidup Bahagia dan menikmati hasil pekerjaannya dan orang fasik akan mendapat malapetaka dan celaka karena mereka akan diperlakukan menurut perbuatannya (Invocatio). (orang fasik = orang yang tahu kebenaran namun tidak mau hidup dalam kebenaran, tahu hal yang baik namun tidak melakukannya; orang yang tidak mau hidup dalam “aturan” Allah.

3. Orang-orang yang telah diselamatkan oleh Allah adalah milik Allah. Sebagai milikNya, Allah mempersiapkan dan menghendaki kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik dalam setiap keberadaan dan kehadiran kita (hidup bagi Allah). Kehadiran kita harus mampu menyatakan kasih karunia Allah bagi sesama kita, lingkungan dan bagi seluruh ciptaan. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan untuk melakukan perbuatan baik.

 

                                                                       Pdt. Elba Pranata Barus, S.Th

                                                                        GBKP Rg Bandung Timur

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANAN GBKP TAHUN 2022, WARI V

THEMA : TUTUS IBAS NGELAI

INVOCATIO : Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1:1)

BACAAN : Kejadian 41: 46-49

KHOTBAH : Matius 25:21-30

 

Syalom, jemaat Tuhan yang terkasih,
Suatu kali, ada seorang dokter muda yang diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk membantu sebuah proses operasi. Bagi sang dokter muda, ini adalah proses operasi pertama dimana dia turut mengambil bagian di dalamnya. Ketika salah seorang dokter senior sedang bekerja dan menyelesaikan proses operasi tersebut, sang dokter muda pun angkat bicara dan melapor kepada dokter seniornya. Kepada dokter senior ia mengatakan bahwa dokter senior tersebut telah menggunakan 12 lembar kain kasa dalam operasi yang mereka kerjakan, tetapi ketika operasi hampir selesai dan kasa tersebut dihitung kembali, dokter muda itu hanya mendapati 11 lembar kain kasa saja. Dengan kasar dokter senior pun menjawab bahwa ia telah mengeluarkan semua kain kasa yang digunakan pada tubuh pasien. Sang dokter muda pun bersikeras kain kasa itu hilang satu, tetapi seniornya menjawab; ia akan melanjutkan tugasnya untuk menjahit dan menutup luka operasi pasien. Dengan mata menyala-nyala, dokter muda pun berkata: “Anda tidak boleh melakukannya, pikirkan nyawa pasien!” Mendengar perkataan dan kesungguhannya, dokter senior pun tersenyum sambil mengatakan: “Engkau telah lulus ujian.” Dokter senior pun berbicara sambil mengangkat kakinya, dan ditunjukkannya kain kasa ke-duabelas, yang dengan sengaja ia jatuhkan ke lantai. Ternyata dalam seluruh proses operasi yang mereka jalani hari itu, sang dokter senior tengah menguji sang dokter muda untuk melihat kemajuan, serta tanggung jawab baik etis dan moral sang dokter muda sebagai seorang dokter yang dapat dipercaya.

Jemaat terkasih, lewat perumpamaan tentang talenta pada Matius 25:14-30 kita juga diajak untuk melihat siapa diri kita di hadapan Tuhan; apakah kita hamba-hambaNya yang setia, rajin dan dapat dipercaya ataukah ketika IA datang IA mendapati kita menjadi hamba-hamba yang malas dan tidak bertanggungjawab. Perikop ini dibuka dengan sebuah perbandingan yang ingin menunjukkan tentang hal Kerajaan Sorga. Kerajaan Sorga dibandingkan dengan seorang tuan yang memanggil 3 orang hambanya dan mempercayakan hartanya untuk mereka kelola dalam jumlah yang berbeda sementara sang tuan pergi ke luar negeri. Talenta sendiri sebenarnya merupakan timbangan/ ukuran yang dipakai untuk menimbang sesuatu yang berharga. Dalam kisah ini 1 talenta adalah 6000 dinar; dimana 1 dinar adalah banyak upah yang diterima oleh seorang pekerja dalam satu hari. Bila kita konversikan kepada konteks kita; di Kupang misalnya upah minimal pekerja per hari adalah Rp. 67.000. Bila jumah tersebut dikalikan dengan 1 talenta berarti hasil yang didapat kurang lebih Rp. 402.000.000. Mengikuti perhitungan ini, berarti hamba yang menerima 2 talenta menggandakannya menjadi 4 talenta berarti total memiliki 1,6 miliar rupiah sementara hamba yang menerima 5 talenta dan menghasilkan 5 talenta lagi total memiliki kurang lebih 4 miliar rupiah. Dari jumlah ini kita bisa melihat besarnya “modal” yang diberikan oleh sang tuan kepada para hambanya. Sikap yang ditunjukkan para hamba itu menjadi kompas bagi kita untuk mengembangkan sikap dan nilai beriman yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Nilai-nilai apa sajakah itu?
1. Hamba yang menerima dua talenta dan lima talenta “bersegera” melakukan tugasnya untuk mengelola talenta yang dipercayakan kepadanya tanpa menunda-nunda. Dalam kisah ini kita melihat bagaimana sang tuan tidak mempersoalkan besarnya hasil yang didapat, tetapi yang dilihatnya adalah kemauan untuk mengerjakan talenta itu. Tentu dalam mengelola talenta yang begitu besar ada banyak kendala yang ditemui,bahkan tidak menutup kemungkinan mereka bisa saja mengalami kerugian. Meski demikian mereka tetap mengerjakan bagian yang dipercayakan kepada mereka dalam kesungguhan. Dalam hal ini kita belajar bahwa dalam kesungguhan dan tidak menunda-nunda, pekerjaan dan pelayanan kita niscaya memberikan buah yang baik.
2. Sikap berikutnya adalah kebaikan. Para hamba yang mengerjakan bagiannya mendapatkan pujian hamba yang baik (agatos) dan setia (pistos). Dalam hal ini kita dapat melihat kebaikan dan kesetiaan mereka dalam cara mereka mengelola talenta yang ada pada mereka. Mereka bekerja dengan menyadari bahwa talenta itu sifatnya bukan hak milik, melainkan pemberian yang perlu mereka kelola; dan dengan demikian mereka bertanggungjawab kepada pemilik/ sang tuan atas pengelolaan tersebut. Bila kita hubungkan kepada thema Pekan Penatalayanan kita yakni membagikan kabar sukacita lewat seluruh ciptaan, maka sesuai juga dengan Invocatio, kita perlu menyadari alam semesta ini adalah milik Allah Sang Pencipta. Kita bukan pemilik, melainkan pengelola yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sikap kita atas semesta ini kepada Allah sang Pemilik segalanya.
3. Sikap ketundukan kepada Tuhan yang telah memberikan talenta dan kepercayaan kepada kita. Dalam bacaan pertama kita melihat bagaiman sikap Yusuf yang bekerja keras atas kepercayaan yang diberikan Raja Mesir (Firaun) kepadanya. Tidak jarang kita temui situasi dimana seseorang telah memperoleh suatu jabatan dan ia menjadi lupa diri dan lupa tujuan untuk apa ia ditempatkan dalam sebuah kedudukan. Tidak demikian halnya dengan Yusuf, ia tetap mengerjakan tugasnya dengan total dan kreatif. Hamba ketiga dalam perikop kita tidak mengembangkan talenta yang diberikan padanya karena didorong oleh kekerasan hati dan tidak mau tunduk kepada kedaulatan tuannya. Walaupun ia tahu apa sebenarnya yang harus ia perbuat, ia berdiam diri dan memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Karena itulah kesengajaan untuk berdiam diri dan “membekukan” talenta yang diberikan di mata sang tuan adalah kejahatan dan kemalasan. Kesengajaan untuk tidak mau bertumbuh dan mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan adalah dosa di mata Tuhan. Injil Matius dalam pasal 25 dengan tegas sudah mengingatkan kita, untuk menantikan kedatangan Tuhan kita tidak hanya cukup berjaga-jaga (bdk ay. 1-13), tetapi juga harus mengerjakan dan melakukan hal-hal yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Jemaat yang terkasih, kita dipanggil untuk menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki kesetiaan dalam pelayanan. Memang tidak mudah mengembangkan tiga sikap yang tersebut di atas, tetapi kita juga hendaknya tidak lupa bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita “modal/ talenta” dan yang lebih besar dari itu yakni kepercayaan kepada kita untuk mengelola segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita. Bukan semata-mata soal besar-kecilnya pemberian Tuhan kepada kita karena itu tergantung dari kemampuan kita menerimanya. Yang menjadi penekanan adalah bagaimana Tuhan mempercayai kita untuk mengelola dan mengembangkan pemberianNya. Sebagai anak-anak Tuhan yang menyadari segala sesuatu yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan, maka kita perlu benar-benar mengerti akan harga sebuah kepercayaan. Tuhan tidak pernah salah memberikan/ mempercayakan sesuatu kepada kita sebab IA tahu betul dan mengenal siapa kita.

Dalam setiap pilihan dan perbuatan pasti ada konsekuensinya. Bagi mereka yang setia, Tuhan akan memberian pujian dan Tuhan akan mempercayakan pekerjaan yang lebih besar lagi, yakni kita ikut berbagi kebahagiaan dengan sang Tuan. Sementara konsekuensi bagi mereka yang tidak setia, Tuhan akan mengambil talenta yang sudah IA berikan dan IA akan memberikannya kepada orang lain yang mau bertanggungjawab. Dan kepada mereka yang tidak setia yang tersisa hanyalah dicampakkan dalam kegelapan yang paling gelap, disana ada ratap dan kertak gigi. Mari kita bersama memeriksa diri; apa saja yang telah diberikan Tuhan dalam hidup kita? Sudahkah kita mengerjakan dan mengelolanya dalam ketundukan kepada Tuhan dan penuh dengan kesungguhan?

Pdt. Eden P. Funu-Tarigan, S.Si (Teol)
GBKP Perpulungen Kupang

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD