SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025 WARI IV, KEJADIN 26:26-33

HARI KE 4

Invocatio : “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26)

Ogen : Mat. 5:21-26

Kotbah    : Kej. 26:26-33

Tema       : Tetap Erteman

 

I. PENDAHULUAN

Konflik sering dikaitkan pada suatu tindakan berupa kerusuhan yang mengandung perbedaan asumsi atau perspektif dalam berpendapat, bahkan persaingan, dan pertentangan antara kelompok dan kelompok, individu serta individu, serta kelompok dengan individu atau sebaliknya terhadap pemerintah. Menurut Hugh Miall (2004), konflik dapat dipahami sebagai interaksi yang tidak sesuai antara dua aktor, dimana salah satu aktor mengalami kerusakan, dan aktor lainnya menyebabkan kerusakan tersebut dengan sengaja atau mengabaikannya. Berkenaan pada proses hubungan yang terjadi dalam kehidupan, manusia sebenarnya mempunyai potensi yang dapat mengakibatkan suatu permasalahan bila dalam proses tujuan memiliki kepentingan yang berbeda-beda, oleh karena itu terjadilah perseteruan atau konflik.[1] Dan dalam sejarah Alkitab, perseteruan/konflik dimulai dari manusia pertama Adam dan Hawa. Konflik/perseteruan pun tetap terjadi dan mewarnai sejarah kehidupan manusia bahkan dunia sampai saat ini. Dan sebagai orang percaya kita jua dituntut untuk bisa mengelola dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam diri kita dan sekitar kita.

II. PEMBAHASAN

Kitab Kejadian 26, berisi tentang kisah perjalanan Ishak yang harus keluar dari Tanah Kanaan karena bencana kelaparan. Kemudian Ishak berjalan ke Selatan menuju Mesir. Tetapi Allah menampakkan diriNya kepada Ishak dan melarang Ishak ke Mesir, sehingga dia berhenti di Gerar. Kota Gerar memiliki nilai sejarah bagi Ishak, karena Abraham juga pernah berada di wilayah itu dan melakukan perjanjian dengan Abimelekh. Perjanjian itu berisi, bahwa Tanah Gerar dikeluarkan dari wilayah yang ditakdirkan untuk ditaklukkan oleh orang Israel (kej. 21:22-23; Ul. 60b) dan berada di luar wilayah pemukiman orang Israel. Di tempat ini juga, Tuhan menutup kandungan setiap perempuan di istana Abimelekh, karena Sara (Kel. 20:18).

Dan dengan kedatangan Ishak ke Gerar, seperti mengulang kisah lama karena cerita Ishak dan Abraham hampir sama. Ishak berbohong kepada semua orang bahwa Ribka bukan Istrinya melainkan saudara perempuannya. Seperti Abraham yang juga mengatakan Sara adalah saudaranya. Tetapi Abimelekh, tetap memberi perlindungan dan jaminan kepada Ishak seperti yang dia lakukan kepada Abraham ketika, kebohongan terbongkar.

Ishak diberikan kesempatan untuk menabur di Gerar, dan Tuhan memberkati apa yang dia kerjakan bahkan hasilnya 100 kali lipat. Dari waktu ke waktu, Ishak menjadi makin kaya. Tetapi keberhasilan dan Ishak menimbulkan kecemburuan. Sumur yang di gali oleh Abraham, ditutup oleh orang Filistin. Sehingga Ishak disuruh pergi dan berkemah di lembah Gerar. Kemudian dia menggali disana dan dia menemukan mata air baru yang berbual-bual airnya. Tetapi kemudian gembala Gerar dan gembala Ishak bertengkar. Dan Ishak pindah lagi dari sana dan ia menggali sumur yang lain dan tinggal di Bersyeba. Apakah Ishak benci kepada Abimelekh dan bangsanya? TIdak, setelah peristiwa itu, ternyata Abimelekh kembali menjumpai Ishak. Dan ketika perjumpaan itu terjadi, Ishak menerima dan menjamu mereka dengan baik (ay.30). Dan hasil dari perjumpaan itu Abimelekh dan Ishak berpisah dengan damai.

Menurut Tjabolo, Siti Asiah (2017), penyebab munculnya konflik, antara lain:

  • Tujuan yang berbeda.
  • Komunikasi yang tidak baik.
  • Perlakuan tidak manusiawi dan melanggar HAM atau hukum.
  • Beragam karakteristik sistem sosial.
  • Pribadi orang. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, baik itu dipengaruhi pendidikan, lingkungan, agama, dan lainnya, inilah yang seringkali memunculkan konflik di masyarakat.
  • Kebutuhan setiap orang yang berbeda dan bisa menjadi faktor timbulnya konflik.
  • Perasaan dan emosi. Banyak hal yang mempengaruhi perasaan dan emosi seseorang, sehingga seringkali menimbulkan konflik.
  • Pola pikir. Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda.
  • Budaya konflik dan kekerasan. Indonesia memiliki sejarah panjang dalam meraih kemerdekaan, seringkali konflik dan kekerasan muncul untuk meraih kemerdekaan tersebut, dan hal ini juga masih sering terjadi di beberapa daerah.

Dari Teks pembacaan kita maka kita melihat bahwa beberapa factor yang memicu konflik yang terjadi antara Abimelekh dan Ishak antara lain komunikasi yang tidak baik yang terlihat dengan ketidakjujuran, kepribadian orang berbeda, perasaaan dan emosi yang juga dipengaruhi oelh sejarah, pola pikir yang berbeda. Dari hal tersebut, kita melihat begitu banyaknya hal yang bisa menyebabkan terjadinya konflik, ini menyadarkan kita bahwa sangat mudah sekali kita terlibat konflik baik pribadi dengan pribadi, pribadi dengan komunitas dan pemerintah. Konflik juga bukan hal yang perlu dihindari tetapi bukan berarti kita membenarkan prilaku-prilaku yang bisa memicu konflik. Tapi yang penting dan menjadi bagi kita, yakini dengan memperlihatkan kedewasaan dengan cara kita belajar menyelesaikan konflik tersebut. Abimelekh dan Ishak berhasil menyelesaikan konflik yang terjadi diantara mereka. Marah dan sakit hati adalah yang tidak patut di simpan dan dipelihara dalam hati karena pasti mengganggu ketenangan dalam hidup. Amsal 27:3 “batu adalah berat dan pasir pun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh. Ishak tidak menyimpan kemarahan dan sakit hatinya, ketika Abimelekh mengusir dia dan gembala-gembala orang Gerar juga melakukan ketidak baikan karena Ishak juga menyadari bahwa sejarah mengingatkan ada juga perbuatan Abraham yang mendatangkan malapetaka bagi Abimelekh. Dan kejadian itu diawali dengan peristiwa yang sama dengan Ishak. Ishak juga menyadari dia bukan orang yang sempurna juga. Tetapi di memperlihatkan kedewasaan dengan tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi ada tekad yang kuat dalam dirinya menjalani hidup dengan mengampuni dan mengalah dengan tetap berpegang pada dasar janji penyertaan Tuhan yang tak akan pernah berhenti mengalir bagi orang yang mau mendengar dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita lihat bagaimana Ishak dalam segala yang hal yang dia lakukan dimana pun, kehadirannya mendatangkan kehidupan. Sekalipun mengampuni menyakitkan, tapi ada kehidupan setelah itu. Dan itu yang tertuang dalam kata Damai yang dalam bahasa ibrani “syaloom” yang berarti keselamatan, kesejahteraan, keamanan dan kedamaian. Dalam lingkup yang lebih, damai mencakup semua aspek kehidupan manusia, seperti hubungan dengan Tuhan, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan lingkungan, serta kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Dalam kesejahteraan fisik, mental, dan social. "Shalom" berarti keadaan kesehatan, kebahagiaan, dan kemakmuran yang seutuhnya. Ketika manusia hidup dalam kondisi yang sehat dan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial, maka ia dapat mencapai potensi terbaiknya dalam kehidupan. Dan Ishak sudah membuktikan itu.

III. KESIMPULAN

Ilustrasi: Seorang guru ketika memulai pembelajaran, menugaskan murid muridnya untuk membawa 5 buah kentang dalam plastic. Keesokan harinya, semua murid membawa kentang tersebut. Tenyata, mereka diberikan tugas untuk membawa kentang yang sudah ditaruh dalam plastic tersebut, kemanapun mereka dalam berbagai aktivitas mereka kemanapun mereka pergi baik ketika makan, tidur, ke sekolah, bermain. 2 minggu kemudian, ada anak yang mulai mengeluh, kentangnya sudah mulai berair, busuk dan mengeluarkan aroma yang tidak menyenangkan. Tapi mereka juga harus tetap meneruskan tugas tersebut. Beberapa waktu kemudian, anak-anak mulai sakit, karena tidak bisa tidur dengan nyaman dan makan dengan enak karena aroma busuk mulai menyengat. Akibatnya mereka mulai sakit. Ilutrasi ini mengajarkan kita bahwa menyimpan rasa sakit hati dan kemarahan dalam hati sangat merugikan bagi kita. Karena sangat mempengaruhi kehidupan dan kesehatan kita. Oleh sebab itu Invocatio kita tadi mengatakan “jangan biarkan matahari terbenam sebelum padam amarahmu”. Dan dalam pembacaan pertama, Matius 5:21-26, kata marah, kafir dan jahil, nasehat Yesus tidak mengarah kepada kemarahan yang selayaknya terhadap orang yang fasik dan tidak adil, tetapi yang diingatkan oleh Yesus adalah kemarahan yang mendendam yang secara tidak adil menghendaki kematian orang lain.

Sikap orang lain terhadap kita dalah kondisi yang tidak bisa kita kendalikan, tetapi sikap kita terhadap orang lain adalah kondisi di bawah kendali kita. Berdamai atau mengampuni adalah pilihan bagi kita, sekalipun sulit, tetapi ingatlah bahwa berdamai dan mengampuni akan selalu memberi kehidupan bagi yang melakukannya.

Pdt. Sripinta Br Ginting

Runggun Cisalak

 

 

[1] Hugh Miall. Resolusi Damai Konflik Kontemporer. Raja Grafindo Persada: 2001, Jakarta

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025 WARI III, KHOTBAH KISAH PARA RASUL 15:6-11

HARI KE 3

Invocatio : Sabab kami sada aron kap ndahiken dahin Dibata, janah kam me JumaNa. Kam pe bangunen Dibata kap (1 Korinti 3:9).

Ogen : Bilangan 12:1-13

Khotbah : Kisah Para Rasul 15 :6-11

Tema   :Tampil Ndungi Perjengilen/ Pelayan Menjadi Juru Damai

 

I. Kata Pengantar

Sebuah ungkapan dari Albert Einsten “ kedamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan, itu hanya dapat dicapai melalui pemahaman”. Pola pikir dan sikap manusia akan mempengaruhi situasi kehidupannya. Hidup ini adalah 10% dari apa yang terjadi pada kita dan 90% dari bagaimana kita meresponnya – Charles R. Swindoll. Makna dari kutipan ini adalah bahwa peristiwa dan tantangan dalam hidup hanya sebagian kecil dari keseluruhan pengalaman kita. sebagian besar kehidupan kita dipengaruhi oleh bagaimana kita memilih untuk menghadapi dan merespon hal-hal yang terjadi. Dengan sikap yang positif, tegar, tenang dan bijaksana, kita dapat mengubah situasi sulit menjadi peluang untuk dapat mengubah situasi sulit menjadi peluang untuk tumbuh dan kembang. Demikian sebaliknya dengan sikap yang negatif, arrogant, keras dan egois akan menambah kesulitan ditengah situasi yang tidak kondusif sehingga besar peluang untuk terjadi perpecahan. Dengan demikian kita harus bijak dalam menmilih sikap atau tindakan apa yang kita ambil dalam menjalani kehidupan kita karena hidup kita tidak luput dari berbagai macam pergumulan.

II. Penjelasan Teks

Pertikaian atau perjengilen bisa timbul dari mana saja dengan berbagai alasan apa saja. Bilangan 12:1-13 menceritakan bagaimana Miryam dan Harun yang memberontak kepada Tuhan, awalnya Myriam tidak suka karena Musa menikah dengan perempuan kush yang memiliki latarbelakang dan budaya yang berbeda dengan bangsa Israel. Pada saat itu Umat Israel menjalani kehidupan mereka di padang gurun setelah keluar dari perbudakan Mesir dibawah pimpinan Musa. Miryam diduga tidak suka dengan Musa yang menikah dengan orang yang bukan dari bangsa Israel secara dia adalah seorang pemimpin. Miryam dengan ketidaksukaannya lalu muncul perasaan iri hati atau cemburu dan mempertanyakan otoritas kepemimpinan Musa, lalu mulai berkata “Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman? Mereka merasa bahwa mereka juga seorang pemimpin yang punya otoritas terhadap bangsa Israel. Musa tidak hanya mendapat tantangan dari eksternal dalam memimpin bangsa Israel bahkan juga dari orang yang terdekat sekalipun myriam dan Harun yang menaruh ketidaksukaan kepada Musa. Tapi Musa seseorang yang benar tulus dan rendah hati (orang yang paling rendah hati ibas kerina manusia i doni enda) memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Miryam. Musa tidak hanya mengampuni tetapi juga berdoa untuk kesembuhannya.

Kis. 15:6-11 adalah konteks kehidupan gereja mula-mula yang memiliki perdebatan mengenai penerimaan orang non-Yahudi yang ingin menjadi pengikut Kristus. Orang-orang Yahudi yang memiliki tradisi sunat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dengan mematuhi hukum taurat yang mengharuskan dilakukan sunat, maka bangsa Yahudi ingin menyamakan peraturan demikian kepada bangsa non Yahudi. Sehingga hal ini menuai banyak argumen-argumen antara iman orang Yahudi dan non Yahudi maka dilakukanlah sebuah pertemuan yang dikenal dengan Sidang di Yerusalem. Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu dengan jangka waktu yang cukup lama, tentu mereka akan mengeluarkan argument mereka masing-masing dengan bersumber kepada hukum taurat. lalu ay. 7 “ Berdirilah Petrus dan berkata serta menjelaskan bahwa “ ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman maka mereka sama dengan kita (ay.9).

Perubaten/perjengilen jadi karena kita ingin mereka sama seperti kita padahal kita berbeda. Ini permasalahan yang terjadi di jemaat mula-mula kala itu, tetapi Petrus dengan hikmat dari Yesus Kristus dengan tenang, sabar dan bijak berdiri dan berbicara (tampil) dan memberi pemahaman kepada semua peserta sidang pada saat itu bahwa orang yang tidak disunat juga sudah dianggap sama seperti kita karena Allah yang membersihkan hati mereka dan mereka juga sama-sama menerima Roh Kudus. Jadi maksud Petrus menjelaskan bahwa hanya cara pembersihannya saja yang berbeda tetapi makna dan imannya sama. Petrus sebagai rasul benar-benar memposiskan dirinya sebagai utusan Allah dalam memberitakan kabar Injil. Petrus mendengarkan pandangan dari kelompok Yahudi yang berpegang pada hukum taurat sebagai pelayan, sikap mendengar ini penting untuk menciptakan dialog yang sehat dan mengurangi ketegangan. Petrus mengingatkan bahwa keselamatan tidak didapatkan melalui usaha atau kepatuhan pada hukum, tetapi melalui iman kepada Yesus. Fokus pada kasih karunia yang menolong menghindari sikap legalistik yang memecah belah. Dengan mendekatkan semua orang pada prinsip dasar Injil, Pertus menolong jemaat tetap bersatu. Sebagai juru damai seorang pelayan harus membawa setiap orang kembali kepada misi utama gereja yaitu mengasihi dan menyebarkan kasih Kristus.

Dari bahan ogen dan bahan khotbah memiliki fokus tujuan yang sama yaitu mendamaikan, Musa yang berdamai dengan Miryam dan Harun serta berdoa untuk kesembuhannya, Petrus yang juga menjadi juru damai dalam pertikaian persidangan Yesusalem yang membahas sunat kepada non Yahudi. Sesuai dengan Tujuan kita di Invocatio “Sabab kami sada aron kap ndahiken dahin Dibata, janah kam me JumaNa. Kam pe bangunen Dibata kap (1 Korinti 3:9). Musa dan Petrus sebagai Aron Dibata menjadi juru damai dimanapun mereka berada.

III. Aplikasi

Realitas kehidupan orang Kristen khususnya GBKP tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Musa dan Petrus. Lalu apakah kita sudah mencontoh Musa dan Petrus sebagai juru damai??? Kalau selama ini kita masih sama seperti para ahli-ahli taurat, orang-orang farisi yang suka berdebat dan kesukaanya adalah untuk memenangkan suatu perdebatan dengan keinginan hatinya, mari kita instal ulang hati dan pikiran kita kembali fokus ke prinsip dasar Injil yaitu Kasih. Dalam gereja sering kita melihat pertikaian memperdebatkan akan aturan-aturan gereja yang mempersempit kasih Kristus didalam pikirannya sendiri. Dengan sikap arogan, egois, keras dan kasar, dan berjuang untuk memenangkan argumennya tanpa memikirkan aspek-aspek yang lain. Atau bahkan jemaat juga dalam kehidupannya masih sering menjadi kompor untuk menghasut beberapa pihak untuk bertikai dan dia merasa suka kalau ada pihak-pihak la siangkan. Sifat yang seperti ini sangat bahaya karena ia membiarkan pikirannya dikuasi Iblis sebagai roh pemecah dalam persekutuan.

Jemaat GBKP harus menjadi juru dalami dalam kehidupan dimana pun dan kapan pun, sekalipun kita dituduh, tapi seperti Musa mampu mengampuni dan mendoakannya. Didalam persidangan GBKP juga sering terjadi pertikaian atau pembicaraan yang alot akan satu topik karena banyak argument-argumen dari berbagai sumber, apakah kita sudah menjadi Petrus pembawa damai? Atau kita masih mengutamakan keegoisan dan rasa ingin menang atas perdebatan terkait dengan hukum-hukum gereja. Persidangan dilakukan untuk memutuskan sebuah solusi bukan menambah persoalan baru bahkan sampai mengukir luka yang baru antara sesama peserta sidang atau sesama jemaat GBKP dalam kehidupannya. Pekan Penatalayanan ini mengajak kita untuk menata hati kita sesuai dengan kehendak Kristus dalam diri kita sebagai pembawa damai dimanapun kita berada sehingga label kita sebagai orang Kristen jemaat GBKP adalah orang yang cinta perdamaian. Tuhan Yesus Memberkati.

Vikaris Amikha Rehulina Br Tarigan, S.Th

GBKP RG CIBUBUR –POS PI JONGGOL

SUPLEMEN PEKAN PENATALAYANEN GBKP TAHUN 2025 WARI II, KHOTBAH KEJADIN 1:26-28

HARI KE 2

Invocatio : 1 Korintus 11:12

Ogen : Kolose 3:10b-11

Kotbah : Kejadin 1:26-28

Tema  : Dibata Nepa Manusia Pelain-Lain/Allah Menciptakan/Manusia yang Memiliki Perbedaan.

 

Pendahuluan.

Kita bersyukur saat ini kita kembali berkumpul dan bersekutu dalam ibadah Pekan Penatalayanan GBKP hari yang ke 2, hari ini kita diingatkan untuk menyadari bahwa Allah kita telah menciptakan rancangan yang sempurna dalam setiap ciptaanNya. Allah menciptakan segala sesuatu itu tidak sama/tidak seragam, bukanlah sebuah pemisah, namun sebuah kekayaan, oleh karena kita Kita juga diajak untuk mengenal diri kita dan memahami orang lain yang berbeda dengan kita, sehingga dapat hidup berdampingan dengan penuh keharmonisa.

Pendalaman Teks.

Di dalam Kolose 3: 10b-11, Rasul Paulus mengingatkan kepada orang percaya di kota Kolose bahwa dengan menerima Kristus mereka memperoleh hidup baru. Hidup baru ini bukan tentang sesuatu yang kelihatan, seperti gaya rambut atau gaya berpakaian, melainkan karakter dan perilaku yang harus diperbaharui. Orang yang belum mengenal dan menerima Kristus hidup menurut kehendaknya sendiri, melakukan hal sesuka hati asal dirinya senang, tidak peduli sekalipun itu adalah dosa. Sedangkan hidup baru berarti hidup menurut kehendak Kristus, melakukan hal-hal yang membuat Tuhan senang. Orang yang percaya kepeda Kristus senantiasa terus menerus diperbaharui: Pengertian hidup baru ini bukan yang terjadi sekali saja, melainkan terus menerus diperbaharui, menjadi semakin sama dengan Yesus. Dalam hal ini tidak ada kata selesai, selama masih hidup iman harus terus diperbaharui. Dan perubahan ini adalah menuju kepada yang lebih baik. Roma 12:2 mengatakan “berubahlah oleh pembaharuan budimu” jadi dimulai dari kemauan diri untuk diubah agar Allah bekerja dalam diri kita. Perubahan adalah sebuah proses yang tidak instan. Tetapi orang yang menyadari perubahan statusnya akan selalu berusaha menyesuaikan perilaku dan pola pikir sesuai status barunya. Anak-anak Allah akan terus diperbaharui menjadi semakin serupa dengan Allah. Janganlah membangun pemisah ditengah-tengah perbedaan (Ayat 11) Sekat-sekat pemisah, golongan, perbedaan tidak menjadi pembeda sebab Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Kepada orang-orang yang mudah terpecah belah Paulus mengingatkan bahwa di dalam Kristus kita adalah satu. Semua orang percaya adalah “manusia baru” yang adalah anggota keluarga Tuhan.

Kejadin 1:26-28, menggambarkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambarNya (Imagodei), gambar yang dimaksudkan bukanlah secara lahiriah, namun di dalam diri manusia ada karakter/sifat Allah sendiri. Imagodei juga menyatakan bahwa manusia adalah anak-anak Allah sendiri, ada citra Allah di dalam setiap ciptaanNya, oleh karenanya janganlah melakukan diskriminasi atas perbedaan dari ciptaan Allah itu. Dan kepada manusia ciptaanNya, telah dianugrahkan kuasa untuk mengelola dunia ciptaanNya.

Refleksi.

  1. Menyadari dan menerima realitas banyaknya perbedaan. Kita hidup ditengah dunia yang penuh dengan berbagai perbedaan dan keanekaragaman dan dapat juga dikatakan keaneka ragaman itu adalah sebuah realitas dan merupakan bahagian dari kehidupan manusia, Setiap manusia diciptakan berbeda, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang memiliki kesamaan seratus persen, sekalipun anak kembar. Terlebih lagi antara laki-laki dan perempuan jelas memiliki perbedaan. Oleh karenanya kita harus memiliki nilai baru dalam menghadapi perbedaan itu yaitu: Menyadari dan menerima realitas dari banyaknya perbedaan serta mensyukuri perbedaan itu adalah sebuah kekayaan, serta mampu menata kelola perbedaan itu menjadi sebuah kekuatan yang dianugerahkan Allah bagi manusia. Tema Pekan Kebaktian Keluarga hari yang ke 2 ini menekankan bahwa Allah sudah menciptakan manusia yang memiliki perbedaan satu dengan yang lain, kita percaya bahwa Allah memiliki rencana dalam setiap rancangannya dan tentu saja akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

 

  1. Perbedaan bukanlah kelemahan namun sebuah Kekuatan, dalam kitab Roma 15:1 mengatakan “…kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan mencari kesenangan sendiri”. Ini membuktikan bahwa latar belakang manusia itu berbeda. Siapakah yang dimaksud dengan ‘yang kuat’ dan ‘yang lemah’ dalam ayat ini ? Yang kuat adalah orang-orang Kristen mula-mula yang tidak lagi terbebani oleh aturan-aturan Taurat, danyang lemah adalah orang-orang Kristen yang menghayati iman dengan tetap mempraktekkan ketaatan kepada peraturan-peraturan Taurat, misalnya masih mempersoalkan mana makanan yang haram dan mana yang halal. Dalam konteks jaman sekarang,yang kuat mempunya arti banyak : berkuasa, kaya, pintar, mampu, hebat. Dan yang lemah tentu sebaliknya.

Ada sebuah pepatah “In Unity is Strength”. Pepatah ini mengingatkan kita bahwa kesatuan dan persatuan yang menghasilkan kekuatan tidak berangkat dari harus seragam lebih dahulu, tetapi justru menerima keberagaman sebagai modal dalam menghadirkan hidup yang lebih utuh dan indah. Bukankah kita bisa mengangkat segelas air minum karena kelima jari yang berbeda-beda itu bekerja sama, saling menerima dan menghargai,sehingga kita terlepas dari dahaga. Bayangkan apa yang terjadi jika jari jempol hanya mau kerjasama dengan sesama jempol saja? Tentu kita tak dapat minum dengan baik. Demikianlah kebergaman adalah kekuatan dan keindahan. Kita dapat menunjukkan solidaritas kepada sesama bahkan kepada mereka yang menolak keberagaman. Bersyukurlah, karena kita diciptakan tidak sama satu sama lain. Saling menerimalah, karena ini juga salah satu cara kita memuliakan-Nya.

  1. Kesatuan dalam perbedaan bukan kesatuan dalam keseragaman (spiritualitas).

Ada perbedaan yang memang merupakan hal-hal prinsip, yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Misalnya perbedaan iman. Bila kamu dan pasanganmu ternyata berbeda iman, kamu harus segera mengambil sikap. Ingat gelap dan terang tidak dapat bersatu, begitu kata Firman Tuhan. Jangan kamu menjadikan hubunganmu sebagai ajang pengabaran Injil. Ada pula perbedaan-perbedaan yang tidak mungkin berubah, seperti latar belakang keluarga dan suku. Penting bagimu untuk dapat mengetahui hal-hal ini dan pikirkanlah apakah hal-hal ini akan membuat perbedaan yang cukup signifikan dalam hidupmu dan berpotensi untuk menimbulkan konflik di masa yang akan datang. Perbedaan yang lain lagi adalah perbedaan yang sulit diubah, seperti misalnya kepribadian dan kebiasaan. Kepribadian dan kebiasaan bukannya tidak dapat diubah, tetapi untuk mengubah kedua hal ini, harus dimulai dari keinginan diri sendiri. Ingat, kamu tidak akan dapat mengubah kepribadian dan kebiasaan pasanganmu. Tidak sekarang, tidak juga nanti. Jadi, bila ada kebiasaannya yang memang mengganggumu, segera putuskan apakah kamu dapat menerima hal itu atau tidak. Jangan takut untuk mengambil keputusan. Jangan memaksakan diri, karena itu hanya akan membawa masalah dalam kehidupanmu.

Pdt. Togu P. Munthe

Ketua BPMK GBKP Klasis Jakarta Kalimantan

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD