• DSC 2450
  • 20170204 143352

Jadwal Kegiatan

Kunjungan Moderamen GBKP ke GBKP Klasis Bekasi-Denpasar

Minggu 14 Mei 2017:

1. GBKP Runggun Bandung Pusat

2. GBKP Runggun Bandung Timur

3. GBKP Runggun Bandung Barat

4. GBKP Runggun Bekasi

5. GBKP Runggun Sitelusada

Khotbah Minggu 05 Maret 2017

KHOTBAH MINGGU  05 Maret 2017

PASSION II/ Invocavit (Berserulah Kepada Tuhan)

Invocatio        : Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu (Ulangan 4:31).

Bacaan           : Mazmur 32:1-11(Tunggal)

Khotbah         : Roma 5:12-19 (Anthiponal)

Tema              : Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan

 

I.          Pengantar

Rumusan teologia Calvin  tentang manusia yang sudah jatuh kedalam dosa adalah “Rusak total”, barang yang rusak total  sudah selayaknya di buang.  Walaupun  manusia sudah rusak total oleh kejatuhannya kedalam dosa,  tapi Tuhan tidak memusnahkannya, itulah yang disebut dengan kasih karunia. Paulus mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh kedalam dosa adalah orang  durhaka (ay 5:6), cerita anak durhaka yang terkenal adalah cerita Malinkundang yang dikutuk menjadi batu, iya memang itulah selayaknya dilakukan kepada  orang-orang durhaka  “dikutuk”.  Tetapi Tuhan tidak mengutuk manusia bahkan mau menanggung “kutukan”  dosa itu dengan mati di kayu salib, inilah kasih karunia yang terbesar. Mati untuk orang baik,  orang benar dan bagi orang yang  dicintai, mungkin ada,  tapi kalau mati untuk orang durhaka, penjahat, pembrontak, berkorban bagi barang yang rusak,  ini adalah sesuatu yang imposible. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, melalui kematianNya di Kayu Salib, inilah  yang di sebut dengan “Kasih Karunia”.  Kita sudah mengenal kasih karunia, dan sekarang bagaimana supaya kita tetap hidup didalamnya? Mari kita telusuri Firman Tuhan yang menjadi renungan kita di minggu Passion yang ke-2 ini.

 

II.       Pendalaman Naskah Alkitab

1.        Dosa  (12)

Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa adalah penyimpangan dari Firman Allah. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sifat dosa sama seperti “racun kontak” atau seperti lingkaran obat anti nyamuk, mulai dari lingkaran luar (dalam) jika di bakar perlahan akan menjalar kedalam (keluar), tergantung dari mana  dimulai.   Demikian dikisahkan bagaimana dosa memasuki dunia dan mencemari semua manusia, dimulai dari kehidupan Adam (manusia pertama). Dosa itu semakin hari semakin berkembang melebihi deret hitung  bahkan mengalahkan perkembang biakan  ayam, satu ayam  bertelur 12 dan menetas, penetasan berikutnya sudah 13 ekor dan akan bertelur lagi di kali 12 =156  di kali 12  menjadi 1572 dan seterusnya, cepat sekali pertambahan/ perkembangnnya, tetapi masih kalah dengan pertambahan/ perkembangan dosa, karena setiap orang bukan saja melahirkan satu dosa, sehingga dosa ada dimana-mana, di kiri- di kanan, di atas – dibawah,  sehingga tidak ada lagi manusia yang benar seorang pun tidak (Roma.  3:11-18), dengan demikian semua manusia layak di hukum mati, di musnahkan, dan di kutuk (disalibkan).

2.        Dosa Lebih Tua dari Hukum Taurat (13-14)

Semua manusia sudah berdosa, ini menjadi perdebatan di zaman Paulus,  karena pemahaman umum (apalagi di dunia hukum), bagaimana orang tahu melanggar undang-undang (hukum) kalau hukumnya tidak ada? Bukankah dosa itu dikenal setelah ada Undang-undang (Hukum Taurat).  Paulus mengatakan bahwa dari dulu dosa itu sudah ada tetapi tidak diperhitungkan. Kalau tidak diperhitungkan ya sama saja dengan tidak ada.   Untuk memahami ayat 13 ini   kita, harus perhadapkan dengan  ayat 20 “dimana dosa bertambah banyak di situ anugerah bertambah banyak” artinya hukum taurat menolong kita untuk menghitung berapa banyak dosa pelanggaran kita dan berapa banyak anugerah yang kita terima, sehingga Paulus mengatakan bahwa kalau Taurat tidak ada dosa tidak dapat diperhitungkan.  Hukum Taurat adalah hukum yang tertulis yang diberikan melalui Musa, sedangkan jauh sebelum itu perintah Tuhan (undang-undang Tuhan) sudah ada yang  langsung di sampaikan (lisan) kepada   orang yang dipilih Tuhan  (bd. Peraturan/ Perintah yang diberikan kepada Adam agar jangan makan buah pohon pengetahuan). Sama dengan peradaban manusia  sebelum ada undang-undang yang tertulis sudah ada hukum-hukum (norma-norma) yang berlaku, dan setiap pelanggarannya pasti mendatangkan sangsi. 

Kelihatannya Paulus tidak mau  berlama-lama berdebat tentang hal ini,  tetapi Paulus lebih menekankan bahwa “ada atau tidak ada hukum Taurat” dosa itu sudah ada  dan setiap perbuatan dosa  pasti mendatangkan hukuman.  Jadi hukuman atas dosa itu bukan saja setelah zaman Musa tetapi sejak zaman Adam  (bd. Kej. 3:17-19).  Manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nantinya  membutuhkankan “pertolongan (kasih Karunia  Allah). Karena orang yang sudah jatuh ke dalam dosa dan sesama orang yang sudah jatuh kedalam dosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya atau  sesamanya). Hukuman dosa yang ditanggung dalam hal ini bukan saja pelanggaran hukum Tuhan yang tertulis atau tidak tertulis, tetapi jauh lebih dalam adalah tabiat dosa yang sudah mewarnai semua hati (bathin)  manusia.

3.        Kasih Karunia Tuhan (15-19)

Kasih karunia adalah kasih yang diberikan kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menerimanya (anak  durhaka yang diampuni, barang yang rusak total diperbaiki menjadi seperti baru).  Paulus mengatakan bahwa : Dosa dan kematian dibawa oleh satu pribadi masuk ke dunia, demikian juga dengan ketaatan satu pribadi semua manusia dibenarkan. Paulus menekankan kemampuan tertinggi dari penebusan yang disediakan  oleh Yesus Kristus untuk menghapus dampak dari kejatuhan kedalam dosa.  Adam membawa dosa dan kematian tetapi  Kristus membawa kasih karunia dan hidup.

 

III.    Pointer aplikasi

1.      Semua manusia  telah jatuh kedalam dosa, upah dosa adalah maut.

2.      Semua manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan, karena orang yang sudah jatuh kedalam dosa tidak bisa menyelamatkan dirinya.

3.      Berbahagialah karena Tuhan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita, serusak apapun kita, sedurhaka apa pun kita, ketika kita berseru kepada Tuhan dan mau bertobat kita akan diampuni (Mzm 32:1-11),  karena Allah kita penuh dengan kasih karunia (bd. Invocatio).

4.      Hidup di dalam kasih karunia. Sebagai orang yang sudah diampuni/ dibebaskan  yang ada adalah “bersyukur dan bersukacita”.  Sebagai orang yang sudah dimerdekakan kita memiliki paradigma baru tentang  Taurat  Tuhan.  Di zaman dulu  Taurat itu dipandang sebagai  beban  yang sangat berat (kuk yang menekan),   tetapi bagi kita adalah anugerah. Karena melalui  Hukum Taurat kita dapat menghitung berapa besar dosa (pelanggaran) kita dan sebesar itu jugalah kasih karunia yang Tuhan berikan bagi kita (Roma 5:20 Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah).  Ibarat  utang, semakin banyak utang kita yang dilunasi semakin banyak anugerah yang kita terima (Catatan: tetapi bukan memberi kebebasan untuk berbuat dosa, Roma 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia”).  Taurat adalah wujud kasih Allah agar kita dapat berjalan dalam koridor  yang benar (orang yang telah diselamatkan, mengucap syukur dengan ketaatan pada Allah). Menjadi rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita ke “negeri Kasih Karunia, dimana tidak ada tangis dan kematian.  Jadi boleh kita katakan bahwa Hidup dalam kasih karunia Tuhan hidup  sesuai dengan “Hukum Taurat” yang sudah disederhanakan isinya, yaitu :  “mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Sebagai wujud mengasihi Tuhan dan sesama, kita aktif dalam persekutuan (koinonia), gigih dalam bersaksi (marturia) dan rajin dalam pelayanan (diakonia).

5.      Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan  betapa “Hebat” penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita,  Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya  bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). Dalam  Galatia 2:20 “ Paulus mengatakan hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalamku, lebih jauh lagi dalam  1 Korintus 9:16 “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil. Inilah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita hidup dalam kasih karunia Tuhan, selamat mencoba. Tuhan memberkati.

 

Pdt. Saul Ginting, S.Th, M.Div

GBKP Bekasi

Khotbah Minggu 12 Pebruari 2017

Khotbah Minggu 12 Pebruari 2017

(Septuagesima)

Invacatio : Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya Pada Tuhan Allahnya  (Mazmur 146:5).

Bacaan     : 1 Korintus 3:1-9 (Antiponal)

Khotbah   : Mazmur 119:1-8 ( Tunggal)

Tema        : Berbahagialah hidup dalam undang-undang Tuhan

 

I.        Pendahuluan

           Bila ditelusuri seluruh umat manusia, tentu apapun yang di kerjakan, tentu mereka akan mengatakan untuk mendapatkan suatu kebahagiaan. Sangat tidak masuk akal bila seseorang mengerjakan sesuatu agar mereka hidup menderita, walau di kemudian hari mereka hidup menderita yang menjadi akibat perbuatannya tersebut. Kebahagian manusia tentu berbeda-beda, hal ini disebabkan manusia tentu berbeda-beda, keinginan yang berbeda dll. Untuk dapat menemukan kebahagian yang mereka inginkan adalah kekayaan tentu hidup mereka berfokus terhadap harta dunia (rumah mewah, mobil mewah, uang yang berlimpah dll). Namun bila kebahagiaan yang mereka inginkan adalah hidup bersama Tuhan tentu fokus hidupnya adalah bagaimana mereka senantiasa hidup sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki (Membaca Firman Tuhan dengan tekun, berdoa, bernyanyi, beribadah). BERDASARKAN Mazmur 119:1-8, kami membagi beberapa poin antara lain :

 

II.     Pendalaman Nats

Ayat 1-3,

Yang menjadi inti kebahagiaan manusia sesungguhnya adalah, bagaimana hidupnya tidak bercela, hidup menurut Firman Tuhan, senantiasa berpegang pada peringatan-peringatan Tuhan, senantiasa mencari Tuhan dengan segenap hati, tidak melakukan kejahatan, namun hidup menurut jalan yang di tunjukkan Tuhan. Mengapa yang menjadi kebahagiaan mazmur adalah hidup didalam Taurat Tuhan? Hal ini semata karena pemazmur telah merasakan bagaimana tuntutan Tuhan dalam hidupnya (105). Apa yang menjadi kebahagiaan pemazmur dalam hidupnya tentu ini jugalah yang menjadi kebahagiaan bagi umat Tuhan yang percaya padanya. Kebahagiaan kita bukan berdasarkan apa yang kita miliki (harta) namun kebahagiaan kita adalah bagaimana kita hidup di dalam Firman Tuhan sepanjang hidup kita.

Ayat 4-8,

Dijelaskan bila pemazmur senantiasa berpegang teguh terhadap Firman Tuhan, tentu hidup pemazmur tidak akan mendapat malu namun senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Tentu dalam hal ini pemazmur sungguh menyadari bahwa hidup dalam Firman Tuhan akan senantiasa mendatangkan suatu kebahagian hidup. Sehingga pemazmur memohon pada Tuhan agar Tuhan tidak meninggalkan kehidupannya (8). Bila hidup dalam Firman Tuhan yang menjadi sumber kebahagiaan pemazmur tentu hal ini jugalah yang menjadi sumber hidup orang-orang yang mengenal Tuhan.

III.      Pointer Aplikasi

         Bila umat manusia tujuan hidupnya adalah hidup dalam Taurat Tuhan tentu mereka bukan lagi hidup didalam daging namun hidup didalam Roh, mereka bukan lagi mengagungkan manusia namun mengagungkan nama Tuhan (bacaan) bukan Apolos atau Paulus tapi Allah. Seiring dengan perkembangan zaman, tidak dapat kita pungkiri bahwa sedikit banyaknya tentu tujuan hidup manusia akan bergeser dari tujuan yang sebenarnya. Tuntutan perkembangan zaman, tuntutan kehidupan akan menggeser umat manusia dari tujuan benar ke tujuan yang kurang benar. Kita tidak akan pernah menolak apa yang namanya perkembangan teknologi yang menjadi kebanggaan umat manusia, namun perlu kita melihat sejauh mana manusia mampu melihat kehadiran Tuhan dalam perkembangan zaman. Hal ini tentu membutuhkan penelusuran yang mendalam sehingga tidak terjadi suatu penghakiman, karena yang mengetahui tentang seseorang adalah dia sendiri. Contoh sederhana manakah kita lebih tertarik membaca Firman Tuhan dibanding dengan Facebook dll. Bagaimanakah suasana hati kita saat membaca Firman Tuhan dan membuka handphone (membaca Firman Tuhan jarang tersenyum, sementara membaca Facebook kita sering tersenyum, marah dalam hati). Melalui Firman Tuhan ini,marilah kita senantiasa hidup dalam Taurat Tuhan agar kebahagiaan yang sesungguhnya adalah milik kita.

                                                                                                                                              

Pdt.Abel Sembiring, S.Th, M.Min

GBKP Tambun

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD