SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025 WARI VII, MATIUS 5:9

HARI KE 7

“Erbahan Perdamen”

Matius 5:9

 

Pengantar

Pada kesempatan ini, kita akan merenungkan kata-kata Yesus yang terdapat dalam Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." Ayat ini adalah bagian dari ajaran Yesus yang sangat penting dalam Khotbah di Bukit, di mana Yesus tidak hanya mengajarkan mengenai berkat bagi mereka yang membawa damai, tetapi juga mengungkapkan identitas dan panggilan kita sebagai anak-anak Allah yang hidup dalam dan membawa damai. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering dihadapkan dengan ketegangan, konflik, dan perpecahan, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam masyarakat. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama merenungkan dengan lebih dalam bagaimana kita dapat hidup sebagai pembawa damai, mulai dari memahami Allah sebagai sumber damai kita, hingga mengupayakan perdamaian dalam diri kita sendiri, dan akhirnya menjadi agen perdamaian yang aktif di dunia ini.

Isi Kotbah

1. Allah adalah sumber damai kita yang sejati

Ketika Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai," kita diingatkan bahwa damai sejati hanya dapat ditemukan dalam Allah, yang adalah sumber dari segala kedamaian. Dalam banyak bagian Alkitab, Allah disebut sebagai "Allah yang mendamaikan" (2Korintus 5:19) dan Yesus sendiri disebut sebagai "Prinsip Damai" (Efesus 2:14). Dalam kehidupan kita, damai bukanlah sesuatu yang bisa kita ciptakan dengan usaha atau kekuatan sendiri, damai sejati adalah pemberian Allah melalui karya keselamatan-Nya dalam Yesus Kristus. Damai ini bukan hanya sebuah ketenangan sementara, tetapi sebuah keadaan yang melampaui segala pengertian manusiawi, damai yang hadir di dalam hati kita karena kita berdamai dengan Allah melalui pengampunan-Nya yang diberikan kepada kita melalui salib Kristus.

Sebagai umat yang telah diperdamaikan dengan Allah melalui karya salib Kristus, kita dipanggil untuk menjadi anak-anak Allah yang mencerminkan damai tersebut dalam setiap aspek kehidupan kita. Dalam hal ini, menjadi anak Allah bukan hanya berarti memperoleh status sebagai anak Tuhan, tetapi juga berarti kita dipanggil untuk meneladani sifat-sifat Allah yang penuh kasih, pengampunan, dan kedamaian. Ketika kita mengalami damai Allah yang melampaui segala akal ini dalam hidup kita, kita pun diberi kuasa untuk membawa damai itu ke dalam hubungan kita dengan sesama, menciptakan keharmonisan di tengah dunia yang penuh dengan ketegangan dan perpecahan.

  • Menjadi pembawa damai

Berarti kita tidak hanya menerima damai tersebut untuk diri kita sendiri, tetapi juga menjadi saluran damai Allah untuk disampaikan kepada orang lain. Kita sebagai orang percaya harus menjadi cerminan untuk orang sekitar kita, peperti halnya Kristus yang membawa damai melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, kita dipanggil untuk membawa damai dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam komunitas yang lebih luas.

2. Berdamai dengan Diri Sendiri

  • Mengalami damai dalam diri kita sendiri

Sebelum kita dapat membawa damai kepada orang lain, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri. Dalam banyak aspek kehidupan kita, baik itu terkait dengan masa lalu, kegagalan, ataupun konflik batin, sering kali kita mengalami kesulitan untuk merasakan kedamaian. Kita mungkin terbelenggu oleh rasa bersalah, amarah, atau kekecewaan yang membelenggu hati dan pikiran kita. Untuk itu, kita perlu mengalami kedamaian dengan diri kita sendiri, yang hanya dapat datang melalui pengampunan dan rekonsiliasi dengan Allah.

Berdamai dengan diri sendiri berarti kita menerima kenyataan bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna, tetapi dalam kasih karunia Tuhan kita diselamatkan dan diperdamaikan. Pengampunan Allah yang kita terima dalam Kristus memungkinkan kita untuk melepaskan rasa bersalah, mengampuni diri sendiri, dan menerima damai yang datang dari-Nya. Ketika kita berdamai dengan diri kita sendiri, kita tidak lagi dibebani oleh masa lalu atau ketakutan akan masa depan, melainkan hidup dalam damai sejahtera yang diberikan oleh Allah. Dalam hal ini, perdamaian batin yang kita alami menjadi landasan yang kuat untuk dapat membawa damai kepada orang lain.

Damai dengan diri sendiri adalah hasil dari pemulihan yang Allah lakukan dalam hidup kita. Ketika kita berakar dalam pengampunan Kristus dan menerima damai-Nya, kita akan mengalami kebebasan dari segala kecemasan dan ketegangan dalam hidup kita. Hanya dengan berdamai dengan diri kita sendiri kita dapat menjadi pembawa damai yang sejati bagi orang lain.

3. Menjadi Agen Perdamaian: Mewujudkan Damai di Dunia yang Rusak

  • Panggilan untuk menjadi agen perdamaian di dunia ini

Sebagai anak-anak Allah yang telah menerima damai-Nya, kita tidak hanya dipanggil untuk hidup dalam damai, tetapi juga untuk menjadi agen perdamaian di dunia ini. Dunia kita penuh dengan konflik, ketegangan, dan ketidakadilan. Namun, Yesus menantang kita untuk tidak terjebak dalam kekerasan, kebencian, atau balas dendam, melainkan untuk menjadi pembawa damai yang aktif. Yesus sendiri memberikan teladan dengan cara hidup-Nya yang penuh dengan pengampunan dan rekonsiliasi, bahkan ketika Dia dihina dan dianiaya.

Dalam Roma 12:18, Rasul Paulus menasihati kita, "Sedapat-dapatnya, jika itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang." Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah untuk membawa damai di tempat-tempat yang terpecah, di antara orang-orang yang saling bermusuhan, dan dalam segala aspek kehidupan kita. Menjadi agen perdamaian berarti kita tidak hanya menghindari konflik, tetapi juga aktif menciptakan dan memulihkan kedamaian. Ini mungkin berarti kita harus menjadi orang yang pertama untuk mengampuni, menjadi pendamai antara yang bertikai, atau mengedepankan kebenaran dan keadilan yang membawa kedamaian bagi semua pihak.

  • Agen perdamaian

Juga berarti kita bekerja untuk menciptakan keadilan sosial dan kedamaian di dunia ini, memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas, dan mengusahakan rekonsiliasi di antara kelompok-kelompok yang terpecah. Hal ini adalah panggilan kita sebagai warga kerajaan Allah untuk membawa nilai-nilai kerajaan Allah, yang adalah kerajaan damai, ke dalam dunia ini. Kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam, untuk mewujudkan kedamaian Allah di tengah dunia yang hancur ini.

Isi Invocatio

Yesaya 52:7a

Matius 5:9 mengatakan, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah," yang menegaskan panggilan kita sebagai pembawa damai di dunia ini. Yesaya 52:7a, di sisi lain, berkata, "Betapa indahnya kelapangan mereka yang membawa berita baik, yang memberitakan keselamatan," yang mengacu pada orang yang menyampaikan kabar keselamatan dan damai dari Tuhan.

Kaitannya adalah bahwa kedamaian yang dimaksud dalam Matius 5:9 adalah damai yang berasal dari keselamatan Allah yang diumumkan dalam Yesaya 52:7a. Mereka yang membawa damai adalah mereka yang mengabarkan berita baik bahwa Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan memerintah sebagai Raja. Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk menyampaikan damai ini melalui Kristus—damai yang tidak hanya mengakhiri pertentangan manusia, tetapi mendamaikan kita dengan Allah dan satu sama lain. Dengan demikian, membawa damai berarti menjadi pembawa kabar keselamatan, seperti yang digambarkan dalam Yesaya 52:7a, dan kita disebut anak-anak Allah karena kita mewartakan damai yang membawa keselamatan dan pengharapan kepada dunia. Sebagai pembawa damai, kita tidak hanya mencari kedamaian pribadi, tetapi juga berperan aktif dalam membawa rekonsiliasi dan damai yang datang dari Tuhan ke dunia yang penuh konflik. Singkatnya, Yesaya 52:7a dan Matius 5:9 bersama-sama menekankan peran kita sebagai pembawa damai, yang mengabarkan keselamatan Allah dan menghidupi damai-Nya dalam setiap aspek hidup kita.

Kesimpulan

Sering kali kita hanya mengejar damai duniawi, tanpa memikirkan damai yang sebenarnya datang dari Allah sendiri. Harta, tahta, jabatan yang menjadi poin-poin kedamaian dikehidupan kita bukan bersifat permanen, semuanya akan kita tinggalkan, tapi kedamaian yang dari padaNya bersifat kekal.

Panggilan Yesus dalam Matius 5:9 untuk menjadi pembawa damai bukanlah panggilan yang mudah, tetapi juga merupakan panggilan yang sangat mulia. Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk mengalami damai yang sejati yang berasal dari Allah sendiri, dan untuk menjadi saluran damai itu dalam setiap hubungan kita. Namun, untuk menjadi pembawa damai yang sejati, kita harus terlebih dahulu berdamai dengan diri kita sendiri, menerima pengampunan dan kedamaian yang Allah berikan kepada kita. Dari kedamaian yang kita alami, kita dipanggil untuk menjadi agen perdamaian yang aktif di dunia ini di tengah konflik, ketegangan, dan ketidakadilan, kita menjadi pembawa damai yang mewartakan kerajaan Allah.

Mari kita berdoa agar Tuhan memberi kita hati yang penuh damai, dan memberikan keberanian serta hikmat untuk membawa damai dalam setiap aspek hidup kita. Semoga kita, sebagai anak-anak Allah, dapat membawa damai sejati ke tengah dunia ini yang sangat membutuhkan-Nya. God Bless.

                                                                                                           

Vic. Brima Suryono Purba

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025 WARI VI, ROMA 15:14-21

HARI KE-6

Invocatio      : “IberekenNa perukuren si bujur man kalak si dahinna ngerunggui, janah kinimbisanNa man kalak si ertugas engkawali pintu-pintu gerbang kuta i bas serangen kalak nari” (Jesaya 28:6).

Ogen : 1 Kronika 13 : 1 – 4

Khotbah : Roma 15 : 14 – 21

Tema : “Mehuli, Erpemeteh, Dingen Ngasup Siajar-Ajaren”

 

Kata Perlebe

Shalom ras mejuahjuah man banta kerina. Puji Tuhan dingen si kataken bujur man Dibata Bapa si nggo naruhken kita seh ku wari peenemken Pekan Penatalayanenta tahun enda. Tema umum Kebaktin Pekan Penatalayanenta eme “Erbahan Perdamen.” Tema enda nggo si pelajari ras si pegejapken bas wari pemena. Perdamen la banci terjeng cakap ras sura-sura ngenca. Perdamen labo mungkin terjadi ras inanami adi terjeng ranan ngenca. Perdamen terjadi adi ilakoken, iciptaken ras iperjuangken. Kalak si erbahan perdamen eme kalak si dewasa perukuren ras kinitekenna. Kalak si dewasa nge si ngasup rukur, ngukuri ras erbahan perdamen. Kalak si medanak perukurenna labo ngasup erbahan perdamen. Emaka seh kal ndeherna hubungen perdamen ras kedewasan. Perdamen erkawiten kal ras kedewasan. Bas wari peenemken enda si ukuri ras si siksiki tole uga gelah kita ngasup erbahan perdamen.

Isi/ Penjelasen

Arah Kata Dibata si jadi khotbahta Roma 15:14-21, ibukaken alu tangkas kerna kepribadian rasul Paulus. La lit si jumpai bas nats si deban si lebih jelas ras tangkas kerna kepribadian Paulus asangken bas perikop enda. Bas nats khotbah ngerana kerna kepentaren kedewasaan Paulus. Kedewasan Paulus teridah ibas erbage-bage dampar. Pemena, Paulus pentar makeken kata-kata si payo ras pas. Aminna tangkas iidah Paulus kelepaken si lit bas perpulungen Roma, tapi Paulus labo menegur apai ka nalahi ras ngerawai. Paulus la ndaram-ndarami kesalahen perpulungen. Justru isapana perpulungen e alu kata ‘O senina-seninaku.’ Jenari isingetken Paulus maka igejapkenna melala kal si mehuli ibas perpulungen. Perpulungen Roma dem ibas erbage-bage pemeteh. Pemeteh e ngasup mabai kalak si tek siajar-ajaren (ayat 15). Paulus ngidah kalak banci lebih bertumbuh ras berkembang ku si terulin. Alu kata si deban, Paulus ngidah kalak secara positif. Peduaken, Kedewasaan Paulus teridah arah ia meteruk ukur. Paulus la mujiken ras mpermuliaken bana. Sada-sadana si iakui Paulus si jadi kemulianna eme bahwa ia jadi pejabat (Indonesia: pelayan) Kristus Jesus. Si enda pe jadi erkiteken lias ate Dibata si nggo ibereken Dibata man bana (ayat 15-16). Peteluken, Paulus ngidah dirina sebage sada alat ibas tan Kristus. Kemegahen Paulus labo pendahin ras pencapaianna tapi kinisersadanna ras Kristus erkiteken pendahinna guna Dibata. Paulus la nggit ras ngerana kerna kai si nggo banci ibahanna man kalak si labo Jahudi. Tapi kai si nggo ibahan Kristus arah ia bas mberitaken Berita Si Meriah man kalak e ngenca i pang nuratkensa man perpulungen Roma. Kristus nge si erdahin ibas ia subuk arah kata, perbahanen, tanda-tanda sengget si mbelin bagepe arah gegeh Kesah Si Badia bas niari kerina daerah lako mpeseh Berita Si Meriah kerna Jesus alu serser (ayat 17-19). Sipeempatken, sura-sura Paulus si mbelinna eme jadi perintis (pelopor). Paulus mberitaken Berita Si Meriah ku ingan ija lenga pernah kalak megi gelar Jesus Kristus. Alu kata si deban, Paulus lawes erberita ku ingan si lenga pernah seh perberita si meriah si deban ku je. Si enda guna nggenepi nubuat Kata Dibata bas Jesaya 52:15 (ayat 20-21).      

Arah ogenta 1 Kronika 13:1-4 ituriken uga raja Daud runggu ras kerina pempimpin 100 ras pemimpin 100 i Israel. Ulih runggu e imomokenna man kerina bangsa Israel gelah adi payo akapna kerina dingen ersada kerina arihna gelah ilegi perpadanen i Kiryat Jearim nari gelah ibaba ku Jerusalem. Payo iakap bangsa e janah ersada arihna kerina emaka ilegi me Peti e. Teridah i jenda kedewasan ras kepentaren Daud. Daud la bahanina saja kai si akapna mehuli ras kai sura-surana. Daud la erdalan si sada. Daud pe la muat keputusen sisada tapi irunggukenna dingen iarihkenna ras-ras. Keputusen bas runggu ras arih me si idalankenna. Arah invocatio, icidahken sada nubuat maka ibas sada paksa reh me TUHAN lako mereken perukuren si bujur man kalak si dahinna ngerunggui. Tole TUHAN mereken kinimbisanNa man kalak si ertugas engkawali pintu-pintu gerbang kuta. Dibata mereken man sesekalak sue ras dahin ntah pe tugasna (Jesaya 28:6).

Pengkenaina ras Kata Penutup

  • Sasaren pelayanen gerejata GBKP Tahun 2025 eme “DEWASA MENERIMA PERBEDAAN.” Si eteh maka kinierbagen e la terpersoken. Kinierbagen e kinata kegeluhen. La lit kalak si tuhu-tuhu seri/ bali 100%. Kalak si rindu (kembar) kin pe labo seri, apai ka lain nande lain bapa, lain kuta, beru/ merga, suku, ras si debanna. Kita sada ras si debanna pelain-lain ibas perukuren, pemeteh, pengkebet/ pendahin, sekolah, talenta, kiniliten, kengasupen ras seterusna. Sada ibas keseragaman metahat, tapi sada ras ersada ibas kinierbagen e la metahat. Guna si perlu kal kedewasaan. Kedewasanta erbahanca maka ngasup kita ngaloken, berdampingan ras ersada ibas kinierbagen.
  • Tema: “Mehuli, Erpemeteh, Dingen Ngasup Siajar-ajaren.” Ola kita meter puas nangdangi biak ras karakterta si lit. Ola ngadi bertumbuh, tapi teruslah kita bertumbuh ku bas biak ras orat nggeluh si terulin. Si usihlah perukuren Kristus Jesus; si ukuri kai si mereken kiniulin man kalak si deban (Pilipi 2:5; Roma 15:2, 3). Ertambah-tambahnalah kiniulinta, pemetehta ras kengasupenta lako siajar-ajaren. Teluna biak enda perlu ras penting lit ibas kita. Payo ras tuhu maka mehuli (integritas) perlu ras penting. Tapi mehuli saja la kap bias. Perlu si tambahken ku bas biak mehuli e pemeteh (pengetahun, ilmu) eme pemeteh kerna Kata Dibata, pemeteh si mehuli ras si ngena ate Dibata dingen manusia. Jenari pemeteh enda mabai ras mpengasup kita siajar-ajaren (bersinergi) sada ras si debanna (bdk. 2 Petrus 1:5-9).  
  • Biak mehuli, erpemeteh, dingen ngasup siajar-ajaren si lit bas kita si mpengasup kita ngidah kalak si deban alu mehuli. Kalak si la mehuli labo ngasup kita kalak si deban mehuli. Kalak si la mehuli labo ngasup ngidah ras ngakui kiniulin kalak si deban. Nina Maxwell, “Kita tidak melihat orang lain apa adanya, tetapi berdasarkan apa yang kita lihat dengan diri kita.” Emaka adi ateta gelah ngasup kita ngidah kalak si deban mehuli, ngakui kiniulin kalak, dirita lebe si pekena, dirita lebe si pehuli. Kalak si ngidah kerina alu perukuren negatif, uga banci ngidah kalak positif. Alu perukuren positif me maka ngasup kita ngidah kalak si deban pe positif.
  • Pedauhlah biak meganjang ukur ras sombong. Kiniganjangen ukur ras kesombongen erbahanca kita siakap si beluhta/ si jabona. Minter kita meremehken/ menyepeleken kalak si deban. Enda me erbahanca la kita ngasup si ajar-ajaren, kita saja ateta ngerana, ngajar ras ngajari. Sebeluh-beluhna sesekalak, pasti perlu ia ajaren, masuken, sharing ras kalak si deban.
  • Agenda si ndeherna bas runggunta eme Musyawarah Warga Sidi Runggun (MWSR). Kenca si e seh kita ku agenda sinodal eme Sidang Majelis Sinode (SMS). Si idahlah bahwa dahin enda dahinta ras, labo dahin serayan Tuhan saja. Kalak si dewasa nge si ngasup ngidah dahin-dahin Tuhan e sebage tanggung jawabna. Kalak si dewasa nge si ngasup ngidah dahin-dahin e baginna. Kalak si dewasa lit ibas ia rasa memiliki (sense of belonging,& sense of responsibility). Sebalikna kalak si medanak, la ia erdiate ras lepas tan ia nangdangi dahin-dahin si lit bas Gereja.

Pdt. Juris Tarigan, MTh;

GBKP Rg Bogor

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025, 1 KORINTUS 3:1-11

HARI KE 5

Invocatio : 1 Korintus 14:20

O g e n  : Mazmur 133:1-3

Khotbah  : 1 Korintus 3:1-11

T e m a : Kita Bangunen Dibata kap /Kita adalah bangunan Allah

Teks Bacaan Invocatio: 1 Korintus 14:20

“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”

 

Penjelasan teks invocatio:

Rasul Paulus menasihati jemaat Korintus untuk bersikap dewasa (menggunakan kecerdasan mereka secara penuh) dalam pemikiran mereka, terutama dalam hal memahami ajaran-ajaran dan dalam mengamalkan iman. Namun, mereka diminta untuk "seperti anak-anak dalam kejahatan," yang artinya agar mereka tetap tidak berdosa, tulus, dan murni.

Rasul Paulus ingin mereka dewasa dalam penilaian dan kebijaksanaan, tidak mudah tergoda atau terseret oleh emosi, kebingungan, atau egoisme, terutama dalam konteks menggunakan karunia rohani, seperti bahasa roh dan bernubuat, yang banyak diperdebatkan di gereja mereka.

Ilustrasi

Sekelompok anak-anak sedang bertengkar karena masing-masing ingin mainan yang sama.

Ketika seorang dewasa datang, ia melihat situasinya dari sudut pandang yang berbeda; ia lebih bijaksana, bisa memahami perasaan dan keinginan anak-anak, dan bisa memberi solusi yang adil.

Demikian juga dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu memiliki hati yang murni dan tidak suka bertengkar (seperti anak-anak yang suka bertengkar), tetapi juga perlu kebijaksanaan dan pengertian seperti orang dewasa agar bisa hidup dengan damai dan saling membangun.


Penjelasan Teks Bacaan O g e n: Mazmur 133:1-3

Mazmur ini adalah nyanyian yang mengungkapkan sukacita dari persatuan dan kerukunan di antara umat Tuhan. Pemazmur, Daud, mengilustrasikan betapa berharga dan indahnya kerukunan itu dengan dua gambaran yang mendalam:

  • Minyak yang di kepala Harun – Minyak yang dituangkan ke atas kepala Harun dalam upacara pentahbisan mengalir hingga ke janggutnya dan turun ke jubahnya, melambangkan kesucian, berkat, dan pengudusan.

Ini menggambarkan bagaimana kerukunan yang sejati membawa aliran berkat dari Allah, meliputi seluruh komunitas seperti minyak yang memenuhi setiap bagian tubuh.

  • Embun dari gunung Hermon ke Sion – Embun Hermon terkenal menyegarkan dan subur, yang membawa kehidupan dan kesuburan bagi tanah. Gambaran ini mengingatkan kita bahwa kerukunan dalam jemaat atau keluarga menghasilkan kehidupan, sukacita, dan berkat dari Allah, memberikan kesegaran dan kehidupan yang sejati.

Ilustrasi

Sebuah taman yang terdiri dari berbagai jenis tanaman. Setiap tanaman mungkin berbeda – tinggi atau rendah, berbunga atau berbuah – tetapi mereka tumbuh bersama, saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain. Tanah yang subur dan air yang cukup membuat semuanya tumbuh dengan baik, membentuk pemandangan yang indah.

Begitu juga, dalam keluarga, jemaat, atau komunitas, jika setiap orang hidup dalam damai, saling menghormati, dan bekerja sama, mereka akan "berbunga" dan "berbuah" bersama, dan Tuhan memberkati kebersamaan itu.

Kerukunan ini bukan hanya indah secara lahiriah, tetapi juga mengundang berkat dari Tuhan yang memberikan kehidupan dan kesejahteraan bagi semua yang ada di dalamnya.

Penjelasan Teks Bacaan Khotbah: 1 Korintus 3:1-11

Rasul Paulus menasihati jemaat Korintus mengenai pentingnya kedewasaan rohani dan kebersamaan dalam membangun gereja

  • Ayat 1-3: Paulus menyebut jemaat Korintus sebagai "manusia duniawi" atau "manusia jasmani" karena masih bersikap kekanak-kanakan secara rohani. Mereka hidup dalam kecemburuan, pertengkaran, dan persaingan, yang menunjukkan kedangkalan iman dan ketidakdewasaan rohani mereka.
  • Ayat 4-5: Paulus menyatakan bahwa perselisihan mengenai pemimpin (misalnya, menganggap diri sebagai pengikut Paulus atau Apolos) adalah tanda lain dari keduniawian. Paulus dan Apolos hanya pelayan-pelayan Tuhan, dan yang penting bukanlah mereka, tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan.
  • Ayat 6-9: Paulus menjelaskan perannya dan peran Apolos dengan ilustrasi pertanian. Paulus menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang membuat pertumbuhan. Ini menekankan bahwa hanya Allah yang dapat memberi pertumbuhan rohani; manusia hanya alat di tangan-Nya.
  • Ayat 10-11: Paulus menggunakan ilustrasi lain, yaitu pembangunan. Ia meletakkan dasar sebagai ahli bangunan (fondasi yang kokoh), dan dasar itu adalah Yesus Kristus. Orang lain mungkin membangun di atas fondasi itu, tetapi tidak ada dasar lain yang bisa diletakkan selain Kristus.

Pesan Utama

  • Pentingnya Kedewasaan Rohani:

Paulus mengajak jemaat untuk bertumbuh secara rohani, tidak tinggal pada tahap "bayi rohani" yang cenderung pada perselisihan dan kecemburuan.

Kedewasaan iman ditandai oleh kerendahan hati, saling membangun, dan fokus kepada Kristus, bukan kepada tokoh manusia.

  • Pentingnya Persatuan dalam Pekerjaan Tuhan:

Setiap pekerja di ladang Tuhan memiliki peran penting, namun tidak seorang pun lebih penting dari yang lain. Yang terutama adalah Tuhan sendiri, yang memberi pertumbuhan.

Ini menekankan bahwa gereja bukan milik satu pemimpin atau tokoh, tetapi milik Allah, dan semua orang yang bekerja di dalamnya adalah bagian dari satu kesatuan.

  • Pentingnya Kristus sebagai Fondasi:
  • Dasar iman dan kehidupan orang percaya adalah Yesus Kristus. Segala sesuatu yang dibangun di atas dasar yang salah akan runtuh, tetapi jika dibangun di atas Kristus, ia akan kokoh.

Ilustrasi

Bayangkan sebuah gedung yang besar dan indah. Setiap bagian gedung tersebut dibangun oleh berbagai pekerja: ada yang menggali fondasi, ada yang memasang dinding, ada yang memasang atap, dan ada yang mengecat. Semua pekerja punya peran masing-masing, dan meskipun berbeda, semua penting dalam membentuk gedung yang kokoh. Namun, fondasi gedung adalah bagian yang paling mendasar; tanpa fondasi yang kuat, gedung akan mudah runtuh.

Begitu pula, dalam kehidupan rohani, setiap orang memiliki peran yang unik, tetapi yang terpenting adalah dasar yang mereka bangun—yaitu Yesus Kristus.

Aplikasi dalam Khotbah

  • Pentingnya Menjaga Kedewasaan dalam Komunitas:

Jemaat diingatkan untuk menghindari perselisihan dan perpecahan, serta menumbuhkan sikap rendah hati dan saling menghormati.

Dalam komunitas gereja, tidak ada tempat bagi persaingan atau kecemburuan yang memecah belah, karena kita semua adalah bagian dari tubuh Kristus yang satu. Sebagaimana nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam invocatio, agar bersikap dewasa dalam pemikiran mereka, terutama dalam hal memahami ajaran-ajaran dan dalam mengamalkan iman. Mereka diminta untuk "seperti anak-anak dalam kejahatan," yang artinya agar mereka tetap tidak berdosa, tulus, dan murni.

Anak-anak, secara umum, dipandang sebagai makhluk yang polos, tidak memiliki niat jahat, dan tidak terlibat dalam rencana atau tindakan kejahatan. Oleh karena itu, Paulus mengajak jemaat untuk meniru kepolosan dan kemurnian hati anak-anak dalam hal dosa dan kejahatan.

  • Fokus kepada Kristus, Bukan pada Tokoh:

Gereja diingatkan untuk tidak terlalu mengidolakan pemimpin tertentu, melainkan menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan rohani.

Pemimpin adalah alat Tuhan, tetapi hanya Tuhan yang memberikan kehidupan dan pertumbuhan sejati.

  • Pentingnya Membangun di Atas Fondasi Kristus:

Dalam menjalani hidup, jemaat didorong untuk memeriksa apakah segala aspek hidup mereka dibangun di atas dasar Kristus.

Keputusan, perilaku, dan nilai-nilai hidup yang tidak berdasarkan pada ajaran Kristus akan rapuh, sementara yang berdasarkan pada Kristus akan bertahan.

Melalui nasihat Paulus dalam 1 Korintus 3:1-11, jemaat dipanggil untuk bertumbuh dewasa dalam iman, memprioritaskan persatuan, dan memastikan bahwa semua yang mereka bangun dalam hidup mereka berakar pada Kristus.

Sebagaimana dalam teks Ogen yang menekankan pentingnya kerukunan baik dalam keluarga, jemaat, atau komunitas, jika setiap orang hidup dalam damai, saling menghormati, dan bekerja sama, mereka akan "berbunga" dan "berbuah" bersama, dan Tuhan memberkati kebersamaan itu.

Penjelasan Tema: Kita adalah bangunan Allah

  • Rasul Paulus menggambarkan jemaat di Korintus sebagai "bangunan Allah" dan "ladang Allah." Jemaat merupakan proyek Allah yang sedang dibangun dengan dasar Kristus, yang adalah "fondasi satu-satunya" yang kuat dan kokoh. Tidak ada dasar lain yang bisa menopang bangunan tersebut selain Kristus sendiri.
  1. Kita sebagai umat percaya merupakan satu tubuh dalam Kristus yang sedang dibangun dan ditumbuhkan oleh Allah.
  2. Kita perlu menjaga kemurnian dan ketulusan hati dalam membangun iman kita dan mempersembahkan karya pelayanan kita bagi Tuhan.
  3. Kita semua merupakan "bangunan Allah" yang disatukan oleh fondasi Kristus yang tak tergoyahkan.

Paulus juga menggunakan perumpamaan tentang bangunan untuk menunjukkan bahwa setiap orang yang melayani di gereja harus berhati-hati dalam cara mereka membangun di atas dasar ini.

Tugas mereka adalah menambahkan bahan-bahan yang tahan uji dalam bangunan Allah, seperti emas, perak, atau batu permata, yang melambangkan karya pelayanan yang tulus dan bernilai kekal.

Sebaliknya, bahan-bahan yang tidak tahan api (seperti kayu, rumput kering, atau jerami) akan lenyap di hari penghakiman.

(Pdt Philipus Tarigan-GBKP Rg Cililitan)

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD