• DSC 2450
  • 20170204 143352

Jadwal Kegiatan

Kunjungan Moderamen GBKP ke GBKP Klasis Bekasi-Denpasar

Minggu 14 Mei 2017:

1. GBKP Runggun Bandung Pusat

2. GBKP Runggun Bandung Timur

3. GBKP Runggun Bandung Barat

4. GBKP Runggun Bekasi

5. GBKP Runggun Sitelusada

Minggu 27 Oktober 2019, Khotbah I Tawarikh 16:19-27

Invocatio :

Dan ia telah menugaskan kami memberitahukan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, Bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi hakim atas orang orang hidup dan orang orang mati. (Kis 10:24)

Bacaan :

Roma 15:15–21 (R)

Tema :

Beritakanlah perbuatan Allah yang besar

I. Pendahuluan 
Sudah sepantasnya kita tidak boleh berdiam diri lagi karena telah menyaksikan karya Tuhan Allah yang Maha Agung. Tindakan dan perbuatan Tuhan yang besar itu menjadi bukti Dia berkuasa dan Maha Agung. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang besar yang dapat menandingi Dia. Berita tentang kemuliaan Tuhan yang memberikan sukacita buat semua orang dapat diungkapkan melalui pujian kepada Tuhan. Selain dari hal tersebut diatas, dari pengalaman hidup seseorang mendorong dia untuk menyaksikan perbuatan Allah yang dahsyat yang dapat diungkapkan dari nyanyian dan gaya hidupnya.Seperti yang diungkapkan dari teks khotbah 1 Taw 16 : 19 – 27 sebagai bentuk nyanyian pujian kepada Tuhan.

II. UraianNats 
Kebahagiaan, keamanan dan kebebasan kita dari kekhawatiran tergantung kepada rasa terimakasi kita kepada Allah dan ketekunan kita dalam mencari wajahNya setiap hari (1 Taw 16:8-11) orang yang terus menerus berseru kepada Tuhan dengan ucapan syukur dapat memiliki keyakinan bahwa ia akan berjalan disamping mereka dan senantiasa memberikan pertolongan sepanjang hidup mereka (Maz 46:2)

Kisah sejarah yang terdapat dalam 1 Tawarikh ditulis dengan satu tujuan tertentu, tidak hanya mencatat fakta fakta sejarah, tetapi menemukan arti dari apa yang terjadi 1 Taw , merupakan kitab sejarah yang ditulis menurut pandangan Tuhan. Kitab ini ditulis pada waktu umat Allah hidup dalam lingkungan yang bersifat sangat duniawi. Negeri mereka telah hancur karena perang akibatnya banyak dari mereka yang runtuh imannya. Mereka tidak dapat lagi melihat campur tangan Allah dalam masalah masalah mereka.

1 Taw 16 : 19 – 27 , adalah penggalan puji pujian yang diubah dari kitab Mazmur 105 : 1 – 15 dan 96 : 1-13 yang isinya bagaimana janji Tuhan memberikan tanah kepada bangsaNya. 1 Kronika juga menerangkan bagaimana Daud menghadapi pergumulan berat, dan menerangkan kemenangannya dalam peperangan.Pengalaman hidup bersama Tuhan dikuatkan dari sejarah pemilihan dan penebusan bangsa Israel.Bangsa Israel (Keturunan Abraham, Ishak dan Yakub) adalah bangsa yang kecil di lingkungan bangsa bangsa dimana mereka jadi budak (asing). Tapi janji Tuhan terhadap bangsa ini tetap akan memberikan tanah perjanjian sebagai tempat tinggal, dan bangsa ini akan menjadi satu bangsa yang besar di tanah Kanaan. Tuhan akan menjaga, menyertai, dan memberkati bangsa Israel. Pengalaman sejarah inilah yang dituangkan dalam puji pujian dalam perikop tersebut.

Melalui puji pujian inilah bangsa Israel mengumandangkan perbuatan dan penyertaan Tuhan yang besar. Perbuatan Tuhan yang mereka beritakan adalah Tuhan sudah memberikan keselamatan sepanjang sejarah bangsa Israel, penyertaan Tuhan terhadap nenek moyang mereka (Abraham, Ishak dan Yakub). Menyertai bangsa ini di tanah mesir. Penyertan dari Mesir sampai ke Tanah Kanaan begitu juga di masa pembuangan di Babel hingga mereka kembali ke Yerusalem.

III. Aplikasi 
Menyatakan perbuatan Allah yang besar. Hal inilah yang dinyatakan dan dilakukan Raja Daud dan bukan hanya secara pribadi dia menyatakan perbuatan Allah yang besar, tetapi Daud menghimbau agar bangsa Israel juga menyatakan, memberitakan, bahkan mengumandangkan penyertaan Tuhan dalam kehidupan mereka. Sama seperti Petrus dan Rasul Rasul yang lainnya disuruh untuk memberitakan/menyatakan menyaksikan perbuatan perbuatan Tuhan yang ajaib dan berkuasa didalam diri Tuhan Yesus (Invocatio : Kis 10:42). Paulus juga sangat pro aktif didalam menyaksikan karya Tuhan baik kepada Yahudi dan non Yahudi, bahkan ke seluruh dunia (Bacaan Roma 15:15-21).

Minggu ini adalah minggu zending GBKP dimana jemaat diingatkan kembali agar tidak berhenti untuk menyatakan kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Terlebih bagi perjalanan sejarah GBKP hingga kini, bahwa Tuhan itu sangat amat baik menyertai perjalanan GBKP dari awal hingga sampai sekarang dan seterusnya. Kumandangkanlah hal yang demikian kepada keluarga, anak dan cucu agar mereka mengerti dan dapat lebih memuliakan Tuhan dalam hidupnya dan mereka mampu menceritakan kemuliaan Tuhan dan perbuatanNya dahsyat dan agunh (Tema) sampai selama lamanya .....

Pdt Neni Triana Sitepu
Runggun Cisalak

Minggu 20 Oktober 2019, Khotbah Roma 16:1-5a

Invocatio :

Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia (Amsal 31:28)

Bacaan :

Rut 2:1-3

Thema :

Membantu Dari Pekerjaan

 

I. Pendahuluan
Membantu adalah salah satu perbuatan yang diberikan kepada orang lain untun mengurangi beban orang itu. Kesulitan dan kelemahan adalah bagian kehidupan manusia, sebab dalam satu hari bisa beberapa kali seseorang itu terkena masalah dan memerlukan pertolongan dari orang lain. Berdasarkan itu semua manusia harus bisa jadi penolong, di mana pun dan kapan pun berdasarkan pemberian Tuhan yang ada pada dirinya. Jadi, menolong adalah salah satu jati diri, ciri khas orang percaya.

II. Isi
Bahan invocatio kita mengatakan, “anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia” (ay. 28a). Kata kerja Ibrani yang dipergunakan untuk kata “bangun” juga dipergunakan dalam Yeremia 1:17; 1 Tawarikh 28:2; 2 Tawarikh 30:27. Anak-anaknya bangun, berdiri dengan sikap penuh hormat untuk memuji ibunya, mereka menyebutnya orang yang berbahagia karena mendapat berkat dari Tuhan. Sikap bangun atau berdiri yang dikemukakan dalam ayat ini biasanya dilakukan dalam rangka membuat suatu pernyataan penting (Mi. 6:1; Yer. 1:17; 1 Taw. 28:2; 2 Taw. 300:27). Arti harfiah dari kata-kata Ibrani untuk “menyebutnya berbahagia” adalah “menyebutnya orang yang diberkati”. Dia adalah orang yang diberkati Tuhan dalam pekerjaannya mendukung kebutuhan keluarga, dalam mendukung tugas suaminya, dalam pelayanannya kepada orang-orang miskin dan tertindas, dan khususnya dalam mendidik anak-anaknya. “... pula suaminya memuji dia” (ay. 28b) Istilah Ibrani yang dipergunakan untuk “memuji” yang biasa dipergunakan untuk menaikkan pujian kepada Tuhan. Pujian itu disampaikan dengan sungguh-sungguh seperti menyampaikan “pujaan”, tetapi bukan untuk menyembahnya, melainkan untuk menyampaikan rasa bangga dan kagum yang mendalam. Pujiannya disampaikan dalam Amsal 31:29, dia menilai istrinya yang cakap lebih daripada semua perempuan yang lain, termasuk yang lebih muda dari dirinya.

Bahan bacaan Rut 2:1-3 menceritaken tentang anugerah Allah dalam bentuk pemeliharaanNya dinyatakan dalam pasal 2 ini. Setidaknya untuk bertahan dan melanjutkan hidup Naomi dan Rut, Allah bekerja melalui 2 cara pemeliharaanNya, yaitu yang tidak terlihat maupun yang terlihat langsung. Disinilah letak keunikan Kitab Rut; dalam kitab ini Allah seakan-akan diam tak bekerja dengan cara yang ajaib mencarikan jalan keluar buat Naomi dan Rut. Allah tidak memberikan keajaiban seperti yang dilakukan kepada janda sarfat ataupun manna kepada orang Israel di padang gurun. Dengan cara yang tak terlihat Allah membawa Rut menjadi sarana bagi dirinya sendiri maupun Naomi, mertuanya untuk melanjutkan hidup mereka. Mungkin Naomi dan Rut tidak melihat bahwa waktu kedatangan mereka, hukum gleaning serta lokasi tempat Rut mencari bulir jelai, semuanya itu merupakan cara Allah memelihara mereka. Masuknya Naomi dan Rut ke Betlehem bersamaan dengan dimulainya panen jelai seakan menyiratkan harapan baru bahwa setidaknya mereka tidak akan menderita kelaparan lagi. Namun harapan itu akan menjadi sebuah keraguan mengingat Naomi dan Rut tidak memiliki ladang ataupun mata pencaharian yang akan pasti. Bersyukurlah, Allah telah lebih dahulu memberlakukan hukum gleaning pada orang Israel. Hukum gleaning adalah hukum yang mewajibkan para tuan tanah untuk tidak memetik hasil panen dan memberikan hak kepada orang miskin, janda, dan orang asing untuk memungut ceceran hasil panen yang entah tersisa/terjatuh (Im. 19:9-10; 23:22; Ul. 24:19-21). Dasar pemikiran Allah memberikan hukum ini adalah bahwa Allahlah pemilik tanah, bukan tuan tanah (Im. 25:23). Manusia (dalam hal ini tuan tanah) adalah penatalayan dari tanah yang dimiliki Allah dan predikat ini hanya berlaku selama manusia respek pada hukum Allah. Orang kaya memiliki tanggung jawab moral terhadap orang miskin.

Dalam usahanya melanjutkan hidup bagi dirinya sendiri serta Naomi, mertuanya, Rut mencari ladang tempat dia dapat memungut bulir jelai yang jatuh. Alkitab memakai satu kata yang menarik, “kebetulan” (miqreh) ketika Rut masuk ke salah satu ladang yang ternyata milik Boas. Kata ini mencakup tindakan atau peristiwa yang terjadi tanpa diketahui dan disengaja oleh orang yang terlibat di dalamnya. Dengan kata lain masuknya Rut ke sebuah ladang yang tidak diketahuinya merupakan sebuah skenario tersembunyi dari Allah yang mengatur semuanya. “Kebetulan” tersebut mencakup masuknya Rut ke ladang milik Boas yang ternyata (tidak diketahui oleh Rut) adalah kerabat (saudara jauh) Elimelekh, mertua laki-lakinya. Boas digambarkan sebagai orang yang kaya raya atau bisa dikatakan Boas adalah orang yang sangat berpengaruh di Betlehem. Apa maksud kata “kebetulan” dipakai di sini? Dalam 1 Samuel 6:9 kata “kebetulan” dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang terjadi di luar rencana. Tetapi tidak demikian halnya dalam Kitab Rut. Semua yang terjadi atas Rut bukanlah sesuatu yang datang tanpa disangka. Allah telah mengatur semuanya. Dia sudah membawa Rut dari Moab ke Betlehem. Dia jugalah yang sekarang bertindak untuk menyelesaikan rencanaNya dengan wanita Moab ini. Dalam mata manusia, Rut “kebetulan” datang ke ladang Boas. Tetapi kita harus membaca ayat itu demikian: “Allah betul-betul membawa dia ke tempat di mana ia menjumpai Boas yang kelak menjadi penebusnya”.

Roma 16:1-5a yang menjadi bahan khotbah kita merupakan pasal terakhir dari surat Roma. Pasal ini dibagi menjadi tiga perikop oleh LAI, yaitu: salam, peringatan dan segala kemuliaan bagi Allah. Tiga perikop ini mungkin bisa diklasifikasikan sebagai: salam kepada saudara seiman dan sepelayanan dan ini yang menjadi penekanan dalam bahan khotbah kita (16:1-16, 21-24), peringatan akan bahaya perpecahan (16:17-20), dan salam terakhir Paulus (melalui Tertius) yang berisi penyingkapan kemuliaan Allah (16:25-27). Perikop pertama yang menjadi penekanan bahan khotbah kita adalah tentang salam kepada saudara seiman/sepelayanan itu disebutkan dan diberi salam bertujuan agar jemaat di Roma mengetahui siapa yang paling dihargai dan juga kepada siapa mereka harus mengikuti. Menarik sekali tafsiran ini. Dengan kata lain, melalui penyebutan nama-nama di dalam salamnya, Paulus ingin agar jemaat Roma mengenal orang-orang yang disebutkan dan mengikuti mereka. Di beberapa gereja Paulus memerintahkan perempuan untuk tidak mengambil peran kepemimpinan, mungkin karena menyebabkan masalah di sana. Febe adalah bukti bahwa ini bukan merupakan kebijakan universal. Paulus mengenal Febe sebagai diaken di gereja di Kenkrea, dekat Korintus. Itu adalah gelar lain yang digunakan Paulus untuk merujuk kepada pemimpin atas gereja. Paulus pernah memberikan Timotius nasihat ini: “Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat” (1 Tim. 3:10). Paulus menyebut Febe sebagai saudara. “Saudara” ini bukan saudara secara jasmaniah, namun secara rohaniah. Lalu, apa pentingnya kata “saudara” ini? Pentingnya adalah Paulus menyebut Febe, seorang perempuan sebagai saudara seiman. Di dalam tradisi Yahudi, ada pemisahan antara pria dan wanita, bahkan di dalam ibadah. Paulus menerobos budaya Yahudi dengan pengertian integratif bahwa pria dan wanita itu sama di mata Tuhan dan di dalam persekutuan di dalam Kristus, meskipun masih ada perbedaan natur dan otoritas di antara keduanya. Paulus bukan mengingatkan jemaat Roma untuk memperhatikan orang-orang yang melayani di Roma, tetapi justru orang yang melayani di luar Roma, yaitu di daerah Korintus. Ini adalah suatu teladan bagi kita. Kita sering kali hanya memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat kita berada, namun tidak memperhatikan para pelayan Tuhan di tempat lain atau bahkan di pelosok-pelosok daerah. Bukan hanya menganggap Febe sebagai saudara seiman dan pelayan Tuhan, Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambutnya dan memberikan bantuan kepadanya. Di ayat 2, ia berkata, “supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri”. Dari ayat ini, kita belajar dua point penting: pertama, menyambut saudara seiman di dalam Tuhan. Paulus mengingatkan jemaat Roma untuk menyambut Febe sebagai saudara seiman di dalam Tuhan, seperti seharusnya bagi orang-orang kudus. Berarti, seorang diaken bisa diidentikkan dengan orang kudus pada zaman itu, karena yang bisa menjadi diaken haruslah orang yang memelihara kekudusan. Dengan menerima dan menyambut saudara seiman di dalam Kristus, kita sedang membangun sebuah persekutuan yang indah di dalam Kristus yang mengakibatkan orang-orang di luar Kristen akan merasakan cinta kasih Kristus. Kedua, membantu saudara seiman jika diperlukan. Menyambut saudara seiman di dalam Tuhan bukan hanya ditandai dengan ucapan di mulut bibir kita saja, tetapi juga melalui perbuatan kita. Perbuatan itu ditandai dengan kerelaan kita membantu saudara seiman kita jika diperlukan.

Dalam dunia yang didominasi laki-laki, Priskila rupanya seorang perempuan yang menonjol, dibuktikan oleh fakta bahwa hampir tiap kali dia dan suaminya, Akwila , disebutkan di dalam Alkitab, namanya disebutkan lebih dulu. Mungkin karena ia memimpin pelayanan, sementara suaminya memimpin bisnis keluarga, yaitu membuat kemah. Rasul Paulus juga dilatih sebagai pembuat kemah, tinggal dan bekerja bersama pasangan ini saat dia mendirikan gereja di Korintus, Yunani. Paulus menyebut Priskila dan Akwila, sepasang suami-istri sebagai teladan pelayanan khususnya di dalam keluarga. Di sini kita bisa melihat apa yang Tuhan inginkan bagi keluarga dalam pelayanan. Priskila dan Akwila adalah pasangan suami-istri yang berpindah-pindah. Kehidupan yang berpindah-pindah ini adalah suatu yang tidak gampang. Tetapi di manapun mereka berada mereka mendirikan gereja, di manapun mereka berada, mereka mengumpulkan jemaat di rumah mereka. Kemungkinan besar mereka bukan full-time missionary, tetapi di dalam seluruh pekerjaan mereka, mereka mengutamakan dan melakukannya di dalam Kristus. Paulus mengatakan kalimat terakhir yang begitu indah tentang Priskila dan Akwila: mereka adalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya bagi pekerjaan Tuhan (ay. 4) “Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat”. Di dalam bahasa aslinya mereka adalah orang-orang yang meletakkan leher mereka di atas batu. Kalau Febe melayani dengan segala apa yang dia miliki, dan membantu Paulus, membawa surat Paulus kepada jemaat di Roma; Priskila dan Akwila melakukan bahkan lebih dari itu, mereka menyerahkan leher mereka bagi Paulus. Bukan satu gereja, tetapi banyak gereja yang melihat Priskila dan Akwila mempertaruhkan nyawa mereka untuk Injil boleh diberitakan.

III. Refleksi
Kejadian 2:18 mengatakan: TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu ”seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”. Kata “menjadikan penolong baginya” diberikan kepada perempuan, artinya Allah memberikan kepada perempuan kekuatan yang lebih dalam bekerja, memikirkan yang baik, mempergunakan yang ada pada dirinya, untuk membawa predikatnya sebagai penolong. Tahun ini Moria GBKP sudah berumur 71 tahun, berdasarkan thema khotbah kita “Membantu Dari Pekerjaan”, tentu tidak ada lagi kekhawatiran keluarga, jemaat dan masyarakat terhadap Moria GBKP, sebab Moria sudah jadi penolong. Artinya Moria sudah mempergunakan hidupnya seperti kodratnya dia diciptakan sebagai penolong. Dalam setiap sendi-sendi kehidupan ada kemampuan untuk memberikan pertolongan. Dilahirkan satu prinsip bahwa bekerja bukan hanya mencukupkan keperluan pribadi, keluarga saja tetapi juga hasil bekerja itu satu bagian disiapkan membantu orang lain; kekuatan yang Allah berikan bukan untuk kesenangan dan kepentingan pribadi dan keluarga saja tapi juga untuk orang di sekitarnya yang memerlukan bantuannya. Jadikanlah menolong, bekerja sebagai sukacita dalam hidup. Menolong dan bekerja jadi karakter hidup, kalau tidak menolong, tidak bekerja ada saja hal yang kurang dalam diri ini. Dalam kehidupan seorang ibu (Moria) yang seperti ini tentu menjadi sukacita di dalam keluarganya, anak-anaknya bersyukur kepadanya dan suaminya pun memuji-muji dia. Sebab dalam kehidupan seorang ibu yang bekerja dengan rajin, apapun yang dikerjakannya pasti hasilnya juga baik, ibu yang mau membantu dengan sukacita jadi kebanggaan terhadap keluarganya, karena berkat Tuhan yang melimpah dia terima yang bisa dirasakan anak-anak dan suaminya. Selamat HUT Moria GBKP 71 tahun.


Pdt. Andreas Pranata Meliala, S.Th
GBKP Rg. Cibinong

Minggu 13 Oktober 2019, Khotbah Kisah Para Rasul 9:36-43

Invocatio :

Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para jandaq, itulah Allah di kediamanNya yang kudus (Mazmur 68:6)

Bacaan :

II Samuel 9:1-13

Tema :

Melakukan Perbutan Baik (Ngelakoken Perbahanen Si Mehuli)

 

Perikop khotbah kita menceritakan tentang kisah seorang murid perempuan di Yope bernama Tabita (Dorkas dalam bahasa Yunani). Ia dikenal sebagai wanita yang murah hati dan penuh kebaikan. Sebagian besar penduduk di Yope kala itu memiliki mata pencaharian sebagai pelaut, dan resiko yang kemungkinan besar dialami oleh para pria adalah mengalami karam kapal. Itulah sebabnya adalah hal yang umum di Yope banyak janda atau anak yatim. Bagi Tabita, keadaan ini bukanlah semata keadaan yang lazim, imannya dapat melihat bahwa ada kebutuhan khusus yang perlu ditanggapi dan dia menyediakan diri serta talenta yang ada padanya untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya.

Allah adalah sumber kreatifitas, memampukan Tabita untuk melihat dan mengisi setiap kekosongan hati para janda tersebut. Tabita akrab dengan lingkungan dan pergumulan para janda, dan dengan kemampuan menjahit, ia melayani mereka dengan membuat baju. Jarum dan benang adalah alat yang dipakai Tuhan dalam tangan Tabita untuk mendatangkan Kerajaan Allah dilingkungannya.

Ada yang menafsirkan bahwa Tabita adalah wanita single yang tidak menikah, namun ada juga yang mengulas bahwa Tabita adalah seorang janda. Apapun penafsirannya, Alkitab memang tidak menyebutkan tentang suami maupun status pernikahannya. Yang jelas dicatat Alkitab, kebenaran yang memberikan kemerdekaan dalam hidup Tabita membuatnya hidup merdeka. Tabita puas dengan keberadaannya dan tahu bahwa dia berharga karena Tuhan yang membuatnya berharga. Janda-janda miskin yang dibuatkan pakaian oleh Tabita tentu merasakan hal yang sama. Sehingga, ketika ia sakit lalu meninggal dan mereka mendengar bahwa Petrus sedang mengunjungi sebuah kota dekat Yope, maka dua orang dari jemaat pergi menemui Petrus dan memintanya datang ke Yope. Jadilah bukti nyata dari kebaikan Allah. Ketika Petrus tiba, para janda yang pernah ditolong Tabita menunjukkan bukti kebaikannya “semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup” (ay.39). Kita tidak tahu apakah mereka meminta Petrus untuk melakukan sesuatu, tetapi dengan pimpinan Roh Kudus, Petrus berdoa dan Allah pun membangkitkan Tabita! Dampak dari kebaikan Allah tersebut adalah “peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan” (ay.42). Lewat pelayanan Petrus, kebangkitannya dari kematian, Allah menjadi nyata dalam hidup Tabita. Tabita punya kisah nyata yang lebih menarik untuk diceritakan kepada mereka yang belum mengenal Tuhan. Tabita bukan saja menjahit lebih banyak baju, tapi dia juga ‘sibuk’ membagikan cerita hidupnya dan apa yang Tuhan sudah lakukan dalam hidupnya. Tabita sadar bahwa apa yang dia lakukan bukan karena kekuatannya, tetapi karena Allah. Kebangkitannya dari kematian adalah bukti nyata kuasa Allah dalam hidupnya. Hidup Tabita adalah hidup yang berbuah tetap bagi Kerajaan Allah.

Pembacaan Kitab yang pertama 2 Samuel 9:1-13, juga mengajarkan bagaimana kita harus selalu berbuat baik sekali pun kita menerima perbuatan tidak baik dari orang lain. Perikop ini mencatat bagaimana Daud memenuhi janjinya kepada sahabatnya, Yonatan. Bertahun-tahun sebelumnya Daud telah membuat perjanjian dengan Yonatan untuk menunjukkan kasih setia Tuhan kepada keluarga Yonatan (lih. 1 Sam. 20:11-23). Kita tahu bahwa antara Daud dengan Saul sangat tidak akur. Bukan Daud yang bermasalah, melainkan Saul yang berniat untuk membunuh Daud. Ketika Saul mati dalam peperangan dengan orang Amalek (2 Samuel 1:4), Daud memiliki kesempatan besar untuk membalaskan dendam kepada keturunan Saul, sebab hukum perang zaman dulu itu ada istilah “pemberantasan sampai ke akar-akarnya” – genoside, pembunuhan kepada satu keturunan atau suku. Tujuannya? Supaya tidak ada kesempatan untuk “musuh” membalas dendam dan memberontak di kemudian hari. Daud punya kesempatan untuk memberantas habis keturunan Saul di saat itu, tetapi tidak itu yang dilakukan Daud. Lalu kenapa Daud mau melakukan hal yang baik kepada keluarga Saul itu? Dalam teks kita, karena Yonatan? Sahabat karib Daud itu? Ya. Tetapi bukan karena itu saja. Sebab dahulu, Daud pun punya kesempatan untuk membunuh Saul, dua kali, tetapi itu tidak pernah dia lakukan kepada Saul (I Samuel 26). Kita bisa mencari jawabannya dengan berkata: “Itu karena Daud memang baik orangnya, murah hati dan tidak pernah sombong dan mau membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat kembali.” Sehingga, ini sama sekali bukan tentang mereka yang telah berbuat jahat atau menyakiti hati kita. Tetapi ini tentang kita: Apakah kita menjadi sama seperti mereka yang telah berbuat jahat dan menyakiti hati kita dengan membalas perbuatan mereka “dengan setimpal menurut kita”? Seperti kata Tuhan Yesus: “Bila kamu berbuat baik kepada sesamamu yang telah berbuat baik, apa kelebihanmu? Orang yang tidak mengenal Allah pun melakukan hal itu” (Matius 5:43-48).

Sebagai orang Kristen harus selalu dan terus berbuat baik kepada semua orang. Firman Tuhan katakan “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik” (Galatia 6:9), selama masih ada kesempatan, mari kita berbuat baik. Kepada siapa? Kepada semua orang! Artinya, berbuat baik adalah sebuah kesempatan. Dan dalam minggu ini kita diingatkan melalui Liturgi Minggu Penjemaatan PAK Gelora Kasih, YKPD Alpa Omega dan PPOS, bahwa banyak saudara-saudara kita yang dalam kondisi khusus membutuhkan perbuatan-perbuatan baik kita. Anggota jemaat GBKP minggu ini diajak belajar dari Tabita yang hidupnya dia pakai menjadi berkat kepada para janda, Daud yang keluarga “musuhnya” sekalipun dia kasihi dan tetap “makan sehidangan dengannya.” Kiranya perbuatan baik yang kita tunjukkan kepada orang-orang di sekitar kita akan mendorong mereka memikirkan tentang Allah dan merasa dikasihi pula oleh Allah.

Pdt. Melda br Tarigan
Runggun Pontianak

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD