Minggu 10 Februari 2019, Khotbah Wahyu 3:1-6

Invocatio :

Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh (Mazmur 139:2)

Bacaan :

Keluaran 33:1-6

Thema :

Allah Mengetahui Semua Perbuatan

 

I. Pendahuluan
Epiphania berasal dari bahasa Yunani yang berarti penampakan atau penyataan. Secara teologis, istilah ini menekankan penyataan kenyataan Ilahi yang tadinya tersembunyi bagi manusia, baik dalam bentuk penampakan diri maupun melalui perbuatan dan perkataan yang melaluinya kehadiranNya diketahui manusia. Karena itu dalam masa raya Epifani ini, kisah-kisah kehidupan Yesus dari masa kecilNya yang dilaporkan singkat dalam Injil maupun pembaptisan dan berbagai kisah perbuatan hidupNya sejak awal pelayananNya. Masa raya ini juga seringkali dijadikan saat untuk menghayati misi gereja pada dunia.

Ada beragam alasan mengapa seseorang atau sebuah gereja berhenti memberikan pelayanan yang terbaik kepada Tuhan. Salah satunya adalah ketidaksempurnaan cara dan hasil pelayanan mereka. Situasi ini membuat mereka menjadi putus asa. Melalui khotbah hari ini kita akan belajar bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah diri dan terus mencoba memberikan yang terbaik kepadaNya. Gereja Sardis tidaklah sempurna. Walaupun demikian, Tuhan terus menasihati mereka untuk menjadi lebih baik.

II. Isi
Dalam setiap pendahuluan surat kepada tujuh jemaat di Wahyu 2-3, Tuhan Yesus memperkenalkan diri secara khusus sesuai dengan situasi jemaat yang dituju. Kepada jemaat Sardis Ia mengungkapkan diriNya sebagai pemegang tujuh roh. Angka tujuh di sini bukan secara hurufiah (jumlah tujuh), tetapi menyiratkan kesempurnaan (bnd. Why. 1:4). Roh Kudus adalah Roh yang sempurna dan menyempurnakan. Ia diutus ke dalam dunia untuk mengamati (bnd. Why. 5:6) sekaligus memurnikan (bnd. Why. 4:5). Dalam konteks jemaat Sardis yang keadaan dalam berbeda dengan keadaan di luar (bnd. Why. 1:2), sangat relevan apabila Tuhan Yesus memperkenalkan diri sebagai pemegang Roh Allah yang memurnikan.

Yesus juga sebagai pemegang tujuh bintang. Yang dimaksud dengan tujuh bintang adalah tujuh malaikat jemaat (bnd. Why. 1:16, 20; 2:1). Walaupun beberapa penafsir menduga malaikat jemaat adalah benar-benar malaikat, namun kita sebaiknya memahaminya sebagai para pemimpin jemaat. Kalau Tuhan Yesus memegang para pemimpin jemaat, ini menunjukkan perlindungan sekaligus kekuasaan Tuhan atas jemaat. Yang empunya gereja adalah Tuhan Yesus, bukan para pemimpin rohani.

Yesus juga sebagai Allah yang mahatahu (“Aku tahu ...”). Ia tahu apapun yang dikerjakan jemaat Sardis. Bahkan tatkala orang lain tidak mampu melihat yang sebenarnya, Kristus mengetahui apa yang terjadi (ayat 1b). Ketika hanya ada sedikit jemaat yang masih loyal kepada kebenaran, Kristus juga mengetahuinya (ayat 4). Di bagian lain dijelaskan bahwa Kristus ada di tengah-tengah kaki dian (bnd. Why. 1:12-13, 20) dan berjalan di antara mereka (bnd. Why. 2:1), karena itu Ia mengetahui detail keadaans setiap jemaat.

Di mata Yesus yang mahatahu, kebobrokan jemaat Sardis tidak dapat disembunyikan. Secara khusus ada dua negatif yang disorot di bagian ini. Pertama, reputasi positif jemaat Sardis tidak sesuai dengan realita dalam gereja (ayat 1b). Kalimat “erngkau dikatakan hidup” menunjukkan bahwa pemilaian positif ini tidak berasal dari jemaat Sardis sendiri atau dari Tuhan Yesus. Orang lain yang memberikannya. Fakta bahwa orang lain memberikan penilaian yang tinggi terhadap jemaat Sardis pasti bukan tanpa alasan. Mereka mungkin dulu memang terkenal karena kelebihan-kelebihan mereka. Tatkala situasi internal mereka sudah banyak berubah, orang lain tetap tidak mengetahui perubahan negatif tersebut, sehingga mereka tetap menganggap jemaat Sardis sebagai jemaat yang baik. Celakanya, ketidaksesuaian antara realita dan reputasi/identitas memang sering terjadi. Ada orang-orang tertentu yang menganggap diri orang Yahudi padahal mereka sebenarnya bukan (bnd. Why. 2:9; 3:9).

Kedua, semua pekerjaan mereka tidak ada yang sempurna (ayat 2b). Kata “pekerjaan-pekerjaan” (bentuk jamak) muncul dua kali (bnd. Why. 1:1-2). Ini menunjukkan bahwa jemaat Sardis bukanlah jemaat yang pasif. Mereka tetap terlihat dinamis. Persoalannya, tidak ada pekerjaan mereka yang sempurna di mata Allah. Bukankah semua jemaat tidak sempurna? Mengapa hanya jemaat Sardis yang ditegus? Kesempurnaan di sini sebaiknya dilihat dari sisi kapasitas yang Tuhan berikan dan kesungguhan untuk mengoptimalkannya. Sama seperti perumpamaan tentang talenta (Mat. 25), berapa pun yang kita punya harus kita maksimalkan untuk Tuhan. Jemaat Sardis memiliki banyak kelebihan (secara finansial, popularitas, kelebihan masa lalu), tetapi pekerjaan mereka tidak ada yang sesuai dengan kelebihan itu.

Tidak seperti banyak orang yang hanya dapat memberikan kritikan, Kristus juga memberikan solusi. Kalau jemaat Sardis ingin berbenah mereka harus melakukan beberapa hal. Yang terutama, mereka harus waspada (ayat 2a). Kata “bangunlah” dalam teks Yunani lebih berarti “waspadalah”. Mereka tidak boleh seperti penduduk Sardis kuno yang membanggakan benteng mereka dan kurang waspada sehingga akhirnya dikalahkan musuh.

Mereka juga harus menguatkan apa yang masih tersisa (ayat 2a). Yang masih tersisa ini bukan orang (“siapa”), karena orang-orang di ayat 4 bukan yang sedang akan mati, melainkan justru dipuji Allah. Mereka juga harus memberikan respon yang benar terhadap firman Allah (ayat 3a). Para pendahulu mereka dahulu sudah mendengar dan menerima firman (bnd. “ingatlah dan bentuk lampau pada kata kerja mendengar dan menerima”). Sebagai generasi kedua penerima surat ini seharusnya “menuruti” (memegang erat) firman yang sudah diterima itu. Jika ini dilakukan, maka itu berarti bahwa mereka harus bertobat dan kembali pada masa yang dulu lagi.

Kristus bukan hanya memberikan kritikan dan solusi, tetapi Ia juga memotivasi mereka untuk mengambil solusi itu. Pertama, Kristus memberikan peringatan (ayat 3b). Ia akan datang seperti pencuri yang tidak terduga. Sebagian penafsir menganggap hal ini sebagai rujukan untuk kedatangan Kristus kedua kali di akhir zaman, karena metafora yang sama juga digunakan di tempat lain dalam konteks akhir zaman (bnd. Why. 16:15; Mat. 24:42-44; 1 Tes. 5:2; 2 Pet. 3:10). Walaupun demikian, sebagian yang lain meyakini bahwa kedatangan ini dapat merujuk pada hukuman pada masa sekarang di bumi. Alasan yang dikemukakan adalah bentuk pengandaian di ayat 3:3b. Selain itu, sebelumnya di Wahyu 2:5 Tuhan Yesus juga sudah memberikan ancaman semacam ini kepeda jemaat Efesus (“Aku akan mengambil kaki dianmu”).

Kedua, Kristus memberikan bukti konkrit yang positif (ayat 4a). Tidak semua jemaat Sardis adalah buruk. Ada beberapa jemaat yang dipuji Tuhan Yesus karena mereka tidak mencemarkan pakaian mereka. Kata “mencemarkan” biasanya terkait dengan penyembahan berhala dan atau perzinahan (bnd. Why. 14:4, 6-9). Orang-orang ini telah menunjukkan pekerjaan yang sempurna. Keberadaan mereka perlu disinggung oleh Tuhan Yesus sebagai salah satu bentuk motivasi bagi jemaat lain. Kalau sebagian orang ini bisa menjaga diri mereka, maka yang lain juga pasti bisa. Dengan kata lain, perubahan positif bukanlah hal yang mustahil.

Ketiga, Kristus memberikan janji-janji yang indah (ayat 4b-5). Salah satu bentuk motivasi lain untuk berubah adalah hal-hal baik yang akan diterima apabila mau berubah. Janji membuat orang tergugah dan bersemangat untuk melakukan sesuatu. Apa saja janji dari Tuhan Yesus untuk jemaat Sardis?

Sama seperti Kristus disebut “layak” karena kematianNya (bnd. Why. 5:9, 12), demikian pula para martir layak untuk berjalan bersama Kristus. Dianggap layak menderita bersama Kristus merupakan penghargaan besar bagi orang percaya (bnd. Flp. 1:29; 1 Pet. 2:19). Janji lain adalah kemenangan, yang disimbolkan dengan pakaian putih. Dalam Kitab Wahyu pakaian putih merujuk pada para martir (bnd. Why. 6:9-11; 7:14). Walaupun menurut penilaian dunia mereka terlihat kalah (dibunuh), namun mereka sebenarnya justru mendapatkan kemenangan sejati. Dalam tradisi Romawi pakaian putih dikenakan waktu perayaan kemenangan. Janji lain adalah kepastian keselamatan. Tidak seperti beberapa warga negara Romawi yang akhirnya dibatalkan kewarganegaraannya (dihapuskan namanya) karena melakukan tindakan tertentu yang fatal, namun orang percaya tidak akan dihapus dari kitab kehidupan. Hal ini tidak berarti bahwa ada kemungkinan orang-orang tertentu yang sudah dicatat namanya di kitab kehidupan pada akhirnya namanya terhapus. Ada atau tidaknya nama seseorang dalam kitab kehidupan sudah final sejak dunia belum dijadikan. Mereka yang namanya tidak tertulis di kitab itu memang sejak dunia belum dijadikan tidak tercantum di sana (bnd. Why. 13:8; 17:8; 20:12, 15; 21:27), bukan karena nama mereka terhapus di tengah perjalanan.

III. Refleksi
Bagaimana dengan keadaan kita dan gereja kita? Apakah di luar kita terlihat sibuk dan baik seperti jemaat di Sardis tetapi di dalamnya terdapat kematian yang memprihatinkan? Apakah gereja kita hanya terjebak pada rutinitas ibadah dan beragam program yang seolah-olah menunjukkan keaktifan, tetapi di dalamnya tidak ada sesuatu yang menyenangkan Allah? Mari kita secara serius mengintrospeksi diri kita dan kembali kepada Tuhan. Dia yang empunya gereja. Dia yang berkuasa dan memulihkan gerejaNya.

Tidak ada sesuatu pun tersembunyi dari hadapan Allah. Hidup kita terbuka luas di mata Allah. Allah mengetahui semua pekerjaan kita, Dia mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan sebagai orang percaya dan Dia menilai segala pekerjaan kita. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus mengerti konsep ini, bahwa Tuhan selalu memperhatikan hidup kita dan akan selalu memberikan nilai buat setiap pekerjaan kita. Jika buruk, maka Dia akan berkata buruk sekali pekerjaan kita, jika baik, maka Dia akan menyatakan pujian dan upah kepada kita. Penilai terbaik dari setiap pekerjaan, pelayanan dan ketekunan kita adalah Allah sendiri.

Tuhan tidak menilai seberapa hebat kita ketika kita melayani di hadapan orang banyak. Tuhan tidak merasa kagum ketika kita bisa melakukan segala pekerjaanNya dengan baik. Tetapi Tuhan akan merasakan bahwa kita mengasihi Dia ketika kita hidup di dalam persekutuan yang benar dengan Dia. Bukan besarnya pekerjaan yang kita lakukan yang membuat Allah bangga, tetapi besarnya kasih kita kepada Allah di dalam hubungan kita secara pribadi dengan Tuhan, akan memberikan nilai terbaik bagi kita di hadapan Tuhan. Ketika kita menjalani pelayanan dengan berfokus kepada Tuhan maka semua pelayanan yang kita lakukan menyenangkan hati Tuhan. Sebab Tuhan mengetahui semua pekerjaan yang kita lakukan dan Dia akan selalu memberikan penilaian bagi setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Pdt. Andreas Pranata S. Meliala, S.Th
GBKP Rg. Cibinong

Minggu 03 Februari 2019, Khotbah Lukas 4:16-12

Invocatio :

Mazmur 100 : 5

Bacaan :

Mazmur 107 : 1 – 9 (Responsoria) 

Tema :

“Dalam Yesus Sudah Tergenapi Isi Alkitab “ (“Pustaka Si Badia”) 

 

• Allah sangat Mengasihi manusia yang telah diciptakanNya. KasihNya tersebut terlihat dalam seluruh isi Alkitab (“Pustaka Si Badia”). Dalam Perjanjian Lama diceritakan Bagaimana Peroses penciptaan manusia dan mula mulanya manusia jatuh kedalam dosa. Dosa membuat keterpisahan antara manusia dengan Allah tetap kasihNya tetap.

• Oleh karena itu Allah memilih Abraham untuk menjadi Bapa dari segala orang percaya dan menjadi Bapadari segala Bangsa yang Besar, bangsa Allah, Bangsa Israel yang akan lahir penolong dan penyelamat manusia dari kuasa dosa agar dapat bersatu kembali dengan Dia. Nabi-nabi yang ada ditengah-tengah Bangsa Israel bernubuat mengenai kedatangan penolong yang sesungguhnya, juruselamat, mesias. Meskipun dalam pengertian bangsa Israel mesias adalah yang menyelamatkan bangsa Israel yang akan membebaskan mereka dari penjajahan dan perbudakan bangsa-bangsa yang ada disekitar mereka. Tapi sesungguhnya Juruselamat ialah yang akan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Dia yang datang kedalam dunia ini berasal dari keturunan Abraham. Dalam perjanjian Baru, apa yang sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama karena kedatangan mesias sudah digenapi. Artinya Juruselamat manusia itu sudah datang untuk menyelamatkan Manusia. Inilah yang diungkapkan dalam bahan kotbah kita.

• Menurut kesaksian kitab injil Lukas, setelah Yesus di Baptis di sungai Yordan, dia dicobai oleh Iblis, pergi Yesus ke daerah Galilea untuk memulai memberikan pengajaranNya. Berita karna Yesus sudah tersebar di daerah tersebut dan orang-orang menguji ia karena pengajaranNya. Sampailah Yesus di Nazareth. Daerah Nazareth adalah daerah yang cukup penting karena merupakan daerah jalur perdagangan pada masanya. Tetapi Nazareth adalah daerah yang agak terpencil sehingga kurang terbuka pemikiran masyarakatnya ( bdk. Yohanes 1 : 46 ). Sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh Yesus maka kemanapun Dia pergi, Dia pergi ke Sinagoge pada hari sabat.

• Biasanya didalam Sinagoge tersebut orang Israel berdoa, membaca Torat dan kitab nabi-nabi dan kotbah. Dikarenakan sudah menyebar berita mengenai pengajaran Yesus di wilayah Galilea, orang-orang meminta agar Yesus membacakan isi “ Pustak Si Badia”. Bagian yang dibacakannya adalah kitab Nabi Yesaya ( nabi yang bernubuat di Yehuda sekitar tahun 740 – 701 SM). Isi bagian kitab tersebut adalah mengisahkan tentang kedatangan juruselamat yang di penuhi oleh Roh Allah yang membebaskan bangsaNya, membebaskan orang yang tertawan, tertindas dan memberitakan masa Allah membebaskan bangsaNya (ayat 18 -19 ). Setelah selesai Yesus membaca, duduk IA dan mengajarlah Dia. Dia berkata “Sendah enggo seh isi pustaka si Badia si ibegidu ndai” (Bahasa Karo).

• Apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus ingin menyampaikan bahwa kedatanganNya kedalam dunia adalah untuk menggenapi isi “ Pustaka si Badia” yang menceritakan tentang Kasih Allah yang kekal. Kasih Allah yang sempurna melalui kehadiaran Yesus Kristus menebus dosa manusia.

• Dalam minggu Ephipanias yang kelima ini memberikan penegasan kepada kita bahwa kedatangan Yesus ke dalam dunia ini adalah untuk menggenapi isi “ Pustaka Si Badia”. Yesus datang untuk “menerangi” kehidupan dalam dunia ini untuk membawa kabar sukacita bagi setiap orang dengan membebaskan orang yang tertawan, menyembuhkan yang sakit dan sebagainya. Artinya “ Terang “ tersebut dapat dirasakan oleh apa yang dilakukan oleh Yesus yang membawa kebaikan bagi orang lain. Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya? Kehadiran kita di dalam dunia ini harus membawa berita pembebasan bagi orang lain agar orang lain dapat merasakan kehadiran kita dan mengucap syukur kepadaNya.

Pdt. Prananta Jaya Ginting Manik, S.Si (Teol.) MM
GBKP Runggun Bogor Barat

Minggu 28 Januari 2019, Khotbah Yesaya 45:18-25

Invocatio :

Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku (Keluaran 20:3)

Bacaan :

Kisah Para Rasul 15:1-11

Thema :

Allah Berkuasa Mengatur Semua Yang Ada

I. Pendahuluan
Keadaan krisis mungkin dialami oleh hampir semua orang termasuk kita semua. Masa krisis itu mungkin dalam hal kerohanian, mungkin dalam kehidupan sosial kita yang buruk, keuangan kita sulit. Dalam kondisi yang demikian apakah yang paling menolong kita dalam bertahan hingga keluar dari masa tersebut? Yesaya hidup pada saat bangsa Yehuda berada dalam berbagai krisis, baik religius (penyembahan berhala dan ibadah yang munafik), sosial (ketidakadilan), maupun politik (munculnya Asyur sebagai kekuatan tandingan bagi Mesir). Di tengah masa krisis seperti ini bangsa Yehuda diingatkan untuk kembali kepada Tuhan, meninggalkan dosa mereka dan tidak bersandar pada kekuatan bangsa lain. Keselamatan adalah dari Tuhan. Hanya saja mereka perlu bertobat dan bersandar pada Tuhan.

II. Isi
Bahan khotbah ini mau memberikan penegasan bahwa Allahlah yang berkuasa di atas segalanya di muka bumi ini. Dalam ayat 18 ini terlihat bahwa bangsa Yehuda mengikat diri selama-lamanya untuk melekat kepada Allah, dan tidak akan pernah meninggalkan Dia, tidak akan pernah menyangsikan Dia. Apa yang sudah ditanamkan sebelumnya dalam bahan khotbah ini (ay. 18) diulangi lagi di sini, untuk mendorong umat Allah supaya tetap setia kepada Allah, dan berharap bahwa Dia juga akan setia kepada bangsa Yehuda: Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain. Bahwa Tuhan yang kita layani dan kita percayai itu adalah satu-satunya Allah tampak melalui dua terang besar, yaitu terang alam dan terang wahyu. Terang alam itu tampak dalam ayat 18. Sebab Ia sudah menjadikan dunia, dan karena itu sudah sewajarnya Ia menuntut penyembahan dari bangsa Yehuda, “beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, Akulah TUHAN”, TUHAN yang berdaulat atas semuanya, dan tidak ada yang lain. Ilah-ilah bangsa kafir tidak mencipta bahkan mereka tidak berlagak melakukannya. Di sini Allah menyebutkan penciptaan langit, tetapi berbicara lebih panjang lebar tentang penciptaan bumi, karena bumi adalah bagian dari ciptaan yang paling dekat dengan pandangan kita dan paling kita kenal.

Tuhan itu adalah satu-satunya Allah yang tampak melalui terang wahyu. Sebagaimana karya-karya Allah secara berlimpah membuktikan bahwa Dia saja Allah, dan penyingkapan yang telah dibuat-Nya tentang diri-Nya sendiri dan pikiran serta kehendak-Nya melalui firman itu. Sabda-sabda-Nya jauh melebihi sabda-sabda para dewa kafir, begitu pula dengan pekerjaan-pekerjaan-Nya (ay. 19). Dalam ayat 19 ini ada tiga hal keutamaan yang diletakkan mengenai semua yang telah dikatakan Allah adalah jelas, memuaskan, dan benar. Dalam cara penyampaiannya, apa yang dikatakan Allah itu jelas dan terang-terangan: Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Dewa-dewa kafir menyampaikan sabda-sabda mereka dari dalam liang dan gua, dengan suara yang berat dan bergema, dan dalam ungkapan-ungkapan yang bermakna ganda. Tetapi Allah menyampaikan hukum-Nya dari puncuk Gunung Sinai di hadapan ribuan umat Israel, dalam suara yang jelas, terdengar, dan dimengerti (bnd. Kel. 20: 3 bahan Invocatio). Dalam penggunaan dan manfaatnya, apa yang dikatakan Allah itu sangat memuaskan: Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub, yang meminta petunjuk pada sabda-sabda ini dan yang mengatur diri mereka dengannya, untuk mencari Aku dengan sia-sia, seperti yang dilakukan ilah-ilah palsu kepada para penyembah mereka. Ini meliputi semua jawaban penuh anugerah yang diberikan Allah, baik kepada orang-orang yang meminta petunjuk dari-Nya (bagi mereka firman-Nya adalah pembimbing yang setia) maupun kepada orang-orang yang berdoa kepada-Nya. Keturunan Yakub adalah umat pendoa. Seperti halnya Dia dalam firman-Nya telah mengundang mereka untuk mencari Dia, demikian pula Ia tidak pernah menolak doa-doa mereka yang disertai rasa percaya, tidak pula mengecewakan harapan-harapan mereka yang didasarkan atas rasa percaya. Dalam hal isinya, apa yang dikatakan Allah itu benar dan tak terbantahkan, dan tidak ada kesalahan di dalamnya: Aku TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus, dan yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan alasan-alasan kekal tentang kebaikan dan kejahatan. Ilah-ilah bangsa kafir menuntut kepada para penyembah mereka apa yang merupakan cela bagi kodrat manusia dan yang cenderung membuat orang berbuat baik. Oleh karena itu Dia Allah, dan tidak ada yang lain.

Dalam ayat 20 ada penegasan kepada para penyembah berhala bahwa mereka bersalah, untuk menunjukkan kepada mereka kebodohan mereka dalam menyembah allah-allah yang tidak dapat menolong mereka dan malah mengabaikan Allah yang dapat menolong mereka. Hendaklah semua orang yang terluput di antara bangsa-bangsa, bukan hanya orang-orang Yahudi, melainkan juga mereka dari bangsa-bangsa lain yang oleh Koresh dibebaskan dari pembuangan di Babel, hendaklah mereka datang, dan mendengar apa yang akan dikatakan melawan para penyembah berhala, supaya mereka dan juga orang-orang Yahudi disembuhkan darinya, supaya Babel yang sudah sejak dulu kala merupakan induk penyembahan berhala, sekarang dapat menjadi kuburnya. Hendaklah mereka semua yang mencari perlindungan datang dan berkumpul bersama-sama. Allah memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada mereka demi kebaikan mereka sendiri yaitu bahwa penyembahan berhala adalah hal yang bodoh dan dungu, karena beberapa alasan. Pertama, penyembahan berhala berarti menegakkan perlindungan bohong bagi diri mereka sendiri: Mereka mengarak patung dari kayu, sebab itulah patung pada dasarnya. Meskipun mereka membalutnya dengan emas, menghiasinya dengan hiasan-hiasan dan menjadikannya sebagai allah, namun tetap saja itu cuma kayu. Mereka berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan sebab ia tidak dapat mendengar, ia tidak dapat menolong, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Alasan yang kedua, penyembahan berhala berarti menegakkan saingan melawan Allah, satu-satunya Allah yang hidup dan benar (ay. 21). Tak ada yang lain yang pantas memerintah. Dia adalah Allah yang adil dan memerintah dalam keadilan, dan akan melaksanakan keadilan bagi mereka yang tertindas. Tak ada yang lain yang mampu menolong. Sama seperti Dia adalah Allah yang adil, demikian pula Dia adalah sang Juruselamat yang dapat menyelamatkan tanpa bantuan siapapun, tetapi yang tanpa-Nya tak seorang pun dapat selamat.

Ayat 22 adalah penghiburan dan dorongan bagi semua penyembah Allah yang setia, siapapun mereka. Mereka yang menyembah berhala berdoa kepada allah yang tidak dapat menyelamatkan. Tetapi Allah Israel mengatakannya ke seluruh penjuru bumi, kepada umat-Nya, meskipun mereka tersebar sampai ke ujung bumi dan tampak terhilang dan terlupakan dalam penyebaran mereka, “hendaklah mereka berpaling kepada-Ku saja dengan iman dan doa mereka akan diselamatkan”. Sebab Dia adalah TUHAN, dan tidak ada yang lain. Dua hal dijanjikan di sini, bagi kepuasan berlimpah semua orang yang dengan iman memandang pada sang Juruselamat: pertama, bahwa kemuliaan Allah yang mereka layani akan sangat diagungkan. Ini akan menjadi kabar baik bagi semua umat Tuhan, bahwa, betapapun mereka dan nama mereka direndahkan, Allah akan ditinggikan (ay. 23). Hal ini diteguhkan dengan sumpah, supaya kita beroleh dorongan yang kuat. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah (dan Allah tidak dapat bersumpah demi yang lain yang lebih besar, karena tidak ada yang lebih bear dari Dia Ibr. 6:13). Dari mulut-Ku telah keluar suatu firman, dan itu tidak akan ditarik atau kembali dengan hampa. Firman itu telah keluar dalam kebenaran, sebab sangatlah masuk akal dan wajar saja di dunia bahwa Dia yang menjadikan segalanya layak pula menjadi Tuhan atas semuanya, bahwa, karena semua makhluk berasal dari Dia, maka mereka semua harus berbakti kepada-Nya. Kedua, bahwa kesejahteraan jiwa-jiwa yang mereka pedulikan akan dijamin dengan berhasil.

III. Refleksi
Pada hari ini Tuhan menyapa kita dengan firman-Nya disaat kita merenungkan dan mengucap syukur atas semua pengalaman yang telah kita jalani, dan yang akan kita jalani ke depan yang akan dianugerahkan Tuhan. Mungkin semua kita merasa kagum dengan kemajuan luar biasa yang dicapai oleh manusia dewasa ini dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan-kemajuan itu telah membuat kehidupan kita tertolong dalam banyak hal, seperti peralatan pertanian, pengobatan, terlebih dalam hal transportasi dan komunikasi. Kita membayangkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu akan membuat kehidupan manusia di seluruh dunia lebih sejahtera, lebih damai dan bersukacita. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ada sedikit orang hidup dalam kekayaan dan kemegahan, namun banyak orang lainnya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Ada sedikit orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi sangat banyak orang yang tersisih, tertindas, dan menderita oleh mereka. Mengapa hal demikian yang terjadi? Dengan sederhana dapat diterangkan bahwa manusia tidak menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih itu menolong. Tetapi semua itu telah dipergunakan untuk bersaing merebut dan menguasai sumber-sumber daya kehidupan yang terbatas itu. Di samping ancaman kemiskinan dan penderitaan fisik lahiriah, kita juga mengalami penderitaan dalam kehidupan jiwa dan rohani, terlebih relasi dengan sesama, dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Hubungan kita dengan sesama, dalam keluarga dan masyarakat, tidak lagi menikmati kedamaian dan kasih. Firman Tuhan hari ini menyebutkan, semua dijelaskan tadi adalah perilaku manusia penyembah berhala, sehingga tidak lagi mengenal keadilan dan kasih. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta semua produknya tidak lagi dipergunakan sebagai alat untuk saling menolong, tetapi menjadi tujuan dan nilai yang dikejar dan disembah. Inilah yang disebut dengan penyembahan berhala.

Apa yang kita alami sekarang ini bukanlah persoalan yang baru. Keadaan seperti ini telah terjadi di sepanjang sejarah manusia berdosa, masyarakat dan bangsa-bangsa. Hal seperti itulah yang terjadi ketika umat Israel diperbudak di Mesir dalam penyembahan berhala. Firaun memperbudak orang Israel demi memperoleh kekuasaan, kemewahan dan kemegahan dirinya dan kaumnya. Orang Israel dipaksa dan diperbudak untuk hidup mengabdikan segenap waktu dan tenaga hanya untuk memperoleh roti dan daging. Baik Firaun dan bangsa Mesir maupun bangsa Israel semua telah terbelenggu penyembahan berhala. Tidak ada waktu istirahat. Tidak dapat menikmati persekutuan persaudaraan. Tidak ada damai. Tidak ada sukacita. Dari penyembahan berhala itulah mereka dipanggil untuk hidup menyembah Tuhan dan untuk dapat mengalami dan menikmati keadilan-Nya (ay. 24). Tuhan menyatakan keadilan-Nya: Ia menuntun dan memberi kebutuhan jasmani mereka. Tetapi Tuhan juga memberi yang lebih utama, yaitu kehidupan rohani mereka: waktu istirahat (sabat) untuk dapat bersekutu dengan Tuhan dan dengan sesama, dalam damai dan sukacita, menerima dan berbagi atas anugerah pemberian Tuhan.

Dalam memasuki tahun yang baru tahun 2019, tahun pelayanan yang baru. Kita akan diminta untuk lebih giat lagi melayani Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam semua ritme pelayanan kita karena Dialah pengatur semua yang ada. Bukan kita yang harus dielu-elukan tapi Tuhanlah yang harus ditinggikan dalam setiap pelayanan kita. Sehingga kita tidak memberhalakan diri kita sebagai pimpinan jemaat. Tidak memberhalakan kekuatan kita. Tidak memberhalakan kehebatan gereja kita. Untuk memasuki kegiatan pelayanan ditahun yang baru ini kita akan diberi kekuatan oleh Tuhan. Di dalam khotbahnya tentang Doa Bapa Kami, Augustinus menyamakan Ekaristi atau Perjamuan Kudus dengan “makanan sehari-hari” (daily food) atau “roti sehari-hari” (daily bread). Gagasan ini, termasuk Cyprianus, yang menyebut Ekaristi atau Perjamuan Kudus sebagai “makanan bagi keselamatan” dan mengaitkannya dengan Doa Bapa Kami, yang mengajarkan kita untuk meminta makanan setiap hari. Jadi, memang sudah sangat jamak dipahami bahwa roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus terhubung secara spiritual dengan pemeliharaan Allah dalam hidup sehari-hari kita. Sama seperti Allah memelihara tubuh kita lewat makanan sehari-hari, demikianlah Ia memelihara spiritualitas kita melalui roti dan anggur perjamuan. Keseharian tampaknya menjadi titik temu kedua jenis makanan ini. Roti dan anggur memang dipakai Yesus untuk merepresentasikan tubuh dan darah-Nya sebab keduanya adalah makanan dan minuman sehari-hari. Maka, para murid diharapkan dapat terus mengenang Yesus saat mereka makan secara rutin setiap hari. Itulah juga sebabnya dalam beberapa gereja, tradisi merayakan Ekaristi setiap hari tetap dijaga. Paulus menegaskan hal ini dengan berkata, “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1 Kor. 11:26). Kata setiap kali di sini sebenarnya merupakan terjemahan dari hosakis an yang lebih berarti ‘sesering’. Di sini titik persoalannya. Sementara beberapa gereja memakai ayat ini untuk memelihara tradisi Ekaristi atau Perjamuan Kudus sesering mungkin, bahkan setiap hari, beberapa kalangan gereja-gereja Protestan justru banyak yang menafsirkan setiap kali dalam pengertian ‘pada waktu-waktu yang ditetapkan’. Penulis secara pribadi memahaminya secara berbeda. Kata hosakis an yang Yesus ucapkan sangat mungkin menunjuk pada makanan sehari-hari yang lazim disantap orang-orang Yahudi, yaitu roti dan anggur. Artinya, setiap kali mereka makan setiap hari, mereka diingatkan pada Kristus yang telah memberikan tubuh dan darah-Nya. Maka, makanan sehari-hari segera memiliki makna spiritual yang mendalam. Tak ada lagi pemisahan antara makanan jasmaniah dan makanan rohaniah. Sebuah catatan kecil: mungkin kita harus menghentikan doa yang secara populer kerap dipanjatkan setelah acara kebaktian dan sebelum acara makan bersama. Doa-doa itu berbunyi kurang lebih, “Tuhan, kami telah menikmati makanan rohani dan kini kami akan menikmati makanan jasmani”. Doa-doa semacam ini sangat memisahkan yang rohani dan yang jasmani. Keduanya berbeda, namun tak terpisahkan. Yang satu memaknai yang lain. Makanan jasmani yang kita santap sungguh bermakna rohani, sebab Allahlah yang memberikan dan menyelenggarakannya bagi kita. Sebaliknya, setiap firman yang kita terima sebagai makanan rohani sesungguhnya harus mewujud ke dalam seluruh aktivitas tubuh yang jasmani sifatnya.


Pdt. Andreas Pranata S. Meliala, S.Th
GBKP Rg. Cibinong

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD