Minggu 10 Maret 2019, Khotbah Amsal 4:18-27

Invocatio :

“Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di
hadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11)

Bacaan :

Galatia 1:11-18

Tema :

“MENJALANI JALAN YANG BENAR”

 

I. PENDAHULUAN
Dalam hidup kita selalu diperhadapkan pada pilihan dan keputusan. Kadang kita bingung dalam memilih jalan mana yang harus ditempuh. Konflik antara keinginan, kenyamanan dan kebebasan hidup menjadi suatu hal yang tidak mudah dilalui. Semua orang percaya ingin hidupnya lurus dan benar agar bisa mencapai tujuan akhir yang diinginkan. Tetapi berbagai penyesatan dan pengajaran keliru yang dianut dunia bisa setiap saat membuat kita miring ke kiri dan ke kanan, berbelok, bengkok dan serong. Berbagai ‘penyakit’ dunia bisa meracuni kita dan mengalihkan kita dari jalan yang lurus, jalan yang terang menuju gelap dan kesesatan.

Lalu apa yang sebenarnya diinginkan Tuhan bagi kita? Tuhan ingin kita tetap hidup dengan menjaga kesucian, tiada beraib dan tiada bernoda sehingga kita bercahaya di antara manusia lainnya seperti bintang-bintang di dunia (bnd. Filipi 2:15).

Bagaimana caranya agar kita bisa tetap bertahan untuk terus lurus dan tidak menjadi bengkok? Bagaimana agar kita bisa tetap berjalan dalam koridor yang benar, tetap lurus meski kita terus dibelokkan? Untuk itu senantiasa kita meminta petunjuk dan kebijaksanaan padaNya melalui firmanNya dan dengan cara selalu berseru kepada Tuhan (Minggu Invokavid: Erlebuh ia ku Aku), maka Dia akan menjawab dan meluruskan jalan kita.

II. PENDALAMAN NATS
Kitab Amsal adalah kumpulan ucapan ringkas dan ucapan berbentuk nasihat untuk mendidik para pemuda. Dalam bahasa Ibrani “Amsal” diterjemahkan dari kata misyle/masyal yaitu singkatan dari misyle syelomoh, artinya amsal-amsal Salomo, yang merupakan amsal-amsal orang bijak (Amsal 22:17; 24:23). Dalam nas ini (ay. 18-27) diperlihatkan sebuah pokok pengajaran agar para pendengarnya berpegang teguh pada yang baik, yaitu Firman Tuhan.

Istilah “Jalan” (Ibr. Derek)merupakan lambang dari sikap hudup dan tingkah laku seseorang. Orang yang berhikmat disamakan dengan orang yang berjalan di jalan lurus atau benar, yang akan menghindarkan orang itu dari bermacam masalah. Sikap hidup dan tingkah laku yang benar ini menuntun orang pada “kehidupan”. Sehingga jalan orang benar digambarkan seperti cahaya fajar dan terang; seperti cahaya mentari di pagi hari yang semakin lama semakin terang cahayanya. Hidup orang benar itu seperti terang, bahkan semakin lama semakin terang karena berjalan dengan hikmat Tuhan yaitu firman Tuhan.

Alkitab tidak mencatat jalan hidup orang benar seperti cahaya fajar ‘dari terbit matahari sampai terbenamnya’, seringkali kita campur dengan filosofi duniawi yang mengatakan hidup ini bagaikan roda kadang di atas, kadang di bawah. Tetapi firman Tuhan mengatakan bahwa keadaan kita akan semakin baik apabila kitaselalu mendengarkan dan mengikuti jalanNya. Dalam Ulangan 28:13 “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia”. Namun konteks nas ini bukan mau membawa kita kepada sebuah pemahaman “teologi sukses”, tapi menekankan kepada kita bahwa ketika kita memakai dan menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman hidup kita maka akan terjadi transformasi hidup, baik itu cara pandang, pola pikir maupun pengharapan kepada Tuhan dalam menjalani dinamika hidup (baik itu lurus, terjal, lembah, kerikil, berbatu, licin maupun berliku). Jadi bukan diartikan kita tida akan pernah lagi sakit atau terus naik pangkat dan jabatan strategis akan selalu kita raih, tapi walaupun yang terjadi tidak seperti yang kita inginkan, iman kita meneguhkan dan meyakinkan kita bahwa ‘jalan Tuhan selalu benar’.

Sekali lagi firman Tuhan katakan jalan hidup orang benar seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang semakin terang sampai rembang tengah hari, ini puncaknya terang. Tuhan menginginkan kita terus belajar dan berpedoman kepada ‘terang’ yang sesungguhnya yaitu Kristus. Yohanes 8:12 “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”.

Untuk itu supaya kita tetap berjalan dalam jalan yang benar dan terang kita semakin terang, kita harus melakukan:
1. Mengarahkan Telinga (ay. 20-22)
Kita harus mengarahkan telinga kita kepada hal-hal yang baik, yang membangun dan kepada firman Tuhan yang mengarahkan dan menuntun kita dalam jalan kebenaran. Lukas 8:18 “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya”. Bukanlah tanpa tujuan jika Tuhan meciptakan 2 telinga dan 1 mulut bagi manusia; tujuannya adalah supaya kita lebih banya mendengar daripada berkata-kata, sebab “di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi” (Amsal 10:19). Maka dari itu firman Tuhan menasihatkan, “setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata....” (Yakobus 1:19). Tuhan menghendaki kita banyak mendengar, terutama dalam hal mendengarkan firman Tuhan, sebab “...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17).

2. Menjaga Hati (ay. 23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”)
Hati adalah pusat dari setiap hal yang kita rasakan, karena dari hati kita bisa merasakan suka dan duka, kekecewaan, kebimbangan bahkan juga dapat merasakan sakit. Oleh karena itu sangat perlu menjaga hati terutama dari segala perkataan negatif yang masuk ke dalam hati, supaya hati kita tetap dikuasai oleh cinta kasih Tuhan. Cara menjaga hati juga dapat dilakukan dengan selalu memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan. Sebab dengan bersyukur pada Tuhan membuat hati kita tetap terjaga. Firman Tuhan merupakan salah satu cara supaya hati tetap dikuatkan dari setiap kebimbangan. Karena di dalam firman Tuhan ada janji yang dapat menguatkan iman kita.
Tuhan rindu supaya kita boleh memiliki hati yang bersih serta murni di hadapanNya. Jadi jangan pernah mengizinkan hati kita dikuasai oleh hal-hal yang negatif. Jangan biarkan dosa menguasai hati kita, buanglah segala kebencian dan dendam, sebaliknya isilah dengan kasih Tuhan.

3. Buanglah Mulut Serong (ay. 24 “Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu)
Amsal 13:3 “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan”. Amsal mengingatkan bahwa “mulut” bisa memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan kita. Mulut perlu dijaga untuk menciptakan keadaan dan situasi yang aman tentram. Bagi Amsal, mulut dijaga supaya apa yang dikatakan mendatangkan kebaikan, syalom, sukacita, ketenangan. Kolose 4:6 “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang”.
4. Arahkan Pandanganmu Ke depan (ay. 25-27)
Janganlah kita menjalani hidup sambil mengingat-ingat peristiwa masa lampau yang bisa mengganggu masa depan kita. Orang yang mau berjalan maju tetapi ia masih ‘bernostalgia’ dengan kesuksesan atau kegagalannya masa lalu, ia akan menjadi “tiang garam”, sama seperti Isteri Lot. Ia akan mengalami kegagalan, itu berarti ia tidak akan memeperoleh kebahagiaan.

Ay. 26, 27 “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan”. Arahkanlah matamu ke depan jangan terpengaruh oleh godaan di kanan dan kiri jalanmu, terus fokus ke depan.

Invocatio: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11). Orang percaya berpegang pada hikmat dan berjalan menurut pimpinan Firman Tuhan. firmanNya menjadi pelita, sumber sukacita dan penghiburan yang menerangi jalan mereka. Mereka meneladani Terang, setia menjadi terang bagi setiap orang yang dijumpai. Dengan begitu, mereka menyingkirkan kegelapan. Terang bertambah, anugerah pun semakin bertumbuh. Semakin kuat mereka menjaga kekudusan, sukacita, dan kehormatan rohani, semakin deras hidup mereka mengalirkan kemurnian hati, kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran.

III. APLIKASI
Ada sebuah petikan syair lagu yang berbunyi:
“Berliku-liku kehidupan ini
Jalan mana yang harus ku lalui
Rintangan dan cobaan s’lalu menghalangi
Bila ku ingin datang padaMu”
Dalam hidup ini ada banyak tawaran, godaan, cobaan tetapi arahnya kepada jalan yang salah. Ini adalah sebuah tantangan iman bagi kita orang kristen. Sebagai pengikut Kristus yang setia, kita pasti memilih satu jalan yang benar yaitu jalan Tuhan dalam arti setia melakukan kehendak firmanNya. Memilih jalan Tuhan berarti menjadikan firman Tuhan sebagai penerang seluruh perjalanan hidup kita dan tingkah laku di jalan hidup yang kita tempuh (Mazmur 119:105 “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”). Sehingga hidup kita dituntun untuk menikmati kebahagiaan dan berkatNya.
Hidup adalah ibarat perjalanan. Perjalanan yang panjang dimana sepanjang perjalanan itu kita akan menemui realita kehidupan “ada lubang, ada tanjakan, ada turunan, dan terkadang kita harus terjerembab karena terantuk di batu” tapi perjalanan ini harus diteruskan bukan dihentikan, karena kita punya tujuan dari perjalanan itu. Dan perjalanan itu mungkin akan terasa berat dan tidak mudah, karena mungkin tidak seperti yang kita bayangkan atau harapkan (bagi sinatap deleng). Ingat lagu Ebiet G. Ade “Berita Kepada Kawan”
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
Sayang kau tak duduk di sampingku kawan
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan......
Tapi perjalanan ini akan terasa lebih mudah dan menyenangkan ketika kita punya ‘teman setia’ untuk berbagi cerita dan rasa. Dialah Yesus sang “Kawan Sejati”, yang selalu ada di sepanjang perjalanan hidup kita, Dia tidak pernah meninggalkan kita dan mau mendengarkan cerita kita. Satu hal yang pasti Dia akan ‘memandu’ kita dalam perjalanan ini sehingga kita tidak tersesat tapi sampai dan selamat di tujuan akhir kita, yaitu Rumah Bapa yang kekal.

Pdt. Irwanta Brahmana-(GBKP Rg. Surabaya)

Minggu 03 Maret 2019, Khotbah Matius 16:13-20

Invocatio :

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih
karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 5:2)

Bacaan :

Yosua 5: 13-15 (Tunggal)

Tema :

Yesus Adalah Mesias Yang Dijanjikan Allah

 

Pendahuluan
Syalom, selamat hari Minggu. Hari ini kita masuk ke Minggu Pasion yang I. Minggu pasion sering juga kita sebut dengan Minggu-minggu kesengsaraan yang dialami Yesus untuk membuktikan solidaritas-Nya bagi manusia, bahwa Dia adalah Allah yang sungguh mengerti akan penderitaan dan kesengsaraan manusia. Dia bukan Allah yang hanya duduk di tahta kemuliaan Surga (transenden) menanti pertobatan manusia, tetapi Allah yang mau hidup ditengah-tengah kehidupan manusia (Imanuel), merasakan apa yang dirasakan manusia, memberi teladan hidup agar manusia tahu jalan menuju keselamatan.

Minggu ini juga di sebut dengan “Estomihi yang artinya : Tuhanlah gunung batu dan kubu pertahananku, mengingatkan dan menguatkan kita dalaam pergumulan-pergumalan hidup, agar jangan mengandalkan kekuatan sendiri tetapi datang kepada Tuhan, berdiam dihadapan Tuhan menanti pertolongan-Nya, berlindung dibawah naungan sayap-Nya. Dialah gunung batu kota benteng yang kuat, kubu pertahan di dalam Dia kita tidak akan goyah, Didalam Dia kita aman, tentram dan sentosa.
Siapakah Allah, yang disebut dengan “gunungbatu dan kubu pertahanan” kota benteng yang kuat Itu ? mari kita menelusuri nats khotbah kita minggu ini

Pendalaman Nats Khotbah
Ay. 13-16, Siapakah Yesus Bagi Kita ?
Pengenalan yang benar akan memampukan kita “memperlakukannya dengan benar”. Contoh seorang ibu yang tua dan tidak berpendidikan tinggal di kampung seorang diri. Dia sering mendapat kiriman wesel dari anaknya yang tinggal di luar negeri. Karena sang nenek tidak tahu wesel itu barang berharga, setiap kali mendapatkan kiriman langsung di buang ke tempat sampah. Seiring dengan pertambahan usianya yang tidak sanggup lagi bekerja semakin hari semakin buruklah keadaannya, sampai dia “mengutuki anaknya” karena hanya mengirim kertas bukan uang, singkat cerita dia jatuh sakit, akhirnya ada orang yang datang ke tempatnya, setelah nenek itu curhat tentang prilaku anankya lalu orang itu melihat “kertas-kertas yang dibuang nenek tersebut ke tempat sampah, lalu dia katakan pada nenek itu.... wah ini uang semua nek... nenek itu enggak percaya bahwa itu uang semua...lalu mereka pergi ke bank menukar wesel tersebut, dan hari-hari berikutnya kalau dia menerima kiriman tidak lagi di buang ke tempat sampah, tetapi menyimpannya di lemari menunggu kapan dia perlu untuk menukarnya ke bank.

Ketika Yesus datang ke dunia, tampil di kancah pelayan-Nya, dengan kuasa-kuasa yang ajaib, tidak serta merta orang menyambut Dia sebagai Tuhan. Banyak orang mengangap Dia seperti manusia biasa. Walaupun Yesus sering melakukan mujizat-mujizat tetapi mereka memandang-Nya “tidak lebih” dari nabi dan imam-imam yang mereka tahu.

Yesus ingin membuktikan siapa Di dihadapan murid-muri-Nya, inilah yang ditanyaken Yesus ketika mereka sampai di daerah Kaesaria Filipi.adaslah wilayah Herodes Antipas dan juga tempatpenyembahan-penyembahan agama kuno misalnya Baal, Dewa Pan yang agung. Di sana ada gua yang indah di bawahnya ada mata air sunga Yordan dan kuil kaisar yang terbuat dari marmer sebagai lambang keperkasaan keilahian Romawi. Sedangkan Yesus disebut anak tukang kayu dari Nazaret.

Mengapa Yesus menyanakan hal ini kepada murid-murid-Nya di tempat ini ? sebenarnya Yesus mau mengatakan bahwa Dia jauh lebih besar, lebih angung, lebih mulia lebih berkuasa dan lebih layak di sembah dari pada kuil-kuil dan berhala-berhala Romawi itu.

Jawaban murid-murid berdasarkan jawaban khalayak ramai, ada yang mengatakan Yohanes pembabtis, Elia, Yeremia atau salah satu dari nabi yang mereka tahu. Sungguh melalui jawaban murid-murid menurut orang banyak Yesus jauh lebih dari semua kuil-kuil orang Romawi. Yesus belum puas kalau murid-murid mengenal dirinya hanya sebatas pengenalan berdasarkan apa kata orang, tetapi pengakuan yang lahir dari pengenalan pribadi akan Yesus, sehingga Dia bertanya : “ tetapi katamu siapakah aku ini ?
Jawab Simon Petrus “Engkau adalah Mesias. Anak Allah yang hidup!”
Kata Ibrani Mashiach (Mesias) dan kata Yunani Khristos (Kristus) berarti ”Yang Dilantik”. Maka, ”Yesus Kristus” berarti ”Yesus Yang Dilantik”, atau ”Yesus sang Mesias”.

Pada zaman Israel dulu, seseorang biasanya dilantik dengan minyak yang dituangkan di atas kepalanya saat dia dipilih dan diberi kedudukan yang berwenang. (Imamat 8:12; 1 Samuel 16:13) Yesus dilantik oleh Allah sebagai Mesias, suatu kedudukan yang sangat istimewa. (Kisah 2:36) Tapi, Yesus tidak dilantik dengan minyak, dia dilantik Allah dengan kuasa kudus-Nya.—Matius 3:16.

Pengenalan akan Yesus sebagai Mesias tidak cukup hanya melalui apa yang dilihat oleh mata dan apa yang di dengar oleh telinga tetapi harus ada peran Roh Kudus.Seperti yang dikatakan oleh Yesus kepada Petrus. Tidak banyak orang melihat Yesus dengan prespektif Roh Kudus sehingga mereka mamperlakukan dan menerima Yesus hanya hanya seperti rabi, guru , imam dan nabi.

Jadi untuk mengenal Yesus lebih sungguh sampai kita juga mengimani bahwa Dialah Mesias yang diurapi penguasa surga dan dunia, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus (bdk. I Korintus 12:3)

Ay.17-19 Pengenalan Yang Benar Akan Tuhan Membawa Keselamatan
Pengenalan yang benar bahwa Yesus adalah Mesias, akan menjadi pondasi yang kuat bagi iman setiap orang yang percaya. Pengenalan yang benar bahwa Yesus adalah Mesias akan membawa sukacita dan kebahagiaan, di tengah begitu berat tantangan iman.

Iman yang benar dan murni tidak akan terlepas dari “pengujian-pengujian”. Buah dari pengujian itu akan membuktikan seberapa dalam dan kuatnya pondasi iman seseorang. Banyak orang Kristen mengatakan “Puji Tuhan haleluya, ketika semua perjalanan hidup seperti yang kita inginkan, tetapi bagaimana saat keaadaan tidak menyenagkan, apakah kita masih sanggup mengatakan “puji Tuhan haleluya ?” Ada banyak orang Kristen seperti isteri Ayub, yang bersykur dan bersukacita dikala hidupnya berlimpah dan keadaan aman tentram sentosa, tetapi ketika banyak pergumulan hidup, justru dia katakan :”kutukilah Allahmu dan matilah (bdk. Ayub 2:9).
Pondasi iman yang kuat memungkinkan kita membangun persekutuan (koinonia) yang kuat, Kesaksian (Marturia) yang nyata serta pelayanan (diakonia) yang dapat dirasakan. Jadi kalau kita mau membangun gerja yang besar, kita harus sampai kepada pengenalan Yesus secara pribadi.
Ijnilah yang dikatakan Yesus kepada Petrus, di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Orang yeng mengenal Yesus secara pribadi akan mendapatkan kebahagiaan karena alam maut pun tidak berkuasa atasnya. Pengenalan yang benar akan Tuhan membawa keselamtan.

Ay. 20. Jangan Memakaskan Iman Kita Kepada Orang Lain
Di ayat 20 ini sangat menarik kalau kita bahas, di sisi lain Yesus mamanggil dan mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan bahwa Yesus adalah juruselamat dunia, tetapi pada ayat ini justru Yesus melarang murid-murid-Nya mrmberitakan bahwa Yesus adalah Mesias.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita imani tidak bisa kita paksakan kepada orang lain. Iman akan tumbuh berdasarkan prosesnya, tanggung jawab kita hanya memberitakan bahwa Yesus itu adalah Mesias. Biarkan orang lain mengalami proses pertumbuhan imannya sampai dia sendiri yang akan membuat pengakuan secara pribadi bahwa Yesus adalah Mesias.

Pointer Aplikasi
1. Yesus adalah Mesias yang diurapi, ditahbiskan menjadi penguasa atau raja surga dan bumi. Dialah kota benteng tanduk keselamatan, tempat perlindungan yang kuat, kuasa apapun tidak sanggup menggoncangnya, kepada-Nyalah kita berserah
2. Minggu-minggu pasion kita diingatkan akan kesengsaraan Yesus dalm perjuangan iman menuju kemenangan. Demikian juga kita sebagai pengikut Yesus akan terus diperhadapkan dengan tantangan-tantangan iman. Tantangan iman sering membuat kita sulit membedakan mana lawan dan mana musuh, seperti yang dirasakan oleh Yosua. Didalam kekalutanya menghadapi musuh yang tidak dikenal, dia masih sempat “bertanya :”kawankah engkau atau lawan? Dalam masa-masa kampaye Pil Pres dan Pil Leg, mungkin kita sulit menentukan mana yang benar dan mana yang tidak benar. Yosua disuruh untuk meanggalkan :kasutnya, karena tempat itu kudus, artinya dalam segala kebimbangan kita kita harus membawanya kehadirat Tuhan, dan menanggalkan semua hal-hal yang kotor dan kenazisan (baca: kasut)
3. Kuasa Roh Kudus yang akan membawa kita kepada kasih karunia. Hidup dalam kasih karunia membuat kita bersukacita, karena ada pengharapan untuk mendapatkan kemuliaan Tuhan dan mahkota kehidupan.


“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,
dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri
Akuilah Dia dalam segala lakumu ,
maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6)


Pdt. Saul Ginting
GBKP Rg. Bekasi

Minggu 17 Februari 2019, Khotbah I Korintus 1:18-25

Invocatio :

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya! (Roma 11:33).

Ogen :

Ibrani 12:18-24 (Tunggal)

Tema :

Kristus adalah Kekuatan dan Hikmat Allah

 

Jalan Tuhan tak terselami oleh setiap hati kita manusia, seperti tingginya langit dari bumi, demikian tingginya jalan Tuhan dengan jalan kita manusia. Bagi orang percaya salib adalah keselamatan, bagi dunia salib adalah kebodohan. Latar belakang Korintus di mana ada banyak karunia Roh yang terjadi yang diberikan Allah, namun banyak pula permasalahan di Korintus. Ada banyak golongan dalam jemaat, ada golongan Paulus, Kefas, Kristus, dan lain-lain. Belum lagi dalam jemaat tersebut ada golongan Yahudi dan golongan Yunani. Bagi golongan Yahudi, salib suatu batu sandungan dan bagi golongan Yunani suatu kebodohan (ay. 23). Paulus memiliki suatu uraian argumentasi yang sangat indah dalam menjawab pertanyaan orang Yunani dan dan Yahudi tentang makna Salib. Kedua golongan masyarakat ini memiliki pengaruh di jamannya. Orang Yunani mencari hikmat: mereka terkenal dengan para filsufnya dan sudah memiliki pikiran yang sangat maju pada jamannya dengan mengembangkan nalar dan pikiran-pikiran logis. Mengapa bagi orang Yunani salib sebagai kebodohan? Salib dalam pandangan mereka adalah kutuk atau akhir perjalanan bagi seorang yang memiliki hukuman berat. Maka sungguh tak masuk akal bagi mereka kalau salib adalah jalan keselamatan dari Allah. Demikian halnya bagi Yahudi, salib pada Yesus dianggap sebagai skandal. Istilah ini muncul karena ketika vonis terhadap Yesus dihadapan Pilatus sebagaimana tuntutan para Sanhedrin, Saduse dan para ahli Taurat atas tuntutan hukum mati Yesus adalah karena menyebut dirinya Anak Allah. Sehingga olehNya Dia telah melakukan penistaan agama. Sekalipun vonis itu tidak berkaitan dengan itu, karena Pilatus sendiri menyebut Yesus tidak bersalah, namun kehadiran Yesus ditengah-tengah Yahudi menjadi kebencian bagi para imam, Ahli Taurat dan tokoh-tokoh Agama Yahudi di jamannya hingga mereka terus merencanakan dan mencari cara untuk membunuh Yesus.

Dari penjelasan Paulus tentang salib maka sesungguhnya apa yang dianggap Yunani sebagai kebodohan dan bagi orang Yahudi sebagai batu sandungan sesungguhnya sangat terbalik. Pemberitaan salib Kristus adalah hikmat Allah dan kekuatan Allah dalam menyelamatkan manusia. Bahkan bagi Paulus sendiri hikmat dunia telah membuat manusia tidak mengenal Allah. Yang bodoh bagi Allah lebih besar dari hikmat manusia, atau yang lemah dari Allah adalah lebih kuat dari pada manusia. Jadi siapakah yang sesungguhnya berhikmat atau jalan hikmat, apakah hikmat manusia yang mau binasa itu atau mereka yang percaya yang sekalipun dianggap manusia suatu kebodohan? Pada ayat 24-25, jelas Paulus menyebutkan “tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.”

Jalan salib adalah jalan yang dipakai Allah untuk menyelamatkan manusia, jalan salib ini merupakan alur pikir yang sungguh terbalik bahkan pikiran bodoh bagi mereka yang menganggap dirinya berhikmat di jamannya. Manusia dibenarkan Allah melalui Kristus bukan karena benar, sama sekali tidak! Manusia berdosa dan semestinya mendapatkan hukuman mati, karena dosa namun Kristus membenarkan manusia melalui pengorbanan Kristus di salib sehingga dengan itu memperoleh pembenaran sebagai anugerah Allah di dalam Kristus.Pengudusan di dalam Kristus dilakukan lewat pengorbanan Kristus yang rela mati di kayu salib dan memberikan hidupNya. Kematian Kristus di kayu salib adalah sebagai korban penghapusan dosa yang sekali untuk selamanya demi menyelamatkan manusia. Darah Yesus membasuh dosa, manusia tidak dapat bersih oleh karena perbuatannya sendiri atau hasil usahanya sendiri, manusia dikuduskan hanya oleh darah Yesus Kristus yang ditumpahkan untuk tebusan dosa.Manusia berdosa adalah budak dosa dan manusia diperhamba dosa, karena itu Kristus telah menebus kita dari perhambaan dosa dan kita menjadi milik Kristus.

Salib Yesus menyatakan bahwa Allah yang kita kenal dan sembah bukan hanya Allah yang jauh (transenden), tetapi juga Allah yang dekat dengan kita (imanen), yang turun ke bumi memberi penebusan bagi kita (Ibrani 12:18-24, bacaan pertama). Pandangan tentang Allah yang transenden, yang Maha Kudus, yang jauh, menakutkan bagi manusia untuk mendekatinya, begitulah yang ditemukan dalam budaya Perjanjian Lama. Manusia perlu melakukan ritual suci untuk menghampiri Allah di tempat kudusNya. Bandingkan penggambarannya dalam Ibrani 12:18-21, dimana Allah digambarkan seperti gunung yang tidak dapat disentuh, api yang menyala-nyala, kekelaman, kegelapan, angin badai, bunyi sangkakala, suara yang menggentarkan dan menakutkan. Penulis menggambarkan keadaan bagaimana nabi Musa dan bangsa Israel dulu mengalami suara Tuhan, langsung, ketika mereka ada di gunung Sinai (bd. Ulangan 9).Pandangan penulis Kitab Ibrani, tentang Allah yang dikenal dalam Kristus Yesus, adalah Allah yangimanen, akrab, dekat. Bandingkan penggambarannya dalam Ibrani 12:22-25, dimana Allah digambarkan sebagai Bukit Sion, Kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi, kumpulan yang meriah bersama beribu-ribu malaikat, jemaat-jemaat anak-anak sulung, Allah yang menghakimi semua orang, yang hidup bersama roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, Yesus Pengantara perjanjian baru.Dan melaluiNya orang Kristen dimampukan untuk mendatangi hadirat Allah dan mengalami hubungan yang akrab dan intim.Inilah hikmat Allah dan kekuatan Allah di dalam salib yang menjadi jalan keselamatan bagi manusia.

Kenyataan dalam gereja saat ini juga ada golongan Yahudi dan Yunani. Golongan Yahudi selalu ingin melihat tanda-tanda ajaib dalam gereja (mukjizat); sementara golongan Yunani selalu berpikir rasional dan bisa diterima dengan akal pikiran manusia dan harus memperhatikan kepentingan orang banyak dan perbuatan baik. Namun, salib adalah nyata bahwa Allah berinkarnasi ke dunia, untuk memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi orang berdosa.Kristus adalah fokus bukan manusiadengan segala kecerdasan dan kebijaksanaan filsafat hidupnya. Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah, sebab itu jagalah supaya kita jangan menolak Dia, tetapi menjadikan Dia sebagai sumber hikmat dalam kehidupan kita. Seperti yang tertulis dalam Invocatio “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya!” (Roma 11:33).Amin


Pdt. Melda Tarigan, STh
GBKP Rg. Pontianak

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD