Minggu 21 April 2019, Khotbah Yohanes 20:24-31 (Paskah I)

Invocatio :

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa
kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya” (Filipi 3:10)

Bacaan :

Mazmur 21:1-7

Tema :

Yesus Bangkit, Percayalah

 

PENDAHULUAN
Paskah (Ibrani:pesakh; Junani:to paskha), pasca artinya "yang telah lewat". Paskah sangat penting bagi kehidupan bangsa Israil begitu juga bagi kehidupan orang Kristen. Mengapa demikian ? Karena bagi bangsa Israil Paskah menunjukkan bagaimana perbuatan Tuhan membebaskan bangsa Israil dari Mesir dan bagi orang Kristen, Paskah adalah Tuhan di dalam Yesus Kristus yang sudah mengalahkan kuasa kematian. Ini merupakan peristiwa yang paling menentukan hidup kita. Jika Paskah tidak terjadi, maka sia-sialah iman percaya kita, sia-sia Natal (kelahiranNya), sia-sia kita menaikkan doa-doa kita, karena kita berdoa kepada Tuhan yang mati. Oleh karena itu, jika Kristus tidak bangkit maka IA sama halnya seperti pahlawan biasa yang telah gugur dan tidak akan dapat memimpin kita dimasa kini dan tidak akan sanggup menyelamatkan kita.

Berita Paskah (kebangkitan) Yesus menjadi berita yang mengagetkan bagi murid-murid Yesus pada saat itu, karena peristiwa yang nyata ini tidak pernah dilihat langsung oleh murid-murid. Apalagi peristiwa penyaliban dan kematian lalu dikuburkan di hari jumat menjelang Sabat lalu mereka tahu. Memang murid-murid Tuhan Yesus memiliki sifat, pengetahuan dan pengalaman yang berbeda-beda, secara khusus dengan Tomas yang mempunyai sifat keras, emosional, mengandalkan kemampuan manusia dan mudah putus asa. Ia tidak begitu saja gampang percaya akan kebangkitan Yesus, jika tidak didukung dengan bukti nyata. Marilah kita lihat respon Tomas ketika mendengar berita kebangkitan Yesus.

Isi
Penampakan diri Yesus yang bangkit kepada Tomas merupakan ketiga kalinya. Hal ini terjadi karena Tomas tidak percaya akan pemberitaan teman-temannya. Tomas meminta bukti kesaksian temannya tentang perjumpaannya dengan Yesus, dimana yang mereka lihat itu memang benar-benar Yesus yang bangkit bukan hantu seperti yang diberitakan pada saat itu. Untuk mewartakan Yesus sudah bangkit menurut Tomas butuhlah bukti supaya orang-orang yang mendengar menjadi percaya. Bagaimana mungkin orang percaya kalau tidak ada buktinya. Karena prinsip dan pola pikir Tomas maka ia diundang oleh Yesus untuk mengalami sendiri kebangkitan Yesus supaya ia menjadi percaya. Yesus mengatakan : "Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah". Artinya Tomas sudah berada di jalan yang salah yaitu tidak percaya, tapi sekarang ia diberi kesempatan untuk mengubah sikapnya. Kristus yang bangkit tidak memaksa mereka yang melihat penampakanNya untuk percaya, tapi kepercayaan itu biarlah tumbuh dari komitmen orang tersebut.

Pengakuan Tomas "Ya Tuhanku dan Allahku" (ayat 28) menunjukkan taraf tertinggi/puncak keimanan dalam Injil Yohanes (ayat 28). Pengakuan Tomas ini nyata dalam seluruh aspek kehidupannya sehingga dia mati sebagai martir yang dibunuh dengan panah saat ia sedang berdoa. Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Ayat 29). Ayat 29 ditujukan Yesus bagi mereka yang percaya atas pemberitaan orang lain, sebab kepercayaan seperti itu lebih mulia dari pada kepercayaan Tomas. Kepercayaan yang lebih mulia itulah yang mendasari dan mendukung gereja Kristen berkembang sampai saat ini. Kepercayaan yang benar harus terlepas dari penglihatan, hal ini disejajarkan dengan orang percaya karena adanya mujizat. Alangkah berbahagianya orang percaya kepada Yesus walaupun tidak melihat mujizat.

Oleh karena itu, dari mana kita percaya bahwa Yesus telah bangkit ? Hal itu dapat kita percayai dari kuasa kebangkitan Yesus itu yang bekerja sampai hari ini. Nama Yesus berkuasa dan seperti yang dikatakan dalam ibrani 13:8, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Dan ini juga dikatakan oleh Paulus dalam nas invocatio, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia (Yesus) dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya." Paulus menunjukkan Mengenal Dia (Yesus) secara mendalam bukan hanya sekedar tahu sejarahNya dan tahu firmanNya melainkan mengenal dalam arti mengalami Yesus dalam kehidupan dan pelayanannya, demikian juga kuasa kebangkitanNya, benar-benar dialami kuasa itu di dalam hidup dan pelayanannya. Untuk itu Paulus juga bersedia bersekutu dalam penderitaan Kristus, jadi bukan hanya mengalami kuasa kebangkitanNya tapi juga bersekutu dalam penderitaanNya, bersedia menderita karena melakukan firman Kristus, bersedia menderita karena nama Kristus yang dia beritakan, bahkan menjadi serupa dengan Yesus dalam kematianNya. Mengenal Kristus dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaan Kristus merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan keinginan terbesarnya untuk mengenal Yesus, oleh karena itu Kuasa kebangkitan itu sampai hari ini nyata bekerja pada diri orang-orang percaya, sama seperti ketika Yesus hidup di tengah-tengah umat manusia, Dia menyembuhkan, membuat mujizat dan sebagainya, maka sampai hari ini kuasa kebangkitan itu tetap bekerja dalam hidup orang percaya. Dalam nats bacaan, semua sukacita adalah sukacita atas kehadiran Allah yang menyelamatkan umat sehingga berkemenangan.

Aplikasi
Jika jaman ini kita masih beriman seperti Tomas, maka kita tidak akan menjadi orang percaya, karena bukti (saksi) kebangkitan Yesus mungkin tidak akan dilihat mata kepala kita. Karena itu alangkah bahagianya orang yang percaya walaupun tidak melihat, 2 Korintus 5:7, Paulus berkata “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat”. Tapi kita tidak pungkiri kalau iman kitapun terkadang “mencari bukti” kehadiran Allah. Ketika tantangan melanda hidup maka kita langsung ragu akan kehadiran Allah. Pada saat seperti ini terjadi, maka kita harus mengingat pengalaman Tomas. Sama seperti kepada Tomas, kepada kita pun dikatakan Yesus bahwa lebih bahagia orang yang percaya walaupun tidak melihat. Artinya bahwa kita tidak ragu tentang kehadiran Allah disetiap situasi kehidupan kita. Keyakinan ini juga dapat kita saksikan bagi semua orang, agar orang lain juga menjadi orang percaya walaupun tidak melihat. Amin

SELAMAT PASKAH


Pdt. Nur Elli br Tarigan
GBKP Runggun Karawang

Minggu 14 April 2019, Khotbah Yohanes 12:12-19

Invocatio :

"... Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, yaitu saat
yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. (1 Timotius 6 : 14 b - 15)

Khotbah :

Yohanes 12:12-19

Tema:

"KedatanganNya Membawa Damai".


Kata Pengantar
Minggu ini adalah minggu Passion yang ke VII, minggu terakhir kita merenungkan penderitaan Yesus sebelum Ia mati di kayu salib dan pada hari kamis yang akan datang semua orang kristen akan memperingati saat Yesus di tangkap dan di hukum mati di atas kayu salib.

Peristiwa Yesus di muliakan orang banyak ini terjadi ketika Yesus memasuki kota Yerusalem yaitu saat dimana Yesus terang terangan menunjukkan diriNya di tengah tengah orang banyak yang sudah berkumpul untuk merayakan paskah. Kalau kita membaca di dalam Yohanes 10:22-39 Yesus di tolak orang orang Yahudi dan mereka hendak melempari Yesus dengan batu untuk membunuhNya. Setelah Yesus luput dari maksud jahat orang-orang Yahudi mereka terus mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus. Kemudian Yesus pergi ke seberang sungai Yordan ke tempat Yohanes membaptis dahulu, Ia menyingkir "sembunyi" dari orang banyak terutama dari incaran orang orang Farisi dan tinggal di situ (bd. Yoh 10:40). Setelah itu kita membaca Yesus melakukan mujizat yang besar membangkitkan Lazarus yang telah mati terbaring empat hari di dalam kuburannya (bd. Yoh. 11:1-44) dan peristiwa itu membuat orang-orang Farisi, imam-imam kepala dan Mahkamah Agama semakin marah dan semakin bulatlah tekadnya untuk membunuh Yesus (bd. Yoh. 11:45-57). Kemarahan orang-orang Farisi dan imam-imam itu bukan hanya kepada Yesus mereka juga sepakat untuk membunuh Lazarus untuk menghilangkan bukti mujizat Yesus, untuk menggagalkan mujizat kebangkitan yang telah dilakukan Yesus. (bd. Yoh. 12:9-11). Yesus semakin terancam dan saat Yesus diserahkan, di tangkap dan di salibkan sudah sangat dekat.

Pembahasan Teks dan Pemberitaan
Berita tentang mujizat-mujizat yang telah di lakukan Yesus sangat melekat di hati orang banyak, terutama orang orang yang mengalami penderitaan, tekanan dan kemiskinan. Mereka sangat merindukan munculnya tokoh Mesias si Pembebas untuk melepaskan mereka dari segala penderitaan, penindasan dan kemiskinannya. Pada saat itu mereka datang ke Yerusalem untuk merayakan Paskah yaitu memperingati peristiwa kebebasan nenek moyang mereka dari tawanan bangsa Mesir. Mereka datang dari Yerusalem dan sekitarnya dan dari semua negeri. Sebagai penyembah yang sungguh sungguh, mereka datang lebih awal supaya dapat mengikuti upacara penyucian diri untuk melayakannya mengikuti ibadah Paskah.

Ditengah tengah penantian hari raya Paskah itu orang banyak mendengar berita bahwa Yesus sedang di dalam perjalanan menuju Yerusalem. Berita kedatangan Yesus itu sangat kuat mempengaruhi hati mereka, membangkitkan sukacitanya sebab akan terjawab harapannya tentang munculnya Mesias semakin dekat dan pasti. Orang banyak itu mengambil daun palem yaitu daun yang biasa dipergunakan terutama oleh orang orang miskin (jelata) untuk merayakan pesta suka cita dalam menyambut orang orang yang dihormati. Pohon palem adalah lambang kemenangan dan kejayaan. Dalam menyambut Yesus mereka tidak memiliki permadani yang indah untuk dibentangkan di jalan yang akan di lalui Yesus, mereka tidak memiliki alat musik untuk mengiringi penyambutan Yesus, tetapi yang dapat mereka lakukukan mereka telah menunjukkannya yaitu memberi hati dan suka citanya dan dalam kesederhanaannya melakukan upacara penyambutan. Berita kedatangan Yesus saja sudah sangat luar biasa membangkitkan kegirangan dan sukacitanya, tentulah lebih besar lagi ketika Yesus ada di tengah-tengah mereka.

Mereka bukan hanya menantikan kedatangan Yesus tetapi menyongsongNya. Terlalu lama kalau hanya menunggu saja kedatangan Yesus, karena itu mereka datang kepada Yesus, bukan dengan membawa segudang keluhannya, kecemasannya atau penderitaannya tetapi mereka menghampiri Yesus dengan pujian dan sorak sorainya, dengan seruannya "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel" (bd. Maz. 118:26). Hosana berarti keselamatan. Bersama Yesus orang banyak merasa mendapatkan keselamatannya, kemerdekaannya.

Yesus pantas mendapat penyambutan yang luar biasa, seperti rakyat dengan suka cita melepas rajanya ke medan perang untuk memenangkan pertempurannya. Demikian juga penyambutan Yesus dengan dipermuliakan sebab Ia akan menaklukkan segala penguasa dan kuasaannya. Yesus akan memenangkan peperanganNya melalui kematianNya di atas kayu salib dan kebangkitanNya.

Dibalik peristiwa ini kita juga melihat kenyataan dari ke-Mesias-an Yesus; Ia tidak pernah takut menghadapi kemarahan dan rencana jahat orang orang Farisi dan para imam. Sebenarnya Yesus tahu kalau Ia ke Yerusalem Ia harus menanggung banyak penderitaan yang dilakukan tua-tua, imam-imam dan ahli-ahli Taurat, akan membunuhNya, seperti yang pernah diberitakanNya kepada murid-muridNya. (bd. Mat. 16:21). Kalau Yesus bersembunyi - menyingkir dari orang banyak bukan karena takut tetapi karena kebijaksanaanNya sebab saat Yesus diserahkan belum tiba. Perjalanan Yesus ke Yerusalem sebenarnya tidak aman, menegangkan sebab disana telah berkumpul orang orang Farisi dan para imam dalam kemarahannya dan rencananya akan menangkap Yesus. Tetapi karena kabar baik, berita suka cita, syalom dari Allah yang dibawa Yesus jauh lebih besar dan lebih penting maka Yesus datang ke Yerusalem kepada orang banyak menunjukkan diriNya untuk menyatakan kebesaran Allah. Kehadiran Yesus menjadi proklamasi pemerintahan Allah bagi orang banyak, pemerintahan Allah bagi dunia.

Orang-orang yang menyambut Yesus itu sangat memahami dan mengenal Yesus seperti Allah memperkenalkan Yesus dan seperti Yesus memperkenalkan diriNya, oleh sebab itu mereka memuliakan Yesus. Mereka berharap akan penggenapan nubuat yang telah disampaikan pada jaman Zakaria yaitu kedatangan raja yang adil dan jaya, yang lemah lembut dengan mengendarai seekor keledai, keledai yang muda. (bd. Za. 9:9). Yesus-lah yang menggenapi nubuatan itu, dengan menghadirkan pemerintahan Allah, pemerintahan syalom; yang kemegahannya bukan seperti kemegahan raja tokoh politik yang mengenderai kuda perang dan mengenakan persenjataan perang yang lengkap. Yesus adalah Raja Penyelamat, tokoh rohani yang datang membawa damai. Melihat Yesus yang datang dengan mengenderai keledai muda sesungguhnya orang banyak mengenalNya sebagai tokoh surgawi yang telah mendemonstrasikan kuasaNya yaitu mematahkan kuasa setan, yang menyembuhkan penyakit, yang mencelikkan mata orang buta sehingga dapat melihat, yang menyembuhkan orang lumpuh sehingga dapat berjalan, menyembuhkan yang sakit dll, dan yang telah membangkitkan Lazarus dari kematian.

Menjadi renungan bagi kita, diberitakan bahwa para murid yang telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun bersama dengan Yesus pada mulanya mereka juga tidak mengerti mengapa Yesus mengenderai keledai muda, tapi setelah Yesus dimuliakan mereka memahaminya. Mereka pada mulanya kebingungan dengan sikap Yesus tetapi sesudah Yesus dipermuliakan mereka lebih lagi mengenal Yesus dengan benar. Selama tiga tahun para murid telah menyaksikan segala sesuatunya yang dilakukan Yesus, tapi mereka baru memiliki sedikit pengenalan tentang Yesus, tetapi orang banyak yang merindukan Yesus walaupun hanya mendengar berita tentang Yesus, bahkan sebahagian besar diantara mereka belum pernah melihat mujizat yang dilakukan Yesus atau belum pernah mengalami mujizat Yesus tapi memiliki hati yang rindu kepada Yesus. Mereka memuji-muji Yesus adalah bukti ia telah fokus kepada Yesus sebagai Mesias.

Para murid Yesus telah mengalami dan menyaksikan mujizat-mujizat besar yang dilakukan Yesus tetapi tidak cukup untuk membawa mereka kepada pengenalan tentang siapakah Yesus yang sesungguhnya. Kalau ada orang sampai hari ini tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Yesus bukanlah karena kurang besar dan kurang luar biasa mujizat yang dilakukan Yesus, tetapi yang kurang karena mereka tidak memiliki kepercayaan dan mempercayakan hidup dan keselamatannya kepada Yesus. Mereka belum fokus kpada ke-Mesiasan Yesus. Mujizat adalah tanda bukti kerajaan Allah tetapi yang lebih penting adalah kerajaan Allah. Jadi kita dipanggil menyambut Yesus yang menghadirkan Kerajaan Allah, bukan terus menerus mencari mujizatNya.

Tentang orang orang yang mengalami dan menyaksikan mujizat-mujizat Yesus, seperti sekelompok orang saksi hidup yang melihat langsung bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus dari kematiannya, mereka telah menyaksikan kebesaran kuasa kebangkitan yang dilakukan Yesus karena itu mereka terus menerus memberitakannya. Kesaksian mereka hidup dan dengan kesaksian itu mereka telah memuliakan Yesus sehingga orang banyak yang mendengarnya dengan penuh sukacita menyongsong Yesus. Orang orang yang telah menyaksikan apalagi mengalami mujizat Yesus dipanggil supaya jangan diam tetapi terus menerus memberitakan Yesus, memberitakan kabar baik supaya banyak orang mengenal Yesus dan memuliakanNya. Kesaksiak para saksi kebesaran Kristus diperlukan untuk meyakinkan melawan segala keragu raguan iman percaya kepada Yesus.
Di tengah-tengah kemeriahan pesta kemenangan itu, ketika semua orang bersuka cita menyambut Yesus sekelompok orang orang Farisi, para imam dan ahli Taurat merasa gagal, merasa di tinggalkan, marah sebab telah kehilangan kejayaannya, kuasanya dan kemuliaannya. Tadinya ketika Yesus undur diri dari orang banyak mereka merasa telah menang sebab orang banyak telah melupakan Yesus. Tetapi menyaksikan penyambutan Yesus yang luar biasa itu membuat mereka gusar. Ancaman ancaman dan halangan halangan yang mereka lakukan kepada Yesus tidak dapat menghambat dan mengurangi kesaksian tentang kemuliaan Kerajaan Allah di dalam Yesus. Ketika Allah dimuliakan maka kemuliaan dunia akan menjadi pudar sebab kemuliaan dunia tidak dapat menandingi kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan mendatangkan damai sejahtera, kebebasan dari segala tekanan dan penderitaan secara rohani dan jasmani.

Refleksi
Penyambutan Yesus di dalam hati kita harus terjadi setiap hari dan setiap saat. Orang yang menyambut Tuhan senantiasa memuji dan bersukacita di dalam Dia sebab dimana Yesus hadir dan disambut maka akan terjadi kedamaian. Yesus datang dalam kesederhanaanNya dan kerendahan hatiNya tetapi orang banyak menyaksikan kemegahan sorga yang besar, itulah yang membuat mereka berseru "Hosana!" Menyambut Yesus harus mempertemukan kita dengan kemuliaan sorga, maka segala sesuatunya yang kita lakukan harus menyatakan kemuliaan sorga. Bukan hanya kata kata kita yang menyerukan hosana; keselamatan! Tetapi seluruh aspek hidup kita harus menunjukkan bahwa kita adalah orang yang merdeka, yang sudah diselamatkan, ditebus dari segala dosa dan diperdamaiakan di dalam Yesus bagi kemuliaan Allah.

Pdt Ekwin Wesli Ginting STh, MDiv.
GBKP Rg. Cikarang.

Minggu 07 April 2019, Khotbah Lukas 23:39-43

Invocatio :

Mazmur 43:3

Bacaan :

Ulangan 32:4-6 (Responsoria)

Tema :

Yesus, Ingatlah Aku!

Dalam hubungan persahabatan, dikala seseorang berbuat baik kepada kita maka dengan mengingat dan mengenang kebaikan itu, akan membuat keindahannya kembali dirasakan bahkan disepanjang hidup. Jika dapat, kebaikan tersebut baiklah juga dibalaskan dengan kebaikan lainnya, sebagai tanda bahwa itu merupakan suatu hal yang sangat berharga.

Percaya kepada Yesus, juga merupakan sebuah hubungan yang sangat dalam. Karena sama halnya dengan mengikatkan hati untuk selalu mengingat bahwa Yesus sangat baik. Seluruh karya dan kasihNya itu nyata. PengorbananNya di salib memberi tanda bahwa Dia Agung dalam kasih.. Hanya saja sering kali saat telah mengakui bahwa Yesus Juruselamat, namun sikap diri sebagai pengikutNyalah yang tidak mampu ditunjukkan dengan setia. Seakan-akan meragukan atau bahkan melupakan bagaimana kehadiran Yesus bagi kita yang telah menyelamatkan hidup.

Yesus, Ingatlah aku! merupakan suatu seruan harapan di minggu Passion ini, untuk percaya bahwa di dalam Dia kita menerima keadilan. Dia adil dalam tindakanNya. Hal ini selalu mengingatkan dan mengajarkan umat untuk turut taat kepada perintahNya. Mendapatkan keadilan merupakan hak manusia. Setiap manusia merindukan kedilan ditegakkan. Dia membela umatNya yang percaya kepadaNya, agar hidup berpengharapan kepada Allah yang penuh kasih dan adil. Lalu bagaimana sikap kita?

ISI
Lukas 23:39-43 Merupakan bagian menuliskan Yesus telah disalibkan. Yesus menderita di kayu salib. Bersama Dia ikut dihukum dua penjahat di samping kiri dan kananNya. Yesus diejek, dihina orang-orang disekitarNya juga diolok-olok prajurit Romawi. Bahkan salah seorang penjahat yang di sampingnya pun menghujatNya. Meskipun disalibkan dengan tidak adil, Yesus menjalaninya dan mengampuni mereka yang berbuat tidak adil. Dia tidak bersalah namun rela disalibkan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Berkali-kali Yesus diolok-olok. Seorang dari penjahat yang disalib dengan Yesus pun melakukannya. Penjahat itu sepakat dengan tindakan orang banyak yang menyalibkan Yesus. Mereka menganggap Yesus tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Mereka tidak dapat melihat karya keselamatan yang dilakukan Yesus. Sedangkan seorang penjahat yang lainnya menyadari bahwa meskipun Yesus disalib, sebenarnya Dia tak bersalah apapun. Dia menyadari bahwa Yesus mengalami ketidakadilan, sehingga ia menegur penjahat yang mengejek Yesus. Dia berkata kepada penjahat yang mengolok-olok itu "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.". Dan dia memohon agar kiranya Yesus mengingatnya apabila Yesus datang sebagai Raja.

Saat itu juga Yesus menyatakan jawaban yang meneguhkan pengharapan. Tidak ada kata terlambat untuk percaya kepada Yesus. Karena itu Yesus menjawab dengan kepastian bahwa hari ini juga dia telah bersama-sama dalam Firdaus. Keselamatan hanya diperoleh dalam iman dan percaya. Meskipun ia seorang penjahat yang turut disalib dengan Yesus, dia tahu bahwa Yesus adalah Juruselamat baginya. Dia merendahkan dirinya dan hatinya dilembutkan, sehingga percaya bahwa akan tiba saatnya Yesus datang sebagai Raja. Dia menunjukkan iman dan menyatakan pertobatan, agar kiranya Yesus tetap mengingatnya.

Dari sikap seorang penjahat yang mengaku Yesus sebagai Raja, dapat dilihat bahwa bukan sekedar perbuatan yang dapat menyelamatkan. Melainkan keselamatan diperoleh dalam iman kepada Yesus. Percaya atas karyaNya. Sudah sepatutnyalah kebenaran Allah menjadi makanan rohani bagi umatNya. Hal ini akan sangat erat kaitannya dengan sejauh mana tindakan Allah dapat dipahami dan dihayati sebagai bagian sangat penting dalam hidup. Bahwa sekalipun Allah tidak pernah meninggalkan dan melupakan umatNya. Allah adalah adil, setia dan benar. Allah yang tidak dipengaruhi oleh tindakan umatNya. Sekalipun banyak penyimpangan sikap manusia, tetapi kesetiaan Allah tak bersyarat tetap untuk selamanya.

Ulangan 32:4-6 Bagian ini merupakan nyanyian dimana Musa mengungkapkan isi hatinya kepada Allah atas kondisi umatNya. Musa menyerukan betapa besar kebaikan dan kesetiaan Allah namun Israel kerap kali mengkhianatinnya dengan kebebalan hati. Musa mengungkapkan bagaimana Israel sebagai angkatan yang bengkok hatinya dan tidak jujur, harus diingatkan kembali kepada Allah pencipta yang akan membalaskan kejahatan umatNya. Sehingga Musa merindukan umatNya kembali kepada Allah yang penuh kasih dan adil. Seluruh perbuatan umatNya akan menerima upah berdasarkan kasih dan keadilanNya. Oleh karena itu, dalam iman umatNya berseru dan haruslah percaya dengan sungguh dalam tindakan dan perbuatan nyata.

APLIKASI
Dalam minggu passion, umatNya mengenang kembali Yesus yang telah menderita di salib, agar kita dibenarkan dan diselamatkan. Hal itu dilalui Yesus bukan karena kesalahan melainkan karena kasihNya. Dia akan memerintah dalam kerajaanNya yang memberi kehidupan kekal. Layakkah kita turut didalamnya? Saat ini kita sedang menantikan kehadiran Yesus kembali. Kita terus diingatkan untuk mengkoreksi sikap hidup. Mengingat kembali karya dan kebaikanNya. Menjalankan apa yang menjadi kehendakNya dalam ketaatan. Hingga tiba waktu semua digenapi. (Bdk. Invocatio)

Yesus, ingatlah aku! Dengan meminta agar kiranya kita tetap dilayakkan dihadapanNya, maka diperlukan sikap dan iman yang teguh, menjalankan apa yang Tuhan perintahkan. Karena Yesus pun tidak menginginkan umatNya mati di dalam keberdosaan. Selagi ada waktu dan kesempatan, janganlah menunda-nunda mengerjakan perintahNya. Bertobatlah dan jalankan dalam iman percaya bahwa Dia Allah yang adil dan penuh kasih.

Pdt. Deci Kinita br Sembiring – Balikpapan

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD