MINGGU 23 FEBRUARI 2025, KHOTBAH LUKAS 9:21-27
Invocatio :
“Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah” (Ibrani 12 : 3)
Bacaan :
Yeremia 46 : 17 - 24 (Responsoria)
Khotbah :
Lukas 9 : 21 - 27 (Tunggal)
Tema :
“YESUS MENGALAMI BANYAK PENDERITAAN”
Pengantar
Minggu ini kita masuk ke Minggu Sexagesima (keenampuluh) yaitu 60 hari sebelum kebangkitan Yesus Kristus dari kematian (Paskah), dimana minggu ini mengajak kita kedalam persiapan dan perenungan sebelum Minggu Sengsara (Passion) dan Paskah. Kita diingatkan kepada perenungkan dan penghayati kembali masa-masa penderitaan sampai penyaliban Tuhan Yesus Kristus dalam rangka menebus dan menyelamatkan manusia berdosa. Melalui perenungan dan penghayatan itu kita dapat merefleksikannya di dalam kehidupan iman kita serta membuahkan tekad untuk semakin mampu meneladani Kristus dan menyaksikanNya dalam kehidupan kita.
Penjelasan Teks
Ibrani 12 : 3
Penulis Surat Ibrani juga menggambarkan kehidupan orang beriman sebagai suatu lintasan lomba. Kita perlu berlari di lintasan itu karena sejak dahulu sudah banyak orang percaya yang melewatinya.
Supaya kita dapat berlomba dengan baik seperti mereka, kita perlu menanggalkan beban dosa dan mengarahkan fokus hidup kita kepada Yesus (1-2a). Mengapa Yesus? Karena IA-lah yang memimpin dan menyempurnakan iman kita, memikul salib sekalipun dihina, tekun menanggung perbantahan orang-orang berdosa, serta yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (2b-3).
Yeremia 46 : 17 – 24
Pasal 46 bisa disambungkan dengan pasal sebelumnya, yaitu mengenai larinya sisa penduduk Yerusalem ke Mesir. Mesir menjadi sasaranberita penghukuman Allah. Berita pertama (2-12) datang pada masa raja Yosia. Mesir sedang menantang perang Babel. Nubuat ini justru menantang Mesir untuk mengerahkan pasukannya melawan Allah (3-9). Allah akan mengalahkan
mereka (10-12). Saat itu, Nebukadnezar belum menjadi raja Babel. Berita berikutnya, Allah akan menggunakan sang raja Babel untuk menghancurkan Firaun dan pasukan Mesir (14-24). Kehancuran Mesir berarti kehancuran kepercayaan terhadap para dewanya (25-26). Mengapa Mesir menjadi sasaran murka Allah? Karena kesombongan mereka yang merasa adikuasa pantas untuk meraja lela di muka bumi ini (7-8). Tuhan membangkitkan musuh yang setimpal, Babel. Dari masa ke masa, adikuasa-adikuasa yang silih berganti menguasai dunia purba ialah Mesir di selatan serta Asyur dan Babel di utara. Tuhan menyatakan kedaulatan-Nya dengan memakai mereka secara bergantian saling mengalahkan. Tidak ada adikuasa yang tetap berjaya. Pada
waktunya satu persatu akan hancur. Termasuk juga kelak Babel yang saat itu sedang naik daun.
Lukas 9 : 21 – 27
Dalam Ayat-ayat sebelumnya mejelaskan bahwa setelah mendapat pengakuan dari Petrus bahwa Dia adalah Mesias, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa ‘Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga’ (Luk 9:22). Ketika kita mengakui Yesus adalah Mesias (Yang diurapi Tuhan) maka kita juga harus memenuhi syarat-syaratNya (Luk 9:23). Jika Tuhan Yesus mengalami penderitaan seperti itu, maka sebagai orang-orang yang mengaku menjadi pengikutNya juga, jangan kaget kalau mengalami penderitaan karena imanya. Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus pada waktu Dia berkata, ‘Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa telah tamat pelajaranya akan sama dengan gurunya’ (Luk. 6:40). Dari perikop ini ada beberepa hal yang ditekankan Yesu kepada para muridNya antara lain:
- Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan
Yesus bernubuat dan memberi penjelasan kepada para muridnya tentang diriNya sebagai Mesias sebagai Anak Manusia yang akan dan harus menjalani penderitaan dan menerima siksaan bahkan mati dim kayu salin untuk menanggung hukuman yang seharusnya diterima oleh manusia sebagai akibat dari dosa. IA akan di tolak serta diolok-olok oleh mereka yang menyebut diri umat Allah atau umat perjanjian yakni para tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat. Penderitaan dan kematian menjadi jalan untuk misi penyelamatan umat manusia, namun kematian tidak akan berkuasa atas Anak Manusia karena pada hari yang ketiga IA akan di bangkitkan dari kematian itu agar sama dengan kematian dan kebangkitanNya demikian juga dengan orang-orang percaya (beriman) akan mengalami kebangkitan.
- Panggilan untuk mengikut Yesus
a. Menyangkal Diri.
Dasar dari penyangkalan diri adalah pemahaman bahwa keselamatan hanya berasal dari Tuhan, tidak bisa dilakukan dengan cara sendiri. Setelah diselamatkan, orang-orang Kristen memahami bahwa Tuhanlah yang menjadi penguasa di dalam kehidupan mereka. Oleh sebab itu, mereka tidak boleh melakukan apa yang menjadi keinginan dirinya sendiri, tetapi melakukan keinginan Tuhan atau dengan kata lain orang yang menyangkal diri adalah orang yang mau ‘melupakan kepentinganya sendiri’ dan mengesampingkan apa yang menjadi kepentinganya sendiri demi mengarahkan kehidupanya pada apa yang menjadi kepentingan dan kehendak Allah.
b. Memikul Salib.
Pada zaman Romawi, seseorang yang dijauhi hukuman salib, akan dipaksa untuk memikul sendiri salibnya dari tempat dijatuhi hukuman sampai ke tempat penyaliban. Dengan cara demikian dipertontonkan bahwa dia telah bersalah pada Negara dan tunduk pada Negara, yang telah menjatuhkan hukuman mati kepada mereka. Gambaran ini digunakan oleh Lukas untuk menyatakan bahwa orang Kristen harus menjalani hidup seolah-olah telah dijatuhi ‘hukuman mati’, yaitu mati terhadap nilai-nilai dunia yang tidak sesuai degan kehendak Allah dan tunduk pada nilai-nilai dalam kerajaan Allah. Apa yang orang Kristen lakukan harus selaras dengan apa yang dikehendaki Allah. Sebagaimana orang-orang dijatuhi hukuman mati pada masa itu,orang-orang Kristen juga harus rela kehilangan harta benda dan nama baiknya. Dan jika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, kata mati disini pun berarti siap mati secara fisik demi menjadi pengikut Tuhan.
c. Mengikut Aku
Jika ditinjau dari segi bahasa Yunani “Koine”, mengikut disini berbeda dengan menyangkal diri dan memikul salib yang menggunakan kata “aorist”. Dengan ini Lukas ingin menekankan bahwa mengikut Kristus merupakan proses yang terus menerus. Mengikut Tuhan bukan sekedar komitmen yang dilakukan sekali saja, namun dilakukan seumur hidup. Mengikut Yesus artinya senantiasa hidup meneladani kehidupan Yesus serta berpegang teguh kepada perintahNya, hidup dalam kebenaran dan kesetiaan sekalipun hal itu berat dan akan mendatangkan penolakan dunia bagi orang percaya. Walaupun secara duniawi akan mengalami kerugian bahkan penolakan, tetapi para pengikut Kristus harus percaya bahwa dengan itu justru mereka akan menikmati hal yang lebih besar lagi di Surga. Bahkan jika dengan menjadi pengikut Kristus kita harus sampai kehilangan nyawa sekalipun, itu bukan merupakan kerugian, karena “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan meyelamatkannya”(ay. 24). Apa yang ditawarkan dunia tidak bisa menyelamatkan kita dari maut. Itulah sebabnya Yesus mengatakan tawaran dunia adalah kebinasaan dan kerugian semata (ay. 25). Dunia memang akan menghina kita. Namun, ketika Ia datang kembali dalam kemuliaan, kita akan diselamatkan-Nya (ay. 26 - 27) .
Aplikasi
Yesus memberitahukan hal penolakan dan penderitaan serta kematian kepada para murid dengan maksud: Bahwa Mesias yang datang itu adalah Anak Manusia yaitu Yesus Kristus sendiri yang harus menanggung beban berat yaitu penolakan. Mesias yang datang itu tidak sesuai atau berbeda dengan pengharapan orang Yahudi yang berharap Mesias itu datang dalam kemuliaan, kekuatan, wibawa yang menempatkan Israel menjadi pemimpin dunia, pemimpin politis. Supaya para murid mempersiapkan diri dengan situasi yang berbeda dengan keinginan hati dan pikiran mereka serta ujian bagi mereka apakah masih setia kepadaNya. Yesus juga mau menyatakan bahwa dengan mengikut dia tidaklah semua menjadi mudah, gampang dan hanya bersenang-senang. Justru mengikut Yesus menghadapi banyak rintangan, penolakan. Mengikut Yesus ada konsekwensi yang harus diterima dan diemban. Demikian juga dalam kehidupan kita sebagai orang percaya saat ini. Ketika kita mengaku percaya kepada Tuhan dan berkomitmen untuk mengikut Dia, kehidupan kita tidak akan lepas dari berbagai tantangan, penderitaan bahkan ancaman. Disinilah kita diuji sekaligus dibentuk menjadi anak-anak Allah yang Tangguh dan militant dalam mempertahankan iman percaya kita dan mengaplikasikannya dalm kehidupan kita. Kriteria atau syarat mengikuti Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juru Selamat agar berpedoman kepada ucapan Yesus, yaitu:
- Menyangkal diri
Menyangkal diri, itu berarti mampu meninggalkan keegoisan, ambisi, kenikmatan hidup dan segala yang berhubungan dengan kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Sehingga fokus utama kehidupan sebagai orang Kristen ialah mengutamakan Allah dalam segala aspek kehidupan.
- Memikul salibNya setiap hari. Memikul salib ialah kesiapan untuk hidup mengikut Yesus, berkorban dalam memberitakan Injil, serta siap menghadapi penderitaan yang hadir dalam pemberitaan Injil tersebut. Injil ialah Yesus Kristus itu sendiri, yaitu memberitakan-Nya sebagai teladan yang hidup bagi seluruh manusia. Maka berani memberitakan Injil, maka siap menghadapi penderitaan (memikul salib) dan megikut Yesus dengan meneladani pola kehidupan-Nya.
- Rela berkorban untuk Yesus dan Injil, memberi diri dan hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Semuanya ini harus dilakukan agar Yesus tidak menolak kita, ketika Dia datang untuk kedua kali
(parousia). Untuk kita para pengikut Kristus pada masa kini, nubuat Yesus tentang penolakan, penderitaan, kematian, dan kebangkitanNya dalam perikop ini telah terwujud. Ia merupakan fakta kebenaran sejarah yang direkam dalam Injil. Dan kini kita menantikan pemenuhan tentang nubuat kedatanganNya yang kedua. Karena itu marilah kita mempersiapkan diri dan menanti kedatanganNya dengan tekun dan setia meneladani semua yang telah dilakukan Yesus Kristus bagi kita.