• DSC 2450
  • 20170204 143352

Jadwal Kegiatan

Kunjungan Moderamen GBKP ke GBKP Klasis Bekasi-Denpasar

Minggu 14 Mei 2017:

1. GBKP Runggun Bandung Pusat

2. GBKP Runggun Bandung Timur

3. GBKP Runggun Bandung Barat

4. GBKP Runggun Bekasi

5. GBKP Runggun Sitelusada

Minggu 15 September 2019, Khotbah Kisah Para Rasul 26:16-18

Invocatio :

”Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar” (1 Yoh.3:7).

Bacaan :

Amsal 3:11-18

Tema :

Buka mata, berbaliklah dari kegelapan

 

A. Pendahuluan
Kemajuan zaman dengan teknologi yang makin hari makin hebat, sering membuat kita terbawa arus. Beberapa bahkan banyak orang yang membiarkan hidup mereka dikuasai oleh keinginan daging sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Kemungkinan ini tidak tertutup bisa juga terjadi pada kaum muda di gereja yaitu PERMATA, mereka terjerat dalam pola hidup memikirkan diri sendiri, malas ke persekutuan, pergaulan bebas dan narkoba. Kehidupan yang seperti ini tidak lagi dapat menjadi kesaksian bagiNya. Allah ingin kita bangkit dan kembali menjadi manusia yang seutuhnya bagiNya.

Salah satu tokoh dalam Alkitab yang memperlihatkan pertobatannya adalah Paulus. Paulus adalah seorang rasul yang sangat mempengaruhi wajah kekristenan sampai saat ini. Disebut berpengaruh karena sebagai orang yang terdidik dibawah guru besar taurat yang bernama Gamaliel. Rasul Paulus banyak melahirkan tulisan yang digunakan sebagai bahan pengajaran iman Kristen. Titik balik Paulus sehingga dapat menjadi seorang yang sangat dipakai oleh Tuhan adalah pertobatannya. Kehidupan Paulus menjadi bermakna ketika kuasa Roh Kudus yang beekerja dan diresponinya dengan sebuah pertobatan. Allah mengubah Paulus dari dari seorang penganiaya jemaat menjadi saksiNya terhadap semua orang.

B. Isi
1 Yohanes 3:7 berupa nasehat yang mengingatkan bahwa karena anugerahNya kita sudah menjadi anak-anak Allah. Oleh karena itu sebagai anak-anak yang dikasihiNya, kita harus mampu membedakan mana kehidupan yang terang bersama Allah, dan kehidupan yang gelap bersama iblis. Anak-anak Allah harus bisa membedakan antara terang dan gelap, kebenaran dan kejahatan serta mampu hidup dengan sungguh mengasihiNya dan seluruh ciptaanNya. Inilah pola hidup anak-anak Allah yang tidak lagi terpengaruh oleh pengajar-pengajar palsu.

Amsal 3:11-18
Ayat 11,12: “Hai anakku janganlah engkau menolak didikan Tuhan” memberi arti jangan menghina, memandang rendah dan menolak didikan Tuhan. Salomo menasehatkan supaya anak muda secara terus menerus tidak menolak, menghina dan memandang rendah didikan Tuhan. Hal ini bisa dipahami bahwa pada titik tertentu manusia sering dilanda kebosanan melakukan sesuatu termasuk menentang kebenaran Tuhan. Beberapa orang Kristen yang awalnya hidup daalam kebenaran Tuhan pada suatu saat malah menentang dan meninggalkan kebenaran Tuhan. Alasan bagi kita untuk secara terus menerus jangan menolak didikan Tuhan adalah karena Tuhan mengasihi kita seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya. Harus diakui tidak mudah untuk menerima disiplin dari seorang ayah, begitu juga tidak mudah bagi kita orang percaya menerima disiplin dari Tuhan. Sukar memahami bahwa Allah yang mengasihi, tapi yang kita hadapi adalah kesukaran, ujian, penyakit, kegagalan dan penolakan. Tetapi harus di ingat bahwa Allah memiliki tujuan yang jelas dalam setiap langkah kehidupan manusia (bdk. Ibr.12:5-6).

Ayat 13-18 “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat” bisa diartikan bahwa kebahagiaan akan menjadi milik seseorang apabila ia menemukan dan tidak pernah bosan atau secara terus menerus hidup dalam didikan Tuhan. Dalam ayat 16 dikatakan kekayaan dan kehormatan biasanyanya berjalan bersama, tetapi orang yang tidak menerima didikan Tuhan kaya tapi tidak terhormat/bijaksana. Hidup dalam didikan Tuhan akan memampukan kita menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya yang tidak berasal dari dunia, tapi berasal dari Tuhan.

Kisah Para Rasul 26:16-18
Masa lalu Paulus adalah masa lalu penuh dengan kebenaran dirinya sendiri. Paulus menceritaakan bagaimana kehidupan masa lalunya yang gelap dari kebenaran Tuhan, menurutnya ia telah melakukan hal yang benar. Namun kebenaran yang lahir dari diri sendiri hanya akan membuahkan hal yang salah. “amarah yang meluap-luap” (ay 11) adalah merupakan sebuah pengajaran yang dilakukan dengan cara yang tidak benar dan tidak kudus.

Ketika Paulus “ditangkap” Tuhan Yesus, ia menyerah dan tunduk, karena semakin ia memberontak, ia semakin sulit dan sakit. Paulus menyerahkan masa lalunya dan bertobat untuk memulai masa depan Bersama Tuhan.
Kehidupan pertobatan yang dilakukan oleh Paulus memiliki tujuan. Ketika Tuhan Yesus memanggil Paulus untuk mengikutNya, Tuhan memanggil dengan sebuah tujuan. “Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa iblis kepada Allah” (17-18). Tuhan menyampaikan rencanaNya kepada Paulus, yaitu untuk menjadi alat di tanganNya bagi bangsa-bangsa lain. Pertobatan Paulus bukan saja meninggalkan masa lalunya yang kelam, melainkan juga bersedia untuk taat kepada rencana Tuhan.

C. Aplikasi
Ada pepatah mengatakan “masa muda adalah masa yang paling indah”. Secara fisik seorang pemuda pasti memiliki kekuatan yang prima, secara ilmu pengetahuan seorang pemuda pastilah menguasai banyak hal, perkembangan zaman, teknologi, isu-isu yang berkembang dan sebagainya. Dalam situasi seperti ini pemuda kadang-kadang merasa bahwa apa yang ia pikirkan dan butuhkan merupakan sesuatu yang harus dibenarkan dan dipenuhi kebutuhannya. Sering kita mendengar sulitnya gereja mengarahkan para pemuda untuk mengikuti misi dan visi gereja tersebut. Tuntutan ibadah yang membandingkan dengan gereja-gereja lain, metode ibadah, music gereja dan sebagainya sering menjadi alasan pembenaran para pemuda pindah ke gereja lain, ataupun tidak pindah keanggotaan, tapi malas atau tidak aktif digerejanya.

Di usia kategorial PERMATA yang ke 71 tahun, gereja mengharapkan PERMATA mampu mengunakan masa muda mereka, menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan. PERMATA tidak lagi berjalan sesuai dengan kebenarannya sendiri, melihat kebelakang (masa lalu yang kelam atau kesalahan dan kekuarangan yang pernah ada). Allah memilih PERMATA, mengubah mereka dan memampukan mereka menjadi agen-agen perubahanNya dengan membuka mata dan berbalik dari kegelapan (Tema). Sama seperti Paulus dari seorang penganiaya jemaat menjadi “saksiNya terhadap semua orang”. Hidup dan surat-surat Paulus memberi pengajaran, inspirasi dan penghiburan bagi gereja pada masa awal sampai saat ini. Dan kemudian dipakai Allah untuk mengubah dunia di sekitarnya. Itulah harapan kita bagi PERMATA

Pdt Rena Tetty Ginting
GBKP Rg Bandung Barat

Minggu 08 September 2019, Khotbah Efesus 4:25-32

Invocatio :

“Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” (Amsal 10:22)

Bacaan :

Jeremia 17: 5-13 (Responsoria)

Tema :

“BEKERJALAH DENGAN BAIK”

 

Sesuai dengan tema tahun ini “Meningkatkan Jiwa Kewirausahaan Warga GBKP dalam Bidang Ekonomi serta Kepedulian Terhadap Kesehatan dan Lingkungan”, dalam bimbingan PJJ dan PA kita terus didorong untuk lebih kreatif dan terus meningkatkan kualitas diri kita. Dengan demikian diharapkan dalam pelayanan dan pekerjaan ada kemajuan. Pekerjaan yang sudah ada, dilakukan dengan lebih baik, lebih berkualitas. Ada yang sudah memulai usaha sampingan dengan tujuan menopang keuangan keluarga atau sekedar pengembangan hobi. Dalam Minggu Peningkatan Ekonomi Jemaat ini kita kembali diingatkan dasar teologis dari semua pekerjaan yang kita lakukan.
Penjelasan Teks

Invocatio Amsal 10: 22
Amsal termasuk kitab hikmat. Ada banyak nasehat siap pakai di dalamnya. Bagaimana dengan Amsal 10:22? Benarkah “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.”? Bukankah pengajaran ini bisa disalahartikan orang sebagai pengajaran untuk tidak usah bersusah payah, tidak usah bekerja keras, karena toh tidak akan membuat kaya. Ini tentu penalaran yang tidak tepat. Amsal ini tidak bertujuan membuat orang menjadi malas. Penekanannya adalah motivasi dalam bekerja atau bersusah payah. Kalau manusia hanya bekerja keras untuk menjadi kaya, ia sudah mengesampingkan Tuhan. Segala yang dikerjakan semata-mata demi uang, maka ia sudah menjadi hamba uang. Ini motivasi yang keliru, karena bisa membuat orang menghalalkan segala cara demi mendapat uang dan menjadi kaya. Kemudian dia akan memegahkan diri dengan pengakuan bahwa semua kekayaannya berasal dari kerja kerasnya sendiri. Maka Amsal menegaskan, bukan kehebatan manusia, tapi berkat Tuhan yang menjadikan pekerjaan itu memberi hasil yang baik.

Bacaan Yeremia 17: 5-13
• Perkataan Tuhan melalui nabi Yeremia ini membandingkan dua cara hidup umat yang bertolak belakang. Yang mengandalkan manusia dan yang mengandalkan Tuhan. Yang mengandalkan manusia, atau dirinya sendiri akan berujung pada kekecewaan dan pasti pengharapan itu akan lenyap. Sebaliknya yang mengandalkan Tuhan akan seperti pohon yang tidak berhenti menghasilkan buah.
• Kejujuran adalah faktor yang sangat penting, Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin. Seperti ayam hutan mengerami yang tidak ditelurkannya, setelah telur menetas anak itu akan pergi meninggalkannya. Demikian pula orang yang melakukan pekerjaan yang tidak halal. Harta kekayaan yang terkumpul hanya sementara, pada waktunya ia akan kehilangan segalanya.

Khotbah Efesus 4: 25-32
Jemaat di Efesus bukanlah jemaat yang kenal Kristus sejak lahir. Mereka lahir dalam lingkungan yang penuh dosa, hidup dalam dosa tanpa menyadari itu adalah dosa. Maka sejak belajar mengenal Kristus (ayat 20) dan menerima Kristus, mereka harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia baru yang dibaharui dalam roh dan pikiran (ayat 23). Manusia baru bukan dalam wujud fisik melainkan dari hatinya. Pembaruan itu, menurut Paulus, harus terlihat dalam:
- Ayat 25: Perkataan yang benar. Orang yang belum mengenal Yesus Kristus, terbiasa mengucapkan dusta dan kebohongan. Setelah hidup dalam Kristus perkataan yang keluar dari mulut orang percaya haruslah kebenaran.

- Ayat 26-27: Penguasaan diri saat marah. Karakter pemarah bukanlah karakter Kristus, meskipun Alkitab mencatat Yesus pernah marah karena melihat hal yang tidak benar di Bait Allah. Siapapun bisa marah. Siapapun pernah marah. Tapi marah tanpa harus berbuat dosa. Mengutip Aristoteles: “Anybody can be angry. That is easy; but to be angry with the right person, to the right degree, for the right purpose, and in the right way-that is not easy.” Marah kepada orang yang tepat, dengan takaran yang pas, untuk tujuan yang benar dan dengan cara yang benar, tidaklah mudah. Maka kita semua perlu belajar mengelola rasa marah, bukan membiarkan kemarahan itu menguasai kita. Supaya tidak ada kesempatan bagi si Iblis menguasai kita.

- Ayat 28: Bekerja dengan baik. Orang yang mencuri harus berhenti mencuri. Ia harus mencari pekerjaan yang menghasilkan uang dengan cara yang benar. Lebih dari itu, kalau dulu sebagai pencuri dia tinggal menikmati hasil jerih payah orang lain, setelah bertobat dan mengenal Kristus dia justru harus memberi kepada orang lain. Ia harus membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan, dari hasil pekerjaan tangannya. Inilah salah satu tujuan bekerja yang kadang kita lupakan. Hasil pekerjaan kita digunakan untuk memberkati orang-orang yang berkekurangan, bukan untuk kita sendiri saja.

- Ayat 29: Perkataan yang membangun. Perkataan yang baik, pada momen yang tepat, akan menjadi penguatan yang membangun bagi yang mendengarnya. Oleh sebab itu haruslah orang-orang percaya memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Bukan hanya saat-saat tertentu seperti di gereja, dalam persekutuan, tetapi di mana saja. Termasuk di tempat kerja, kantor, sekolah, pasar, perkataan harus menjadi berkat.

- Ayat 30-32: Buang kepahitan dan kejahatan, pelihara kasih mesra dan saling mengampuni.

Aplikasi
Ketiga bacaan minggu ini memberi penjelasan bahwa pekerjaan itu adalah dari Tuhan, dikerjakan dengan mengandalkan Tuhan, dan hasilnya untuk memuliakan Tuhan karena jadi berkat bagi sesama.

Dalam buku Institutio Pengajaran Agama Kristen, Yohanes Calvin menulis: “Tuhan menetapkan tugas-tugas bagi setiap orang menurut jalan hidupnya masing-masing. Dan masing-masing jalan hidup itu dinamakan panggilan.” Ini berarti dalam setiap pekerjaan atau profesi, kita harus menyadari pekerjaan itu panggilan Tuhan. Kita terpanggil untuk melakukan yang terbaik, bertanggung jawab, berdedikasi, dan jujur dalam pekerjaan kita. Kalau kita guru, jadilah guru yang berdedikasi, mendidik untuk mencerdaskan, bukan semata-mata mengejar penuhnya jam mengajar demi tunjangan tertentu. Kalau kita pegawai, jadilah pegawai yang mengerjakan bagiannya sesuai fungsinya, bukan sekedar mengisi absensi kehadiran lalu sibuk mengerjakan hal lainnya yang bukan tugas utama. Kalau kita pebisnis, juallah produk atau jasa tanpa unsur menipu pembeli, jangan menjual kebohongan demi keuntungan yang besar. Kalau kita tenaga medis, jadilah tenaga medis yang rindu menolong orang dengan talenta dan ilmu yang ada pada kita, bukan hanya mengejar uang. Baiklah kita semua bekerja keras sebagai ucapan syukur karena Tuhan memberi nafas, kesehatan, dan pekerjaan. Kita kerja keras sebagai pertanggungjawaban kepada Tuhan Sang Pemberi Kehidupan.


Pdt. Yohana br Ginting
GBKP Runggun Samarinda

Minggu 01 September 2019, Khotbah Markus 7:1-13

Invocatio :

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” (Mazmur 25 : 15)

Bacaan :

Mazmur 150 : 1 – 5 (Responsoria)

Tema :

“Mersaksi Melalui Adat”

 

Pendahuluan
Saudara-saudari yang terkasih, bersaksi adalah satu dari tiga tugas/ panggilan Tuhan bagi umat percaya (Gereja). Kita senang dan berbangga bahwa umumnya gereja kita cukup semangat dan semarak dalam minggu budaya. Minggu budaya tampil beda dari minggu-minggu lainnya. Dalam minggu budaya liturgos dan pengkhotbah memakai bulang/ tudung dan beka buluh/ uis nipes atau istilahnya berpakaian lengkap tanpa emas-emas. Sementara jemaat berpakaian adat baik Lansia, Mamre, Moria ras Permata. Mimbar Gereja dan ruangan juga dihias/ didekorasi bernuansa budaya. Tidak ketinggalan alat musik dan musik etnis/ tradisional kita ikut menyemangati ibadah kita. Semua senang dan gembira. Itulah salah satu bentuk dan wujud Gereja yang menghargai adat dan budaya, Gereja yang bersaksi melalui budaya. Namun, apakah hanya dengan begitu saja kita telah bersaksi melalui budaya kita? Apakah cukup hanya dengan pakaian adat, aksesori dan alat musik etnis Karo saja yang namanya bersaksi melalui budaya? Mari kita melihatnya lebih jauh dan lebih dalam lagi.

ISI
Bukan lahiriah dan formalitas belaka
Para Farisi dan ahli Taurat sengaja datang dari Yerusalem untuk menjumpai Yesus tapi bukan dengan maksud baik. Mereka menolak Yesus sebagai Mesias, Anak Allah oleh karena sebelumnya Yesus meminta mereka untuk menunjukkan iman mereka melalui perbuatan. Berkali-kali sebelumnya mereka mengkritik Yesus karena Ia menunjukkan kepada orang banyak bahwa Ia bisa mengampuni dosa, murid-muridNya tidak berpuasa, Ia memberikan pengertian baru tentang hari Sabat, bahkan menyembuhkan orang lumpuh pada hari Sabat (2:1-3:6). Orang Farisi dan ahli Taurat datang menjumpai Yesus untuk menyalahkan dan menolak Dia. Mereka mencari celah untuk ‘menyerang’ Yesus. Ketika mereka melihat murid Yesus makan dengan tidak mencuci tangan terlebih dahulu maka mereka mengangkat kasus itu sebagai senjata untuk menjatuhkan Yesus. Mereka ‘mendakwa’ Yesus bahwa murid-muridNya telah melanggar adat istiadat nenek moyang mereka. Kita tahu adat pembasuhan sangat penting bagi orang Yahudi. Hal ini diperkuat oleh penemuan arkeologi dimana ada banyak tempat pembasuhan sebagai adat, ritual mereka. Salah satunya yaitu di Qumran. Yesus justru membalikkan tuduhan mereka. Yesus mengkritik balik mereka dengan menyebut mereka sebagai orang munafik. Yesus mengutip firman yang tertulis dalam Yes. 29:13. Orang Farisi cs memuliakan Allah hanya dengan bibirnya saja, tapi hatinya jauh dari Allah. Ajaran mereka hanyalah ajaran manusia saja. Karena itu sia-sia mereka beribadah kepada Allah. Mereka telah mengabaikan perintah Allah dengan berpegang pada adat istiadat manusia.

Jangan menghakimi dari kulitnya/ penampakan luarnya saja. Inilah yang telah dilakukan orang Farisi dkk terhadap Tuhan Yesus dan muridNya. Mereka menolak Tuhan hanya dengan melihat yang terlihat oleh mata jasmaninya saja. Mereka tidak mampu melihat lebih dari yang terlihat oleh mata. Mereka tidak mampu melihat sampai ke dalam hati. Mereka terlalu berfokus pada yang lahiriah dan formalitas saja. Mereka terlalu memutlakkan adat dan aturan belaka. Adakah gereja kita juga berlaku demikian? Adakah aturan yang adat dan gereja kita sedemikian keras dan ketat sehingga bisa mengabaikan perintah Tuhan? Perhatikan aturan diakonia di runggun kita. Apakah tindakan, perlakuan harus persis sama terhadap anggota yang ada? Perhatikan cokong-cokong di pesta adat Karo khsususnya di Sumatra. Aturan yang tidak tertulis itu telah demikian membebani tamu/ undangan. Contoh lain tentang pembagian harta warisan. Ada anak yang meminta pembagian warisan harus sama. Kalau tidak sama berarti tidak adil. Bukankah pembagian warisan itu didasari dengan kasih? Sudah saatnya kita gereja melihat isi, inti dan hakekat dari satu aturan, adat dan tradisi yaitu untuk saling mengasihi seperti perintah Allah bagi kita.

Adat istiadat tidak menggantiken firman Allah
Yesus menegor dengan keras orang Farisi dkk karena mereka telah menggantikan perintah Allah dengan adat istiadat nenek moyang mereka. Melalui jawabNya, Yesus sangat prihatin apabila tafsiran manusia dibiarkan menggantikan firman Tuhan yang adalah sumber otoritas dan kuasa. Adat ada bukan menggantikan perintah Allah, tapi untuk menegaskannya. Adat ada untuk mendukung firman Tuhan, bukan sebaliknya. Adat tidak boleh menggantikan posisi firman Tuhan. Yesus memberi contoh bagaimana orang Farisi cs mengesampingkan firman Tuhan demi adat istiadat. Perintah Allah yang kelima, “Hormatilah ayahmu dan ibumu!” (ayat 7, Kel. 20:12). Selain firman ini ada ayat mengatakan bahwa nazar atau sumpah kepada Allah harus ditepati (Bil. 30:2). Orang Farisi cs telah mengembangkan firman ini dan telah menjadi tradisi. Tradisi tersebut mengatakan bahwa seseorang dapat bersumpah menyatakan bahwa sebagian harta bendanya dia persembahkan kepada Allah. Lebih lanjut adat/ tradisi mengatakan bahwa harta yang telah dipersembahkan tersebut tidak harus diserahkan ke Bait Allah. Harta tersebut tetap di tangan mereka sekalipun telah dinazarkan untuk Allah. Harta yang telah dipersembahkan itu akan diberikan bila dia sudah mati. Sementara mereka masih hidup, harta tersebut boleh mereka pakai dan nikmati. Tetapi ketika orangtuanya butuhndibantu dan didukung secara finansial, mereka bisa mengelak dengan alasan uang tersebut telah disumpahkan untuk dipersembahkan kepada Allah. Mereka menggunakan sumpah mereka bukan untuk menghormati Allah tetapi sebagai cara untuk mengelak dari tanggungjawab mereka menghormati orangtua. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia dapat memberi banyak contoh lain bagaimana adat dan tradisi mengizinkan orang mengelak dari hukum Allah daripada mematuhinya (ayat 13).

Dalam hal membuat aturan, undang-undang dan adat orang Farisi jagonya. Dari 10 perintah Allah mereka telah kembangkan menjadi 613 perintah dan aturan. Tetapi banyak sekali akhirnya yang dikembangkan itu yang disebut dengan adat, aturan tradisi telah begitu bersifat legal, procedural dan formalitas. Kita harus begitu berhati-hati dalam menggunakan adat, budaya dan tradisi yang kita punya dalam menyatakan kehendak Allah. Jangan kiranya adat dan tradisi kita menggantikan kebenaran firman Allah. Jadikanlah Alkitab sebagai otoritas tertinggi dan terakhir dalam hidup dan kesaksian kita. Jangan pandai sekali membuat aturan, AD/ ADT kalau itu justru keluar dari perintah Tuhan.

Adat tidak boleh menggantiken firman dan perintah Tuhan. Ketika adat dipakai untuk menggantikan perintah Allah maka yang ada hanyalah peraturan-peraturan manusia saja. Saat adat menggantiken perintah Tuhan maka adat telah ditempatkan di atas Kristus. Kristuslah justru yang mentransformasi budaya dan tradisi. Dimana budaya ditransformasi, maka budaya itu akan baik, berguna dan mejadi berkat. Itulah yang menyenangkan Tuhan. Tuhan mau kita menyembah dan memuliakan Dia dengan hati kita.

Bersaksi melalui adat
Kita percaya bahwa segala sesuatu dari Allah, oleh Dia dan kepada Dia. Kita dan adat kita yang baik juga berasal dari Dia. Tuhan memanggil kita semua untuk memuliakan Dia (Roma 11:36). Kita bisa memuliakan Dia dengan memuji-muji Dia bdk Mazmur 150). Pujian kita bisa menjadi kesaksian kita. Dan kita bersaksi melalui adat kita. kita bisa bersaksi melalui falsafah kekaroan kita yaitu merga silima, tutur siwaluh, rakut sitelu dan perkade-kaden 12 tambah sada. Kita bisa beraksi melalui pakaian adat kita, tarian kita, alat musik kita, seni budaya, seni suara dst. Tetapi sudah saatnya bersaksi melalui adat dan budaya yang lebih substansial bukan formalitas dan lahiriah saja. Memakai adat dan budaya, kita untuk menyatakan kasih kepada Allah dan sesama.

Memakai pakaian adat, bulang-bulang, beka buluh, tudung langge-langge dan uis nipes, rose la eremas-emas di saat minggu budaya itu bagus dan indah. Tetapi akan jauh lebih bagus dan lebih indah bila fisosofi dan pesan dibalik aksessori dan adat yang ada itu kita tunjukkan di dalam hidup berjemaat dan bermasyarakat. Sebagai senina, kita semakin peduli dan mendukung saudara dan keluarga kita. Sebagai kalimbubu, kita semakin memberkati anak beru kita. Dan sebagai anak beru kita menyatakan hormat dan kasih kita kepada kalimbubu kita.

Penutup/ kesimpulan
Gereja yang hidup adalah gereja yang bersaksi. Sebaliknya, gereja yang tidak bersaksi, enggan/ malu bersaksi, dan tidak mau bersaksi adalah gereja yang mati. Panggilan untuk bersaksi tetap berlaku sampai Tuhan Yesus datang kali kedua (bnd Mat. 28:18-19; Mrk. 16:16; Kis. 1:8; 2 Tim. 4:2). Kita dipanggil untuk bersaksi kapan saja dan dimana saja kepada siapa saja. Bersaksi bisa melalui banyak media dan cara. Kita bersaksi melalui adat dan budaya kita. Adat dan budaya kita bisa menjadi sarana dan alat yang efektif untuk menyampakan kehendak Tuhan. Bersaksi melalui budaya kita membuat orang Karo semakin mudah memahami firman Tuhan dan melaksanakannya. Bersaksilah melalui budaya menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya. Bersaksilah baik secara pribadi, keluarga maupun bersama. Kita bersaksi melalui adat kita untuk memuliakan Dia. BagiNyalah kemuliaan dari sekarang sampai selama-lamanya. Amin.

Pdt. Juris Tarigan, MTh;
GBKP RG Depok – LA

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD