• DSC 2450
  • 20170204 143352

Jadwal Kegiatan

Kunjungan Moderamen GBKP ke GBKP Klasis Bekasi-Denpasar

Minggu 14 Mei 2017:

1. GBKP Runggun Bandung Pusat

2. GBKP Runggun Bandung Timur

3. GBKP Runggun Bandung Barat

4. GBKP Runggun Bekasi

5. GBKP Runggun Sitelusada

Minggu 17 November 2019, Khotbah Kisah Para Rasul 16:25-34

Invocation :

Mazmur 103:17, Tetapi kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilanNya bagi anak cucu. 

Bacaan :

Ulangan 12:1-7

Tema :

Keluarga yang percaya akan senantiasa bergembira

Pendahuluan
Dapat dikatakan bahwa keluarga merupakan bagian dari rencana Allah untuk menghadirkan keselamatan dan kebahagian bagi umat manusia. Karena itu manusia pertama langsung dipersatukan dalam ikatan keluarga, Adam dan Hawa diberkati sebagai suami istri.Untuk menghadirkan keselamatan (kerajaan Allah) di dunia makagerejamelakukan pemembinaan terhadap jemaat juga dilakukan dalam lingkup kekeluargaan. Demikian juga Persekutuan dalam gereja terdiri dari keluarga-keluarga Kristen. Keluarga Kristenadalah persekutuan ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya dan meneladani serta menjalankan ajaran Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga keluarga juga dapat disebut sebagai miniature gereja.

Pembahasan
Mazmur 103 mengungkapkan rasa syukur dan pujian kepada Tuhan atas keuntungan dan berkat yang telah dilimpahkanNya atas umat yang percaya padaNya. Bahwa kasih setia Tuhan untuk selama-lamanya artinya kasihNya lebih dari hidup itu sendiri, karena hidup manusia ada batasnya, bahkan bisa diartikan kasih Tuhan melampaui hidup manusia yang hanya seperti rumput (ay 15). Bagi orang yang takut akan Tuhan, berlaku janji keselamatan dan keadilan Tuhan bahkan akan terus berlaku juga bagi anak dan cucunya. Bisa disimpulkan bahwa kasih Tuhan tak berkesudahan bagi keluarga yang takut akan Dia (baca: mengasihi Tuhan).

Bangsa Israel menerima ketetapan dari Tuhan untuk memusnahkan tempat peribadatan bangsa-bangsa terdahulu yang mereka dapati di tanah perjanjian. Hal ini tentu saja dilatar belakangi oleh perjalanan hidup bangsa Israel sendiri yang dapat dengan mudahnya tergoda untuk menyembah ilah-ilah lain. Untuk menghindarkan bangsa Israel dari penyembahan terhadap ilah-ilah lain di tanah Kanaan,selain peribadahan dalam dalam rumah tangga (Ul 6:7,20) maka disepakatilah pemusatan peribadahan bagi mereka. Dalam ayat 5 disebutkan bahwa Allah sendirilah yang akan memilih tempat tersebut dan hanya ketempat tersebutlah mereka dapat membawa segala persembahan mereka (ay 6), tempat ini kemudian kita kenal dengan bait suci di Yerusalem. Tujuan dari pemusatan ibadah ini adalah untuk mencegah setiap orang melakukan ibadah dan tindakan menurut keinginan dan pandangannya masing-masing ditanah baru mereka tempati (ay 8-9). Tempat ibadah tersebut juga memiliki fungsi social, seperti yang dicatatkan dalam ayat 7, yaitu sebagai tempat keluarga (kamu dan seisi rumahmu) untuk bersukaria dihadapan Tuhan. Sukaria keluarga tersebut diekspresikan dengan acara makan bersama (miriplah dengan orang Karo yang juga selalu mengekspresikan sukacitanya dengan makan bersama).Alasan untuk bersukaria tersebut adalah karena keluarga telah menerima berkat Tuhan dalam segala usahanya. Sehingga keluarga yang bahagia adalah keluarga yang senantiasa mengucap syukur, pertama-tama syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan kemudian syukur karena berkat melimpah yang diterima setiap harinya.

Paulus dan Silas mengalami penderitaan di penjara, kaki terbelenggu dan tubuh mereka terluka karena di dera/ dicambuk (ay 22-24), hukuman ini dijatuhkan karena mereka dianggap bersalah ketika mengabarkan Injil diantara masyarakat dikota Filipi, ada kelompok yang merasa dirugikan dan menuduh Paulus dan Silas mengacau kota dengan mengajarkan adat-istiadat Yahudi (ay19-21). Namun ditengah penderitaan fisik ini pun mereka senantiasa berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, yang mereka lakukan adalah mengucap syukur dalam penderitaan. Doa dan pujian didengar oleh tahanan lain bahkan kemudia mendatangkan gempa hebat yang mengakibatkan:Sendi-sendi penjara goyah; Seketika terbukalah semua pintu; Terlepaslah belenggu mereka; Kepala penjara terjaga dari tidurnya (kepala penjara yang tadinya membelenggu kaki Paulus dan Silas). Kondisi ini membuat kepala penjara berpikir bahwa seluruh orang hukuman telah melarikan diri, dan bukannya mencoba mengejar atau pun meminta tolong untuk mencari orang-orang hukuman yang dikiranya sudah lari malahan dia menghunus pedangnya untuk tujuan membunuh diri sendiri.Mengapa seseorang mau membunuh diri sendiri? Menurut hellosehat.com penyebabnya adalah karena depresi, sikap impulsive (melakukan sesuatu berdasarkan dorongan hati), masalah social (dikucilkan/ bullying), filosofi kematian (mereka melihat tidak ada peluang untuk hidup), dan sakit mental. Dan saya kira kita sepakat bahwa kegembiraan ditengah keluarga akan menjauhkan anggota keluarga dari keinginan/ pikiran untuk bunuh diri.Mungkin rasa takut atas akibat dari kejadian gempa hebat,karena tahanan yang menjadi tanggung jawabnya dianggapnya sudah melarikan diri membuat kepala penjara mengambil keputusan instan tersebut.

Kita bisa saja beropini tentang penyebab kepala penjara tersebut ingin bunuh diri namun satu-satunya persoalan yang ditanyakannya kepada Paulus dan Silas adalah tentang keselamatannya. Katanya “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” dan jawaban yang diterimanya “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu”. Keinginannya untuk tetap hidup menjadi jalan masuk bagi Paulus dan Silas memperkanlakan Juru Selamat. Peristiwa gempa hebat dipenjara akhirnya bukan semata untuk membebaskan Paulus dan Silas tapi untuk mendatangkan keselamatan bagi kepala penjara dan keluarganya. Maka Injil diberitakan kepada kepala penjara dan semua orang yang ada dirumahnya, sekeluarga menjadi percaya dan memberi diri untuk dibabtis. Ayat 34, kembali kita bertemu dengan keluarga yang bergembira karena lawatan Tuhan dalam hidupnya dan ekspresi sukacita itu dilakukan dengan makan bersama.

Kesimpulan
1. Secara sederhana kesimpulan pertama dari Firman Tuhan diatasmaka haruslah mengadakan quality time bersama keluarga sangat penting dan yang dimaksud adalah dalam bentuk makan bersama.
2. Keselamatanoleh Tuhan Yesus yang di terima akan mengubahkan hidup sekeluarga dan juga memampukan kita untuk hidup penuh rasa syukur bersama keluarga yang Tuhan anugrahkan.
3. Keluarga yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus akan menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah, bagian dari tubuh Kristus di dunia ini.
4. Sukacita ditengah keluarga bukanlah hal yang datang dari pencapaian dunia tapi karena seluruh keluarga memiliki iman percaya kepada Tuhan Yesus.
5. Kedekatan dan kebersamaan dalam keluarga akan menghindarkan anggota keluarga dari depresi dan pengaruh buruk/ negatif lingkungan dan teknologi.

Pdt. Erlikasna Purba
Runggun Denpasar

Minggu 10 November 2019, Khotbah Filipi 4:6-8

Invocatio :

Karena itu aku menasehati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya (Perb. 27:34)

Bacaan :

Kejadin 1:29-31 (Tunggal)

Tema :

PIKIRKANLAH YANG BENAR (UKURILAH SIMEHULI).

 

I. KATA PENARUH
Pandangan etika Kristen mengatakan bahwa pandangan kita terhadap sesuatu itu menentukan sikap kita terhadap sesuatu itu. Seperti seorang ibu yang memiliki 2 putra. Kedua putranya bekerja yakni anak yang pertama bekerja sebagai penjual es krim dan anak yang kedua bekerja menyewakan payung waktu hujan. Ketika hari hujan maka sedihlah hati ibu tersebut karena yang dia ingat anaknya yang pertama mengingat es krim anaknya tidak akan habis terjual karena hari hujan. Jika hari sangat cerah maka ibu tersebut juga sangat bersedih karena yang dia ingat anaknya yang kedua mengingat payung anaknya tidak akan ada yang menyewanya karena hari tidak hujan. Oleh sebab itu baik hari hujan atau cerah hati ibu tersebut sangat sedih. Suatu hari teman-temannya mengajaknya untuk bersama-sama mereka ikut dalam persekutuan gereja mereka. Ternyata dengan seringnya ikut daam persekutuan-persekutuan gereja, maka ibu tersebut sering sekali mendengarkan firman Tuhan tentang bagaimana Allah turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya.

Akhirnya ibu tersebut dapat mengelola pikirannya sehingga baik cerah atau hujan dia dapat tersenyum gembira karena ketika hari hujan yang dia ingat anaknya yang kedua mengingat payung anaknya pasti banyak disewa orang karena hari hujan. Kalau hari cerah ibu tersebut sangat gembira juga karena yang dia ingat anaknya yang pertama mengingat es krim jualan anaknya pasti habis terjual mengingat teriknya matahari. Ternyata gembira tidaknya dan senang tidaknya ibu tersebut bukan tergantung apa jualan anaknya, atau tidak tergantung hujan atau cerahnya hari, melainkan tergantung apa yang dipikirkan ibu tersebut.

Khotbah kita Minggu ini juga mau mengajarkan kepada kita tentang nasihat-nasihat Rasul Paulus untuk menjalankan berbagai kewajiban kristiani yaitu supaya kita berdiri teguh di dalam iman Kristen yang kita akui (ay. 1). Paulus menasehati agar jemaat Pilipi berdiri dengan teguh dalam Tuhan. Sekarang mereka sudah ada di dalam Kristus, dan karena itu mereka harus berdiri teguh di dalam Dia, mantap dan kokoh dalam berjalan dengan-Nya, dan tetap dekat dan setia sampai pada akhirnya. Atau, berdiri dengan teguh dalam Tuhan berarti berdiri dengan teguh dalam kekuatan dan anugerah-Nya, dengan tidak mengandalkan diri dan mengakui ketidakberdayaan kita.

Dalam Pilipi 4:6-8 Paulus menyampaikan nasehatnya untuk memberikan peringatan terhadap kekhawatiran yang menggelisahkan (ay. 6).Berbagai kesulitan seperti yang dialami gereja di Filipi wajar membuat mereka kurang bersukacita. Kekuatiran baik tentang kehidupan pribadi maupun gereja memang bisa membuat kesukaan menjadi sesuatu yang tidak akrab dalam pengalaman orang Kristen. Tetapi Paulus mengingatkan bahwa sukacita orang Kristen berasal dari Tuhan (ayat 4). Sebaliknya dari membiarkan kondisi sukar mempengaruhi sikap orang Kristen, Paulus meminta agar orang Kristen di Filipi secara aktif menyatakan kebaikan hati mereka (ayat 5). Status 'dalam Tuhan' yang menjadi sumber orang Kristen memiliki sukacita dan damai sejahtera tidak boleh dihayati oleh orang Kristen secara pasif. Hanya bila secara aktif orang Kristen memupuk status tersebut dalam doa, maka relasi dengan Tuhan itu menjadi komunikasi yang hidup dan hangat. Dalam kondisi demikian kekuatiran tak beroleh tempat sebab damai dan sukacita Allah sendiri penuh dalam hati orang percaya (ayat 4-7).

Sebagai penangkal ampuh melawan kekhawatiran yang menggelisahkan, Rasul Paulus menyarankan supaya kita senantiasa berdoa kepada Tuhan. Dalam hal ini Paulus mengajarkan bahwa kita tidak hanya harus memelihara waktu-waktu untuk berdoa, tetapi juga harus berdoa setiap saat. Ketika apa saja membebani roh kita, kita harus menenangkan pikiran kita dengan doa. Ketika urusan-urusan kita menjadi kacau atau gelisah, kita harus mencari petunjuk dan dukungan. Kita harus memadukan ucapan syukur dengan segala doa dan permohonan kita. Doa berarti mempersembahkan keinginan-keinginan kita kepada Allah, atau memberitahukannya kepada Dia. Bukan berarti bahwa Allah perlu diberi tahu kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan kita, sebab Ia mengetahuinya secara lebih baik daripada yang bisa kita katakan kepada-Nya. Tetapi Ia ingin mengetahuinya dari kita, dan mau supaya kita menunjukkan perhatian dan kepedulian kita, mengungkapkan penghargaan kita terhadap rahmat-Nya dan rasa kebergantungan kita kepada-Nya.

Dengan menyatakan segala keinginan kita kepada Allah maka akan berdampak bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati kita (ay. 7). Damai sejahtera ini akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Damai sejahtera itu akan menjaga kita untuk tidak berdosa di bawah permasalahan-permasalahan kita, dan tidak tenggelam di dalamnya. Damai sejahtera itu akan membuat kita tetap tenang dan terkendali, tidak diombang-ambingkan amarah, tetapi mendapat kepuasan batin.

Paulus juga menasehati jemaat Pilipi untuk memperoleh dan menjaga nama baik, nama untuk hal-hal yang baik yang ada pada Allah dan orang-orang baik yaitu semua yang benar, semua yang mulia (ay. 8). Kita harus memperhatikan supaya perkataan dan perbuatan kita benar, dan perilaku kita sopan dan pantas, sesuai dengan tempat dan keadaan hidup kita. Semua yang adil, semua yang suci – yang sesuai dengan kaidah-kaidah keadilan dan kebenaran dalam berhubungan dengan orang lain, tanpa adanya ketidakmurnian dan campuran dengan dosa. Semua yang manis, semua yang sedap didengar, yaitu semua yang menyenangkan. Itu akan membuat kita dicintai orang lain, dan mereka pun akan mengatakan serta memikirkan yang baik-baik tentang kita. Semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji – apa saja yang betul-betul bajik dan layak dipuji.

Kebajikan terpuji dengan sendirinya, dan akan dipuji. Kita harus hidup dalam semua jalan kebajikan, dan tinggal di dalamnya. Maka, entah datang dari manusia atau tidak, pujian akan datang dari Allah (Rm. 2:29). Dalam kesemuanya ini, Rasul Paulus menawarkan dirinya kepada mereka sebagai teladan (ay. 9). Apa yang telah mereka pelajari dan apa yang telah mereka terima, dan apa yang telah mereka dengar dan apa yang telah mereka lihat pada diri Paulus, mereka dapatmelakukanitu.

Perhatikanlah, ajaran dan kehidupan Paulus adalah dua hal yang sejalan. Apa yang mereka lihat padanya adalah sama dengan apa yang mereka dengar darinya. Ia bisa mengajukan dirinya dan juga ajarannya untuk mereka contoh. Kata-kata kita kepada orang lain akan bertambah kuat apabila kita bisa meminta mereka untuk melihat apa yang ada pada kita. Dan inilah cara supaya Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kita sekalian yaitu dengan senantiasa menjalankan kewajiban kita kepada-Nya. Tuhan beserta kita selama kita beserta Dia (bnd. Yohanes 15:7).

Tema kita adalah PIKIRKANLAH YANG BENAR. Pikirkan berasal dari kata Pikir yang dalam KBBI artinya akal budi, ingatan, angan-angan. Memikirkan artinya mencari upaya untuk menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan akal budi, mempertimbangkan, merenungkan, memperhatikan, mempedulikan, mengindahkan. Benar dalam KBBI artinya sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah, tidak berat sebelah, dapat dipercaya. Jadi melalui tema ini memberikan suatu pengertian kepada kita bahwa kita harus mencari upaya melakukan hal yang seharusnya atau yang benar.

Pada Minggu kesehatan ini kita diajak untuk tidak lagi menyibukkan diri dengan masalah-masalah hidup kita sehingga kita kehilangan semangat dan harapan untuk hidup dan mempengaruhi selera makan kita. Banyak orang tidak peduli dengan kesehatan mereka karena banyaknya masalah atau karena sibuknya mencari harta dunia ini.

Tetapi melalui khotbah Minggu ini kita diajak untuk dapat memahami bahwa masalah boleh saja datang menghampiri kita akan tetapi jangan biarkan kekuatiran hidup menghilangkan harapan kita. Seperti yang disampaikan dalam Invocatio, bagaimana ketika Paulus berlayar ke Roma dan angin kencang dan badai menghantam kapal mereka dan seakan-akan tidak ada lagi harapan untuk hidup. Ketakutan orang-orang yang berada di atas kapal tersebut membuat mereka tidak mau makan dan tidak minum selama 14 hari. Tetapi Paulus tetap meyakinkan mereka dan menyuruh mereka makan karena Allah pasti akan memelihara dan melepaskan mereka dari badai yang menerpa mereka.

Karena dari zaman Adam dan Hawa Allah sendiri sudah menyiapkan segalanya yakni memberikan persediaan kepada Adam tanpa Adam mengkhawatirkannya, dan masih memberikan persediaan kepada semua makhluk tanpa mereka mengkhawatirkannya. Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang percaya pada-Nya kekurangan apa saja yang baik (Mat. 6:26). Dia yang memberi makan burung-burung tidak akan membiarkan kelaparan anak-anak-Nya.Oleh sebab itu sebagai orang beriman biarlah masalah menerpa hidup kita tetapi kita harus percaya bahwa Allah pasti akan memelihara hidup kita. Yang penting yang harus kita lakukan adalah tetap melakukan yang baik yang benar dan yang berkenaan kepada Allah maka Allah akan menambahkan segalanya (bnd. Mat. 6:33). Amin

Pdt. Jaya Abadi Tarigan
GBKP Runggun Bandung Pusat

Minggu 03 November 2019, Khotbah Kolose 3:5-11

Invocatio :

’’Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu, hiduplah sebagai anak-anak terang (Efesus 5:8)

Bacaan :

Hakim-Hakim 6:23-27 (Responsoria)

Tema :

Jemaat yang tetap diperbaharui Allah


A. Pendahuluan
Pernahkah saudara bertemu dengan teman lama saudara (mungkin teman SMP/SMA). Saat SMP atao SMA dia nakal sekali, bahkan hampir sering tinggal kelas. Selalu dapat SP dari kepala sekolah. Setelah beberapa lama (10) tahun kemudian ada kesempatan bertemu dalam sebuah rapat atau tugas banyak berbincang serta bernostalgia. Dari hasil pertemuan dan pengamatan saudara,teman itu, dia sudah berubah dari cara bicara, cara berpikir dan bertindak sertsa mempunyai kedudukan yang baik. Bagaimana perasaaan saudara? Atau sebaliknya teman dahulu baik budi dan juara terus, pada saat bertemu kembali mendengar dia pengedar narkoba, masuk keluar masuk penjara?.Hidup manusia melalui banyak proses dan menghasilkan sessuatu yang baik atau buruk tergantung kepada pilihannya masing-masing

B. Isi
Penjelasan Teks Kolose 3:5-11
Jemaat di Kolose adalah salah satu dari beberapa jemaat yang mendapat kiriman surat oleh Rasul Paulus walaupun kota Kolose adalah kota yang kecil dan tidak begitu penting dalam era itu. Namun di tengah kesibukannya, Rasul Paulus meluangkan waktu untuk menulis surat bagi jemaat di Kolose.

Jika kita membaca Kitab Kolose ini, maka kita akan menemukan bahwa jemaat di Kolose adalah jemaat yang sudah memiliki iman kepada Tuhan Yesus Kristus, hidup dalam kasih dan memiliki pengharapan akan hidup yang kekal lewat pemberitaan Injil. Namun ternyata ada masalah pengajaran dalam jemaat Kolose yang kemudian berpengaruh kepada perilaku hidup mereka sehari-hari.(Kol 1:3-6)

Jemaat di Kolose adalah jemaat yang sudah mengalami kelahiran baru, tetapi mereka masih dipengaruhi dengan kebiasaan hidup yang lama. Mereka tidak menyadari bahwa sebagai orang yang sudah percaya kepada Kristus harus hidup dalam realitas yang baru. “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” (Kol 2:6)

Paulus menasehatkan untuk hidup seperti Yesus Kristus. Perikop ini bergantung pada dua perintah utama yaitu pertama untuk "mematikan” (membunuh)". Perintah dalam Kol. 3: 5 Paulus membuat daftar keinginan dosa yang harus dimatikan/dibunuh. Paulus menyebutkan lima keinginan berdosa khusus yang harus dibunuh: imoralitas seksual/percabulan(porneian, kata umum yang digunakan untuk imoralitas yang bersifat seksual), kenajisan (akatharsian, negasi atau tidak adanya kemurnian), nafsu (pathos, hasrat / nafsu), keinginan jahat (kakus epithumian, kerinduan jahat), dan keserakahan (keserakahan didefinisikan sebagai penyembah berhala).

KOL. 3: 6 nasehat sebagai peringatan kuat jika melakukan dosa tersebut diatas: "Karena hal-hal ini, menimbulkan murka Allah menimpa orang yang tidak taat." Murka Allah dimaksudkan di sini jika jemaat Kolose gagal untuk mematikan keinginan jahat ini, mereka akan dapat mendapatkan penghakiman Tuhan dengan pasti.

Kol. 3: 7-8a berisi perintah kedua Paulus. Terlepas dari kenyataan bahwa orang Kolose pernah berjalan dalam pola dosa ini (3: 7), mereka harus "mensingkirkan" atau "membuang (seperti sampah)" tindakan berdosa tertentu. Paulus mendaftarkan tindakan berdosa dalam ay 8b-9a yang harus mereka singkirkan. Tiga yang pertama membahas sikap mereka (amarah, geram, kedengkian) dan yang ketiga membahas kata-kata mereka (fitnah, bahasa kotor, kebohongan).

Kol. 9b-11 memberikan nasihat agar jemaat Kolose menanggalkan manusia lama dan meengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui. Di sini Paulus menyinggung jenis pakaian yang dipakai untuk pakaian jemaat Kolose. Mereka telah melepas pakaian lama dan memakai pakaian baru. Penafsiran umum dari ayat-ayat ini adalah Paulus mengatakan bahwa jemaat Kolose memiliki dua kodrat - yang lama dan yang baru - dan Paulus mengimbau agar mereka hidup sesuai dengan kodrat baru mereka.. Paulus mempertentangkan identitas mereka di hadapan Kristus (mereka adalah bagian dari manusia lama dengan praktik-praktiknya) dan setelah mengenal dan menerima Kristus (mereka adalah bagian dari manusia baru). Dalam Kristus, jemaat Kolose adalah umat-Nya yang baru seperti. "Manusia baru" yang mulai mereka kenakan adalah kemanusiaan baru yang sedang "Allah perbarui" (ayat 10) ke dalam gambar-Nya. Kemanusiaan baru ini ditandai dalam ay 11 dengan :
1) penghapusan perbedaan ras, budaya, dan sosiologis (tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, sunat atau tidak sunat, biadab, Skit, budak atau bebas);
2) kesatuan dalam Kristus (“Kristus adalah semua dan di dalam semua”). Paulus berkata, “Kristus adalah yang terpenting, dan Ia ada di dalam kita semua, terlepas dari perbedaan kita.” Jadi, orang Kolose memiliki status baru dalam Kristus yang melampaui perbedaan mereka. Paulus menyatakan status baru mereka sebagai anggota umat Allah sebagai alasan kepatuhan mereka terhadap perintah-Nya untuk mengesampingkan tindakan berdosa mereka.

Paulus memperingatkan jemaat Kolose agar hidup sesuai dengan status baru yaitu manusia baru. Sehingga satu keharusan bagi jemaat agar patuh dan taat kepada Kristus. 

Oleh karena itu Manusia baru sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah: (Baca Kol. 3:12-13)

- Belas kasihan
- Kemurahan
- Kerendahan hati
- Kelemah lembutan
- Kesabaran
- Mengampuni kesalahan orang lain
- Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perbuatan atau perkataan, lakukanlah semuanya itu didalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. (Kol. 3 :17).

Penjelasan Teks Hakim-Hakim 6:23-27
Latar belakang teks ini muncul karena: orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN; sebab itu TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Midian, tujuh tahun lamanya.” “sehingga orang Israel menjadi sangat melarat oleh perbuatan orang Midian itu. LALU [hasil dari kesengsaraan yang mereka alami] BERSERULAH ORANG ISRAEL KEPADA TUHAN.”

Karena penindasan yang mereka alami, orang Israel pun berseru kepada Tuhan. Sekali lagi, ini bukan pertama kalinya mereka berlaku demikian. Telah banyak kali mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan serta menyembah ilah-ilah palsu, lalu tatkala bencana mulai menerpa, mereka pun berbalik dan mencari Allah yang benar.

Sebagai respons terhadap seruan orang Israel, Allah mengutus seorang nabi yang menyampaikan Firman-Nya serta menegur orang Israel atas apa yang telah mereka perbuat. Allah memerintahkan Gideon untuk meruntuhkan mezbah Baal dan menebang tiang berhala yang di dekatnya. Seperti yang akan kita baca selanjutnya, keberadaan mezbah dan tiang berhala serta reaksi orang-orang yang marah ketika mereka melihat mezbah Baal dan tiang berhala dihancurkan (lihat Hakim-hakim 6:28-30), meninformasikan bahwa kejahatan yang orang Israel lakukan di mata Allah adalah penyembahan berhala. Hal itu juga menunjukkan bahwa tidak semua orang Israel, melainkan hanya sebagian saja, yang kembali kepada Tuhan dan mencari Dia. Namun, karena KasihNya kepada orang-orang yang telah kembali kepada Tuhan, Tuhan pun mau membebaskan seluruh bangsa Israel.

C. Aplikasi
Jemaat yang tetap diperbaharui Allah adalah jemaat yang mau menerima serta menyadari statusnya sebagai manusia baru yang sudah diperbaharui Yesus dengan penebusan dosa yang dilakukanNya di kayu salib. Jemaat sudah dipilih dan ditebus Tuhan dari dosa-dosanya. Sehingga sekarang jemaat menjadi manusia baru yang mau mematikan hal-hal duniawi (percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan keserakahan, dan menanggalkan manusia lama (marah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan kebohongan) serta sekarang kenakan manusia baru (seperti teladan hidup Kristus : Belas kasihan, kemurahan, Kerendahan hati, kelemah lembutan, kesabaran, mengampuni kesalahan orang lain dan selalu bersyukur).

Karena Kristus adalah yang terpenting, dan Ia ada di dalam kita semua, terlepas dari perbedaan kita. Jemaat GBKP juga menyadari akan status baru sebagai anggota umat Allah, sebagai manusia baru yang terus diperbaharui Allah dan hidup sesuai dengan status itu. Sehingga segala sesuatu yang kita lakukan dengan perbuatan atau perkataan, lakukanlah semuanya itu didalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Seperti yang dilakukan Gideon dalam bacaan kita Hakim-Hakim 6:23-27, Gideon dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Midian. Gideon taat dan melakukan apa yang diperintahkan Allah sehingga dia dipakai Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kemelaratan, penderitaan penjajahan bangsa Midian. Jemaat juga sudah dibebaskan Tuhan dari belenggu/penjajahan dosa melalui penebusan Yesus Kristus hiduplah taat dan setia didalam Yesus dan firmanNya. Maukah saudara terus diperbaharui oleh Yesus melaui kuasa Roh Kudus? Serta menampakkan pembaharuan tersebut dalam pikiran, perkataan dan perbuatan?

Pdt. Rosliana br Sinulingga
GBKP Runggun Bumi Anggrek

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD