• WhatsApp Image 2022 02 11 at 11.07.57

  • 20170204 143352
  • 1 peresmian rumah dinas surabaya
  • WhatsApp Image 2022 02 11 at 11.07.58
  • pencanangan tahun gereja bks dps
  • WhatsApp Image 2022 02 11 at 11.07.57 1
  • BPMK GBKP KLASIS BEKASI DENPASAR PERIODE 2020-2025
  • PERESMIAN RUMAH PKPW GBKP RUNGGUN SURABAYA

Jadwal Kegiatan

Kunjungan Moderamen GBKP ke GBKP Klasis Bekasi-Denpasar

Minggu 14 Mei 2017:

1. GBKP Runggun Bandung Pusat

2. GBKP Runggun Bandung Timur

3. GBKP Runggun Bandung Barat

4. GBKP Runggun Bekasi

5. GBKP Runggun Sitelusada

MINGGU 20 MARET 2022, KHOTBAH LUKAS 13:1-9

Invocatio   :

"Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. (Roma 14. 8)

Bacaan   :

Yesaya 55. 6-9 (Responsoria)

Tema  :

Jera Ntah Mate/Bertobat atau Mati

 

A. PENDAHULUAN

Minggu ini kita memasuki Minggu Passion IV yang diberi nama Okuli, Mataku tertuju kepada Tuhan. Kita dipanggil untuk selalu mengarahkan mata kita, iman kita kepada Tuhan yang mengasihi kita. Khususnya dalam penderitaan, kesusahan atau pergumulan yang kita alami disana kita juga dipanggil untuk memandang kepada penderitaan Yesus sehingga kita akan sabar dan tekun dalam penderitaan itu sampai kita mengalami kelepasan.

Tema kita pada Minggu ini: Bertobat atau Mati. Sepertinya sebuah pilihan ditawarkan kepada kita. Dan sepertinya kita pasti sepakat pasti memilih bertobat dan tidak akan memilih mati.

Namun dalam perakteknya tindakan bertobat itu suatu perjuangan dimana kita harus bersedia menderita sehingga kita bisa meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan.

B. PENDALAMAN TEKS

Dari nas khotbah pada Minggu ini, ada beberapa pokok renungan yang bisa kita angkatkan:

1. Kematian seseorang tidak dapat serta merta dikaitkan dengan peristiwa yang mereka alami.

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Pada waktu yang dimaksud ialah ketika Yesus dan murid-muridNya sedang melakukan perjalanan ke Yerusalem. Datanglah beberapa orang, siapakah orang ini tidak diketahui, apakah orang-orang Farisi atau Guru-Guru Agama atau kaum Zelotis tidak diketahui namun mereka membawa kabar kepada Yesus. Bahwa darah orang-orang Galilea dicampur dengan darah yang mereka persembahkan.

Menurut beberapa sumber ketika orang Galilea membawa korban persembahan di bait Allah, ntah karena alasan apa, serdadu Pilatus membunuh mereka dan hal itu dapat terjadi di Bait Allah sehingga darah mereka tercampur dengan darah korban yang sedang mereka persembahkan. Sehingga mereka mengatakan Pilatus telah mencampur darah orang Galilea dengan darah korban persembahan mereka.

Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.

Jadi dari jawaban Yesus terhadap mereka yang membawa kabar itu, jelas ada pikiran mereka bahwa orang-orang yang mati itu ketika mereka membawa persembahan dosanya sangat banyak atau besar sehingga peristiwa itu menimpa mereka. Tetapi dengan jelas dan tegas Yesus menegaskan jangan engkau menyangka seperti itu bahwa peristiwa kematian seseorang tidak selamanya berkaitan langsung dengan dosa yang mereka lakukan.

Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."

Jadi Yesus menegaskan bukan menilai kematian seseorang yang penting melainkan yang penting selama Tuhan masih memberi kehidupan kita, yaitu bertobat dari dosa dan kejahatan kita.

2. Tuhan menginginkan buah pertobatan dari setiap kita.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Dari perumpamaan ini jelas Tuhan yang telah memberi hidup kepada kita, yang telah menebus dosa-dosa kita menginginkan kita menghasilkan buah-buah kebenaran, kasih dan keadilan.

Tuhan tidak langsung mengambil kehidupan dari kita seperti perumpamaan ini melainkan kepada kita diberi waktu dan kesempatan untuk sungguh-sungguh memperhatikan hidup kita supaya kita sungguh-sungguh menghasilkan buah yang baik. Kalau kita tidak menghargai waktu dan kesempatan yang Tuhan beri maka Tuhan dapat mencabut, mengambil kehidupan itu dari kita.

C. APLIKASI

Apa yang dapat kita renungkan dari firman ini:

1. Bertobat atau mati

Setiap kita dengan jujur pasti mengakui bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan kita dihadapan Tuhan. Karena itu hari-hari yang masih diberi Tuhan kepada kita adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat dan terus membaharui diri seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Seperti yang dikatakan dalam nas bacaan kita: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

Luar bisa kasih Tuhan kepada kita. Dia tidak menginginkan kematian kita melainkan pertobatan dan menerima pengampunan serta memberikan berkatNya atas kehidupan kita. Karena itu kita harus melihat bahwa hari-hari ini adalah hari-hari kita terus mengerjakan keselamatan kita sampai kita menerima kehidupan yang kekal.

2. Hidup dan Mati kita adalah untuk Tuhan

Ketika kita hidup kita hidup untuk Tuhan dan ketika kita mati kita mati untuk Tuhan (bacaan kita). Artinya selama kita hidup ialah kita hidup melakukan apa yang berkenan kepada Tuhan. Hidup menghasilkan buah-buah kebenaran, kasih, kebaikan dan keadilan. Sehingga buah yang kita hasilkan menjadi berkat bagi orang lain. Apabila ketika kita hidup kita hidup untuk Tuhan maka ketika kita mati kita mati untuk Tuhan dan kita adalah milik dari pada Tuhan.

D. PENUTUP

Betapa kita mensyukuri karena bagi kita masih diberi kehidupan itu artinya Allah menginginkan kita menerima anugerahNya, Allah menginginkan kita menghasilkan buah pertobatan, karena untuk itulah Kristus telah mati bagi kita, untuk itulah Kristus telah menebus dan menyelamatkan kita. Tuhan tidak menginginkan kematian kita karena kita tidak mau bertobat melainkan pertobatan dan menerima kehidupan dari Tuhan. Amin

 

Pdt Sahabat Perangin-Angin

Rg. Pondok Gede

MINGGU 13 MARET 2022, KHOTBAH KEJADIAN 15:1-6

Invocatio :

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4:16)

Bacaan: Filipi 3:17-21

Tema:

Tuhan Engkelengi kalak si erkiniteken (Tuhan Mengasihi orang Percaya)

 

Pendahuluan

Di dunia ini tidak orang tua yang rela melihat anaknya menderita. Berbagai upaya akan dilakukannya demi kebahagiaan buah hatinya dan membuat anaknya merasa aman dan tenang. Demikian dengan Allah kita. Bahkan lebih dari kasih sayang dari orang tua kepada kita. Allah sungguh-sungguh hadir dihidup kita, baik dalam suka dan duka. Namun terkadang muncul suatu permasalahan yang sedang kita alami, sering kali kita merasa bahwa Allah tidak mengasihi kita. Jika Allah mengasihi kita, mengapa ia mengizinkan adanya penderitaan dalam hidup ini? pertanyaan-pertanyaan ini sering sekali muncul ketika situasi sulit menghampiri. Namun benarkah ketika kita mengalami penderitaan ataupun pergumulan dalam kehidupan kita menunjukkan bahwa Allah  tidak mengasihi kita?

Lagu rohani yang berjudul “Jangan Pernah Menyerah” membantu kita untuk melihat bagaimana kasih Tuhan dalam kehidupan kita:

Tuhan tak pernah janji langit selalu biru. Tetapi Dia berjanji selalu menyertai

 Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata. Tetapi Dia berjanji berikan kekuatan

Jangan pernah menyerah. Jangan berputus asa

Mujizat Tuhan ada. Saat hati menyembah

Jangan pernah menyerah. Jangan berputus asa

Mujizat Tuhan ada. Bagi yang setia dan percaya

Tuhan tak pernah janji langit selalu biru dan jalan selalu rata tetapi Dia berjanji menyertai dan memberi kita kekuatan lirik ini menjelaskan pada kita orang Kristen yakni orang percaya bahwa Allah tidak pernah menjanjikan kehidupan ini akan selalu bahagia, jalannya mulus tetapi dibalik berbagai situasi yang akan dihadapi manusia dalam hidupnya Tuhan berjanji akan selalu menyertai dan memberi kekuatan untuk menjalaninya. Fokus pada kasih penyertaan dan kekuatan yang bersumber dari Tuhan, imani kedua poin tersebut agar kita benar-benar merasakan bagaimana Allah sungguh-sungguh mengasihi kita, Ia ada dalam suka dan duka perjalanan manusia asal kita manusia setia menyembah dan percaya.

Minggu ini dinamai dengan Minggu Reminiscere yang artinya Ingatlah Segala Rahmat dan Kasih SetiaMu, ya Tuhan. Minggu ini mengajak kita untuk lebih mengenal rahmat dan kasih setia Tuhan yang memampukan kita untuk tetap berpengharapan dalam penderitaan kita. Demikian pula dapat kita saksikan kasih Allah kepada orang percaya yakni kisah mengenai bapa Abraham yang memperoleh mujizat dari Tuhan atas iman kepercayaan yang dimilikinya.

Kejadian 15:1-6

Bahan khotbah kita dalam Kejadian 15:1-6 tentang janji Allah pada Abram terkait memberikan keturunan bagi Abram. Akibat dari iman percaya Abram kepada TUHAN, Abram memperoleh mujizat. Dalam ayat 1 firman TUHAN berkata kepada Abram untuk tidak takut, “janganlah takut” Saat itu Abram mulai merasakan kekhawatiran dalam hatinya karena ia tidak memiliki anak. Sehingga Allah menyuruh Abram jangan khawatir, firman Tuhan kepadanya “Akulah perisaimu” menegaskan kepada Abram bahwa ada Allah sang perisai, akan menolong dan melindungi, menyertai orang-orang yang mengutamakan Allah sehingga tidak perlu khawatir “Upahmu akan sangat besar”.

Dalam ayat selanjutnya Abram menjawab firman Tuhan yang datang kepadanya. Dalam ayat 2 dengan menanggapi kata-kata yang menguatkan tersebut dengan mengingat akan dirinya yang tidak mempunyai anak, ia tidak memiliki ahli waris sehingga ia menganjurkan untuk mengadopsi salah seorang hamba untuk menjadi ahli warisnya. Allah menolak usul tersebut dengan sebuah janji yang diberikan –Nya kepada Abram, yakni memperoleh keturunan.

Pada ayat keenam, dapat kita lihat bahwa Abram percaya akan firman Tuhan yang sampai padanya. Hal yang luar biasa dari Abram ialah iman percayanya kepada Allah. Melalui iman ini ia mendapatkan kebenaran, Allah melihat sikap hati Abram yang beriman dan memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran. Istilah “kebenaran” berarti mempunyai hubungan yang benar dengan Allah dan kehendak-Nya. Abram dibenarkan karena ia percaya pada yang akan terjadi. Abram menerima Allah sebagai perisainya sehingga Abram memperoleh keturunan yang banyak. 

Filipi 3:17-21

Bahan bacaan kita dalam Filipi 3:17-21 secara garis besar keseluruhan pasal 3 ini adalah peringatan Paulus mengenai ajaran palsu, khusus dalam ayat 17-21 Paulus memperingatkan kepada jemaat di Filipi untuk tidak berpikiran duniawi dan melawan yang rohani. Dalam bacaan dikatakan bahwa banyak orang yang hidup menjadi seteru salib Kristus. Seteru ini dapat diartikan sebagai orang-orang yang mengaku percaya tetapi mencemarkan injil dengan cara hidup yang tidak Susila dan ajaran palsu. Orang-orang ini bukanlah sekedar orang yang tidak percaya melainkan orang yang sudah mengetahui kebenaran akan kuasa salib tersebut namun ia tidak menghidupinya. Orang-orang tersebut tetap hidup dalam dosa, hanya menginginkan kenikmatan duniawi saja. Sehingga dalam ayat selanjutnya Paulus mengingatkan pada jemaat Filipi bahwa mereka adalah warga kerajaan Sorga. Tujuan yang ingin disampaikan Paulus terkait hal ini yakni sebagaimana warga kerajaan sorga seharusnya menghidupi prinsip-prinsip sorgawi. Hendaknya kita tidak terjerumus dalam kenikmatan duniawi ini, kita adalah warga kerajaan sorga, maksudnya adalah anak-anak Allah yang telah ditebus melalui pengorbanan Yesus di kayu salib maka dari itu, hidupilah teladan Yesus sebagaimana Paulus lakukan demikian dalam hidupnya. Hidup serupa dengan Kristus.  Jangan tergoda akan hal-hal yang berbau duniawi, yang hanya mementingkan diri sendiri atau berusaha menyampingkan kehendak Allah dalam kehidupan di dunia. Jangan sampai kita seperti orang-orang yang disampaikan Paulus dalam bacaan kita, orang yang berseteru salib yang mengaku percaya tetapi perbuatan dan tindakannya melecehkan injil.

Ibrani 4:16

Dalam ayat Invocatio Minggu ini, Ibrani 4:16 “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” Kita diarahkan untuk membangun relasi yang lebih intim kepada Tuhan kita. Bentuk hati kita untuk selalu rindu dan menghampiri Bapa kita. Dia tahu betul segala persoalan dan pergumulan yang kita hadapi Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karuni karena Kristus dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, kita dapat dengan penuh keberanian menghampiri takhta sorgawi, karena mengetahui bahwa doa dan permohonan kita diterima dan diinginkan oleh Bapa di sorga. Tempat itu disebut “takhta kasih karunia” karena dari takhta itu mengalir  kasih, pertolongan, kemurahan, pengampunan, kuasa rohani, pencurahan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, buah roh dan semua yang kita perlukan dari Allah. Salah satu berkat terbesar dari keselamatan ialah bahwa Kristus kini merupakan imam besar kita yang membuka jalan langsung ke hadapan Dia sehingga kita selalu dapat meminta bantuan yang kita perlukan. Kita akan mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Selaku orang percaya, kita perlu mengingat bahwa kita senantiasa disertai Allah. Dalam menjalani hidup ini, hendaklah kita beriman teguh selayaknya Paulus yang betul-betul menegakkan kebenaran Firman Tuhan dalam hidupnya. Paulus rela masuk penjara, merasakan penderitaan dan meninggalkan semua hal yang dahulu ia miliki demi mengikut Yesus. Ia betul-betul menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk mengikut Kristus. Bagi Paulus, penderitaan yang ia alami justru menyebabkan kemajuan injil (Filipi 1:12). Jangan pernah goyah dalam iman percaya, tetap teguh pada kepercayaan kita. Senantiasalah berpengharapan pada-Nya, jangan menyimpang dari ajaran yang telah diteladankan Kristus semasa hidupnya. Hidupilah dengan sungguh-sungguh Firman Allah, tidak hanya dalam pengakuan tetapi tindakan dalam hidup. Paulus menegaskan bahwa kita selaku orang Kristen merupakan kewargaan di dalam sorga. Orang Kristen tidak lagi warga dunia ini, kita telah dilahirkan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Maka dari itu, wujudkanlah sikap yang berprinsip sorgawi dengan tidak mementingkan hal-hal duniawi, sebab segala hal yang berbau duniawi hanyalah sementara.

Sebagaimana tema yang sampai pada kita di Minggu ini, yakni Tuhan mengasihi orang percaya ingin menyampaikan pada kita bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi anak-Nya yang percaya pada-Nya, Ia perisai kita dalam menjalani kehidupan ini. hendaklah orang Kristen selaku keturunan bapa Abraham yakni bapa orang percaya, mencontoh sikap iman yang dimiliki Abram, dalam persoalan dan pergumulan yang ia rasakan di hidupnya, ia menyampaikannya kepada Tuhan, ia tidak meninggalkan Tuhan melainkan tetap berpengharapan dalam-Nya, sehingga melalui iman percayanya Abram memperoleh mujizat yang datangnya dari Allah. Jika kita berpikir dengan akal manusia, sangat tidak mungkin seorang perempuan yang mandul dan sudah tua untuk memiliki anak. Namun, firman Tuhan memperlihatkan pada kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam Tuhan asal kita percaya, kita mengimani akan kebenaran dan firman-Nya.

Janganlah kita menjadi seteru salib Kristus, yang mengetahui kebenaran akan Firman-Nya namun mengabaikannya hanya demi kenikmatan duniawi yang bersifat sementara. Marilah kita lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan, mari kita perkuat iman kepercayaan kita kepada Allah kita dengan melibatkan Allah dalam kehidupan kita baik dalam suka maupun duka, jangan sekali-kali meninggalkan Allah. Lihat, betapa istimewanya kita orang percaya di hadapan Tuhan, dalam takhta kasih karunia Allah mengalir  kasih, pertolongan, kemurahan, pengampunan, kuasa rohani, pencurahan Roh Kudus, karunia-karunia rohani, buah roh dan semua yang kita perlukan dari Allah. Kita bebas dengan leluasa  meminta bantuan yang kita perlukan. Kita akan mendapat pertolongan kita pada waktunya. Tidak perlu mencari pertolongan di luar dari yang dikehendaki Tuhan, karena semua yang kita butuhkan ada pada Allah kita, sebab Ia perisai kita. Amin

Pdt. Rosliana br Sinulingga-Rg. Bumi Anggrek

MINGGU 06 MARET 2022, KHOTBAH ROMA 10:8-13

Invocatio:

“Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. (Masmur 18:7).

Ogen: Ulangan 26:6-10a (Tunggal)

Tema:

ALLAH MENYELAMATKAN ORANG YANG BERSERU KEPADA-NYA (IKELINI TUHAN KALAK SI ERLEBUH MAN BANA)

 

1. KATA PENGANTAR

         Secara umum ketika anak kecil menangis meminta sesuatu kepada orang tuanya di tengah orang ramai, maka biasanya orang tua akan langsung memberikannya, agar anaknya berhenti menangis dan tidak membuatnya merasa malu karena anaknya menangis di depan orang banyak. Kebiasaan seperti ini sering disebut dengan istilah TANTRUM ( ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah) di di depan orang banyak.

         Mungkin saja kita juga pernah mengalami menghadapi anak kita yang sedang tantrum karena menginginkan sesuatu. Ternyata Tantrum ini terjadi karena anak-anak sudah mengenal karakter orang tuanya bahwa jika dia menangis di depan orang banyak maka orang tuanya pasti akan memberikan apa yang dia inginkan.

         Pada Minggu Invokapit ini yang berarti, DIA BERSERU KEPADAKU melalui firman Tuhan hari ini kita akan belajar bagaimana kita berseru kepada Tuhan melalui doa-doa kita dengan terlebih dahulu kita mengenal dan percaya kepada Tuhan itu sendiri

2. PENDALAMAN TEKS

Seperti yang kita ketahui bahwa bagi orang Yahudi, keselamatan itu bisa didapatkan dengan melakukan hokum Taurat. Siapa yang mampu melakukan hokum taurat maka Dia akan diselamatkan. Oleh sebab itu konsep yang disampaikan Rasul Paulus tentang, “mengaku dengan mulut kita bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan” (ayat.9)”, sangat sulit untuk diterima oleh orang Yahudi.

Dalam nas khotbah kita saat ini Paulus menunjukkan kesalahan fatal orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu, yang menjadi kebinasaan mereka. Rasa giat mereka tidak disertai dengan pengertian yang benar. Memang benar bahwa Allah memberi mereka hukum Taurat yang sangat mereka puja-puja itu, tetapi mereka seharusnya sudah mengetahui bahwa kehadiran Mesias yang dijanjikan merupakan penggenapan hukum Taurat itu. Sang Mesias memperkenalkan agama dan ibadah baru, yang harus menggantikan cara lama. Dia membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah dan menunjukkan bukti-bukti kuat mengenai jati diri-Nya sebagai Mesias, tetapi mereka tidak mengenal-Nya dan tidak sudi mengakui-Nya, malah menutup mata dari cahaya terang itu, sehingga sikap giat mereka bagi hukum Taurat itu membutakan.

Mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah dalam diri Yesus Kristus artinya, mereka tidak tunduk kepada persyaratan-persyaratan Injil atau tidak menerima tawaran pembenaran karena iman di dalam Kristus yang diulurkan oleh Injil. Tidak percaya artinya menolak untuk takluk kepada kebenaran Allah, suatu penentangan terhadap pernyataan Injil mengenai penebusan.

Orang Yahudi tidak percaya terhadap Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka karena bagsa Yahudi:

  1. Tidak mengenal kebenaran Allah. Mereka tidak mengerti, tidak percaya, dan tidak menyadari keadilan Allah yang teguh, membenci, menghukum, dan menuntut pembalasan dosa. Mereka juga tidak menyadari betapa kita memerlukan kebenaran Allah supaya layak datang ke hadapan-Nya. Sebab, jika saja mereka menyadarinya, mereka pastilah tidak akan berani menentang apa yang ditawarkan Injil, atau mengandalkan pembenaran melalui hasil perbuatan mereka sendiri, seakan-akan mereka sanggup memuaskan keadilan Allah.
  2. Menyombongkan kebenaran mereka sendiri: berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, yaitu kebenaran hasil rancangan dan usaha mereka sendiri, melalui jasa perbuatan mereka sendiri dan pelaksanaan hukum upacara. Mereka mengira tidak perlu disokong oleh jasa Kristus, sehingga mereka pun mengandalkan upaya mereka sendiri untuk mendapatkan kebenaran supaya layak di hadapan Allah.

Paulus merasa pedih bahwa kesungguhan religius orang Yahudi tidak didukung oleh pengetahuan yang benar (1, 2). Memang mereka tahu bahwa Allah Esa adanya, dan Ia telah menyatakan sifat-sifat-Nya dalam Hukum Taurat, namun hakikat Taurat tidak mereka akui karena tidak mereka pahami. Taurat adalah penyataan kemurahan Allah yang mewujud penuh dalam diri dan karya Kristus yang menyelamatkan. Namun, mereka memahami Taurat sebagai tuntutan Allah, kebenaran adalah target yang harus dicapai bukan anugerah yang harus disambut. Akibatnya mereka tidak bersedia merendahkan hati menerima pembenaran dalam Kristus (3b). Mereka binasa dalam merasa benar dengan perjuangan sendiri.

Kristus adalah tujuan dan kegenapan Taurat (4) sebab Taurat bicara tentang Dia dan hanya Dia yang dapat menggenapi Taurat seutuhnya (5). Manusia tidak perlu dan tidak mungkin menjangkau Allah atau turun ke neraka menanggung sendiri segala akibat dosanya demi memperkenan Allah (6-7). Kristus sudah melakukan itu semua. Ia Allah menjadi manusia sehingga manusia tidak perlu mencari Allah dengan usaha sendiri. Ia menanggung derita dan hukuman dosa manusia agar terbebas dari murka Allah. Jalan keselamatan telah terwujud dalam Yesus Kristus.

Allah hanya menuntut respons sederhana: hati yang percaya dan yang melahirkan pengakuan bahwa Yesuslah Juruselamat dan Tuhan (9-20). Berseru bahwa Yesus Tuhan sama dengan berseru bahwa Ia sesungguhnya adalah Allah sendiri yang telah mengambil alih ketidakmungkinan manusia dengan menggenapi semua tuntutan Taurat. Tuhan Yesuslah sebenarnya tujuan Taurat sebab hanya Ia telah memenuhi tuntutan Taurat dengan sempurna. Yesus mengakhiri Taurat. Bukan lagi Taurat jalan untuk orang berharap diselamatkan, tetapi iman kepada-Nya saja jalan keselamatan. Kenyataan itu tidak perlu dipersoalkan lagi. Sebab Yesus Kristus nyata-nyata sudah datang menjadi manusia, mati dan bangkit. Mempertanyakan ulang fakta itu seolah orang yang ingin mencoba menjelajahi jurang tak terukur yang telah dijembatani Kristus (ayat 7).

Iman di hati dan pengakuan di mulut, keduanya tak dapat dipisahkan. Berseru (memanggil dalam doa) hanya dapat dilakukan oleh orang yang percaya (ayat 14). Percaya yang sungguh akan terungkap dalam pengakuan di mulut. Israel telah menerima berita keselamatan melalui para rasul, dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus. Namun mereka tidak percaya. Sayang Israel tak dapat berseru kepada Kristus karena mereka menolak Kristus.

Dalam pasal 10 ini dijelaskan bagaimana orang Israel dapat dibebaskan dari murka Allah. Pertama, mereka harus percaya dengan hati mereka, sehingga mereka dibenarkan. Tetapi lebih dari itu, mereka juga harus berseru kepada Tuhan Yesus secara terbuka. Untuk dibebaskan, atau diselamatkan dari murka itu mereka perlu mengaku Kristus di depan masyarakat, mereka perlu dikenal sebagai orang yang selalu "naik banding" bukan kepada Kaisar, tetapi kepada Dia yang mempunyai nama atas segala nama, Tuhan Yesus Kristus.

3. APLIKASI

Tema khotbah kita hari ini adalah TUHAN MENYELAMATKAN ORANG YANG BERSERU KEPADANYA. (IKELINI TUHAN KALAK SI ERLEBUH MAN BANA). Ikelini dalam bahasa Karo adalah diselamatkan. Selamat dalam KBBI artinya terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana, terhindar dari bahaya, malapetaka, bencana, tidak kurang suatu apa, tidak mendapat gangguan, kerusakan, dan sebagainya, sehat, tercapai maksud, tidak gagal. Berarti tema ini memberikan pengertian kepada kita bahwa Allah memberkati dan melindungi setiap orang yang berseru kepadanya sehingga terhindar dari malapetaka, tidak kekurangan suatu apapun, terhindar dari bahaya, dsb.

Artinya tema khotbah kita hari ini mau mengajarkan kepada kita bahwasanya kita harus senantiasa mau berseru kepada Tuhan dalam menghadapi semua persoalan hidup yang kita hadapi. Seperti yang disampaikan dalam bacaan kita yang pertama Ulangan 26:6-10a, bagaimana orang Mesir menindas bangsa Israel dengan sangat kejam, akan tetapi ketika bangsa Israel berseru kepada Tuhan, Tuhan mendengarkan suara mereka dan melihat kesengsaraan dan kesukaran mereka serta penindasan terhadap mereka. Lalu Tuhan membawa mereka ke luar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedahsyatan yang besar serta dengan tanda-tanda mujizat-mujizat. 

Akan tetapi melalui khotbah kita hari ini memberikan sebuah pengajaran kepada kita bahwa sebelum kita berseru kepada Allah, kita harus terlebih dahulu mengenal dengan benar siapa Allah itu sendiri, karena secara umum tidak mungkin seseorang mau memohon sesuatu kepada orang yang belum mereka kenal sama sekali. Dan dalam memohon kepada Allah kita juga harus percaya terhadap Allah itu sendiri. Karena dalam ayat 14 dikatakan, “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?

Oleh sebab itu sebagai orang beriman, marilah kita semua berusaha mengenal Tuhan dengan benar melalui firman-Nya agar kita dapat berseru kepada-Nya. Jangan pernah berusaha menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi dengan kekuatan atau cara kita sendiri, melainkan teruslah berseru kepada Tuhan dalam setiap situasi kehidupan yang kita hadapi, sekalipun kita harus masih harus menunggu jawaban doa kita, karena pada waktunya Tuhan, Tuhan pasti akan mendengarkan seruan kita. Seperti firman Tuhan yang disampaikan dalam invocation kita, “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. (Masmur 18:7).

Pdt. Jaya Abadi Tarigan-Rg. Bekasi

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD