MINGGU 03 SEPTEMBER 2023, KHOTBAH ROMA 13:8-14

Invocatio :

Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi

(Mat. 7:12)

Bacaan :

Yesaya 43:10-13

Thema:

Menolong Sesama Dengan Kasih

1. Pendahuluan

Kita hidup di dalam dunia yang isinya adalah manusia yang beragam, beragam latar belakang, pilihan politik, pendidikan, agama, dll. Boleh dikatakan kita hidup di dalam rumah yang sama. Rumah ini kita katakan Indonesia. Kita sama-sama adalah warga dari satu negara yang sama. Punya falsafah yang sama. Punya mimpi yang sama. Tentu saja tinggal bersama di dalam satu rumah itu tidaklah gampang. Perkara sepele saja bisa cekcok. Padahal jiwa yang sehat mencari kedamaian. Oleh sebab itu, tiap penghuni rumah itu punya andil merawat hubungan tenggang rasa dan kerja sama. Tanpa menunggu pihak lain, pihak kita mulai berusaha hidup damai. Beginilah kebinekaan itu, dan tentu saja inilah yang menjadi penekakan dalam minggu pluralisme ini. Dalam minggu pluralisme ini yang menjadi tema adalah menolong sesama dengan kasih, dan tentu saja inilah salah satu kata kunci dalam minggu pluralisme. Semua manusia di dunia ini hidup di dalam dunia yang sama, maka sudah seharusnya apapun agamanya manusia di dunia ini harus melibatkan dirinya bagi kebaikan dunia ini. Dengan saling menghadirkan cinta, kasih, penghormatan, dan penghargaan itulah bentuk cara kita menatap pluralisme dengan baik. Maka sebaiknya milikilah dasar keagamaan yang baik tapi tidak melepaskan diri dari keterlibatan publik. Hidup keagamaan yang baik terlihat dalam hidup sosial yang baik.

2. Isi

Bahan invocatio Matius 7:12 merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit. Kalau kita membaca dan menafsir keseluruhan khotbah Yesus di bukit, setelah Yesus menyampaikan pengajaran tentang sikap hati para murid dalam kaitannya dengan prioritas mereka sebagai murid, Matius 7 ini memuat pengajaran tentang bagaimana para murid bersikap terhadap orang lain termasuk terhadap Allah. Sikap yang dimaksud juga berkaitan dengan sebuah pengajaran agar mereka terhindar dari kemunafikan dan memiliki hidup yang berintegritas. Matius 7 ini merupakan pengajaran yang memuat peringatan sebelum Yesus dalam kitab Matius ini mengakhiri khotbahNya di atas bukit. Dalam bagian bahan invocatio ini, Matius 7:712, khususnya ayat 12. Dalam bagian ini, para murid diperingatkan agar bertekun. Peringatan dalam bagian ini justru disampaikan agar para murid terdorong untuk melakukan sesuatu. Dalam bagian ini, Yesus hendak mengajarkan tentang ketekunan dalam menjalankan kehidupan Kristen para murid, khususnya dalam menjalankan misi Yesus dalam hidup mereka. Dalam bahan invocatio ini, Yesus meminta para murid untuk bersikap secara berimbang. Kalimat bijak dalam ayat 12 ini disimpulkan sebagai, “isi seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi”. Hal tersebut sering disebut sebagai the Golden Rule. Apa yang dikatakan Yesus di sini, mempunyai bentuk positif. Perlakukanlah setiap orang seperti engkau sendiri suka diperlakukan olehnya. Yang dimaksud Tuhan Yesus di sini adalah memberi suatu rumusan yang sederhana. Yesus mau menunjukkan bahwa Taurat bukanlah suatu hal yang sulit dan gelap. Taurat tidaklah sukar dimengerti. Taurat adalah terang dan jelas. Intinya adalah supaya semua itu dilakukan dan ditaati di dalam praktik hidup sehari-hari. Oleh karena itu yang perlu adalah hati yang baru dan sikap hidup yang baru. Dan perintah ini sudah sangat jelas. Perintah ini sebenarnya tidak lain dari adalah pengulangan hukum yang agung yaitu: kasihilah sesamanu manusia seperti dirimu sendiri.

Yesaya 40-55 sebenarnya merupakan bagian tersendiri di dalam kitab Yesaya, dan konteks historisnya adalah Pembuangan di Babel. Intinya bisa ditelusuri pada saat seorang nabi sekaligus penyair, yang menghasilkan puisi-puisi yang memberi semangat kepada umat Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel, sebagai tanggapan terhadap kemenangan-kemenangan Koresy, sang penakluk Persia, yang telah menaklukkan banyak penguasa, dan terakhir raja Lyddia, Kroesos. Akibat kekalahan Kroesos, Babel terancam menjadi korban berikutnya. Kemenangan-kemenangan Koresy ditafsirkan sebagai sesuai dengan rencana Tuhan untuk membebaskan umatNya, dan Koresy dilihat sebagai Mesias dari Tuhan (Yes. 45:1). Nabi-penyair (yang diberi nama “Deutero-Yesaya” oleh para penafsir) mengimbau umat Israel untuk menyambut rencana, dan mempersiapkan diri mereka untuk melakukan perjalanan pulang. Puisi-puisi ini penuh dengan rujukan terhadap teologi penciptaan, tapi juga rujukan terhadap Allah yang tak tertandingi dan tak terbandingi. Bahan bacaan ini Yesaya 43:10-13 berbicara mengenai monoteisme Allah, hanya Yahwe saja yang ada sebagai satu-satunya Allah. Kalau kita melihat teks Yesaya 43:10-13 (bahan bacaan), konteksnya adalah Yesaya 43:1-9 dan Yesaya 43:11-28. Di bagian yang mendahului teks bahan bacaan ini, di situ dikatakan Yahwe adalah Pencipta (Ibr: bore) dan Penebus (Ibr: go’el) Israel. Dia menjamin bahwa Israel akan mampu melaksanakan perjalanan pulang ke rumah, oleh karena api dan air (unsur-unsur berbahaya yang harus dihadapi oleh setiap orang yang bepergian di masa lalu) tidak bisa menghalangi mereka. Yahwe telah menebus Israel dan menukarkannya dengan tiga negeri Afrika (Mesir, Etiopia dan Seba/Nubia). Mereka boleh kembali ke Yerusalem dari keempat penjuru dunia, bahkan sampai pada keturunan mereka. Keturunan yang akan datang ini diproyeksikan sebagai ciptaan di masa depan, dengan menggunakan kata kerja yang berkaitan dengan penciptaan (Yes. 43:7 bara, yatsar dan asah). Yesaya 43:8-13 mengingatkan kita pada adegan pengadilan (Ibr: rib), tetapi tekanannya adalah pada unsur saksi (Ibr: ed). Pada satu pihak, bangsa-bangsa diminta untuk membawa ke pengadilan, saksi-saksi mereka, tetapi di pihak lain, umat Israel dipanggil menjadi saksi bagi Yahwe.

Yesaya 43:10 menekankan umat Israel sebagai saksi Tuhan, yang akan mengetahui dan percaya pada kekonstanan Yahwe. Maksudnya, sebelum peristiwa pembebasan ini, Yahwe adalah Satu-satunya dan sesudah peristiwa itu pu, Yahwe tetap Satu-satunya. Hanya ada satu penyelamat (Ibr: mosyia) dan Sang Penyelamat ini bukan dewa asing atau tak dikenal (Ibr: tsar). Hal ini merupakan usaha untuk meyakinkan Israel bahwa Yahwe yang dulu dianggap kalah terhadap dewa Babel (sehingga menyebabkan Israel terbuang selama satu generasi di Babel), ternyata tidak kalah. Kekalahan Israel bukan bukti kekalahan Allah Israel terhadap dewa-dewa Babel, namun bukti hukuman Tuhan bagi Israel atas dosa-dosanya. Sekarang, Tuhan justru akan memberi kemenangan kepada Israel, karena dewa Babel ternyata cuma patung buatan manusia saja, sedangkan Yahwe adalah satu-satunya yang bukan patung buatan manusia. Dari penafsiran atas bahan bacaan ini, kesimpulannya bahwa bahan bacaan ini ada hubungannya dengan keberadaan Yahwe sebagai Allah yang tidak berbentuk (anikonik) dan ketidakberadaan dewa yang terbentuk (ikonik). Ada dua kemungkinan menafsirkan Yesaya 43:10 ini: pertama, Yahwe Allah Israel tidak berbentuk dan kedua, sebelum Yahwe tidak ada Allah yang berbentuk dan sesudah Dia juga tidak ada Allah yang berbentuk. Allah yang berbentuk bukan Allah! Itulah menurut saya sebagai penulis, dan makna dari bahan bacaan ini dapat disebut sebagai teks anti ikon.

Bahan khotbah Roma 13:8-14 berbicara mengenai kasih adalah kegenapan hukum Taurat dan waktu yang sudah dekat. Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Teks ini berbicara mengenai keharusan melunasi segala kewajiban terhadap semua orang. Hanya, ada satu kewajiban yang tak mungkin dilunasi sampai habis, yaitu kewajiban mengasihi sesama manusia. Sebab kasih itu tidak sama dengan utang uang, dan mengasihi sesama setiap hari merupakan tugas baru yang tak pernah selesai sampai tuntas. Maka di sini Paulus berkata, ‘hendaklah kamu saling mengasihi terus-menerus’. Sekali lagi bisa dilihat di sini bahwa etika Kristen menuntut ‘lebih daripada yang biasa’. Memang benar bahwa kasih itu tak pernah cukup diberikan. Dan tak hanya mengasihi dalam lingkungan jemaat atau dalam lingkungan semua orang di sekitar kita, apakah mereka Kristen atau tidak. Tetapi kepada semua orang. Karena barang siapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Memenuhi berarti melaksanakan dengan sempurna. Dan yang memungkinkan orang percaya memenuhi hukum Taurat adalah Roh yang berdiam di dalam mereka. Makna sesama manusia di sini bukanlah orang yang kita pilih supaya dia kita kasihi, melainkan siapapun yang kita jumpai, meski itu adalah musuh kita. mengasihi orang lain tidaklah begitu sulit, kalu kita boleh memilih lebih dahulu siapa yang akan dianugerahi kasih kita: orang yang kita anggap simpatik, orang yang banyak berjasa bagi kita, keluarga kita, dll. Kasih seperti itu sudah biasa ditemukan di dunia ini. Tapi, sekali lagi, yang dituntut bagi orang percaya adalah lebih dari yang biasa.

Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Maksud dari teks ini adalah penegasan dari mengasihi sesama manusia diayat 8 di atas. Manusia hendaknya jangan mengutamakan kepentingannya sendiri, dan segala sesuatu dikorbankannya demi kepentingannya itu. Teks ini menekankan pengabdian yang menuntut penghargaan terhadap kepentingan sesama manusia. Dengan menghargai hak-hak hidup sesama kita, kita akan otomatis menurunkan ego kita sendiri. Karena seorang manusia tak dapat mengabdi kepada dua tuan: kalau ia mengabdi/menghargai kepada sesamanya, ia tak bisa lagi mengabdi kepada dirinya sendiri.

Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Teks ini menghubungkan apa yang sudah dikatakan diayat 8-9 di atas. Orang Kristen akan terhindar dari perbuatan jahat bila mereka memelihara kasih. Sebab kasih itu tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia. Dengan demikian perintah-perintah tersebut di atas dipenuhi. Karena hukum Taurat diberikan untuk kita bisa saling mengasihi. Dan yang menjadi norma dalam hal mengasihi sesama kita adalah perintah-perintah Tuhan, dan bila kita berusaha dalam memenuhi perintah-perintah Tuhan kita tidak boleh melupakan bahwa yang merupakan makna semua perintah itu adalah kasih. Karena tak ada perintah Tuhan yang dijalankan untuk merugikan sesama manusia.

Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. Teks ini mengacu pada perkataan mengenai kasih dalam ayat-ayat yang di atas. Orang percaya harus melakukan perintah Tuhan terutama karena mengetahui keadaan waktu sekarang. Maksud dari keadaan waktu sekarang ini adalah: waktu menjelang kedatangan Kristus kembali. Jika Dia datang, kita harus siap. Karena itu, kelakuan kita pada waktu menjelang kedatanganNya bersifat menentukan. Teruslah bersiap sedia ikut dalam proses setia kepada Tuhan. Penyucian orang percaya merupakan proses yang terus-menerus dan yang tidak pernah selesai. Sewaktu-waktu orang Kristen terancam bahaya mengendur. Mengendur di sini maksudnya adalah tidur. Kesempurnaan keselamatan melalui kedatangan Kristus akan semakin dekat, untuk itu bersiap sedialah.

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Teks ini juga penegasan agar terus bersiap sedia. Bersiap sedia dengan menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang. Perbuatan kegelapan itu harus ditanggalkan sebagaimana kita tanggalkan pakaian kotor atau rusak. Sebagai gantinya kita harus mengenakan perlengkapan senjata terang. Berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan bukanlah duduk-duduk sambil ngobrol santai dengan sesama orang percaya, tapi berjuang melawan kuasa-kuasa gelap. Atau dengan kata lain, orang Kristen tidak bersikap pasif sambil menonton pergumulan kuasa terang dengan kuasa gelap.

Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam pencabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Kehidupan orang Kristen sebagai orang yang sudah ditebus telah dimulai, orang Kristen harus hidup dengan sopan. Hidup dengan sopan haruslah ditentukan oleh hukum Allah, yang berdasarkan kasih kepada sesama manusia. Untuk itu dalam teks ini Paulus menyebut enam jenis perbuatan yang perlu dihindari orang Kristen. Urutannya sesuai dengan kenyataan. Kalau orang minum-minum, kesadaran yang mengendalikan kelakuannya berkurang, dan ia jauh lebih mudah jatuh ke dalam dua jenis kejahatan, yaitu pencabulan dan pertengkaran.

Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Hidup dengan sopan, berjuang melawan kuasa kegelapan di dalam dan di luar kita, semua itu tak mungkin kita lakukan sendiri. Kita hanya dapat melakukannya kalau kita hidup dalam persekutuan dengan Yesus Kristus, dengan kematian dan kebangkitanNya. Mengenakan Tuhan Yesus Kristus adalah dengan merawat tubuh untuk memuliakan Tuhan Yesus, bukan menggunakan tubuh dengan sesuka hati.

3. Refleksi

Esensi hidup yang kita jalani sebagai anak Tuhan dalam kehidupan publik adalah keterlibatan. Kita dipanggil untuk berbuat sesuatu, sekecil apapun perbuatan itu. Kita dipanggil untuk tidak tinggal diam, untuk mempelajari sesuatu yang secara publik menjadi keprihatinan dan tantangan bersama. Karena teologi tidaklah berhenti di pemikiran atau konsep dalam ruang-ruang kelas atau seminar belaka. Teologi harus ambil bagian dalam perkara masyarakat setempat, menghadirkan sikap solider dalam peziarahan jatuh bangun dunia hidup manusia.

Dalam kesempatan ini saya sebagai penulis sermon bimbingan khotbah ini, saya ingin menawarkan sudut pandang dalam kaitannya dengan Minggu Pluralisme. Sudut pandang yang saya tawarkan adalah dengan memakai pendekatan spiritualitas menyentuh dan merengkuh. Dalam penjelasannya secara lebih mendalam, menyentuh itu adalah sebuah gestur tubuh yang mengkoneksikan satu pribadi dengan pribadi lain melalui sebuah cara yang ramah dan tak mengancam. Ia merupakan sebuah bahasa tubuh yang paling tidak agresif. Ia tak menyakiti pribadi lain dengan genggaman yang gampang berubah menjadi cengkeraman yang kuat. Menyentuh, singkatnya, adalah cara tubuh ini berkata: aku mengasihimu, aku menghormatimu, aku menghargaimu. Tangan yang menyentuh bukanlah tangan yang membuat gerakan menolak orang lain dan menghalaunya agar menjauh dari kita. Tangan yang menjauh juga bukanlah tangan yang menggenggam erat ingin menguasai orang lain. Pada yang pertama, orang lain menjadi nobody; pada yang kedua, orang lain menjadi something. Dengan menyentuh, orang lain menjadi somebody. Yang pertama memunculkan imunitas. Kita enggan berurusan dengan orang lain yang menurut kita bisa mengotori kita. Sebaliknya, yang kedua menampilkan represi, sebab kita memandang yang lain berada di bawah kita dan wajar jika kita kuasai. Sebaliknya, dengan menyentuh, orang lain berada di sisi atau di hadapan kita, menjadi seorang pribadi yang penting bagi kita, yang kita hargai, kita hormati, kita kasihi kediriannya yang otonom/mandiri/bebas.

Selain sentuhan, ada lagi gestur spiritual yang lain yang sama pentingnya, yaitu rengkuhan. Sama seperti penolakan yang saya katakan di atas mengenai penghalauan dan perenggutan, saya memakain pendekatan berpikir seorang teolog Kroasia Miroslav Volf, beliau melihat dua sikap religius yang keliru. Yang pertama adalah eksklusi dan yang kedua adalah inklusi. Terhadap keduanya, Volf mengusulkan yang ketiga, yaitu embrace. Kata “merengkuh” (embrace) sendiri tentu saja berbeda dari menyentuh seperti yang saya sebutkan di atas tadi. Tapi, dalam imajinasi saya, merengkuh bisa menjadi gestur cinta yang muncul kemudian setelah menyentuh. Merengkuh sama sekali berbeda dari merenggut dan mengggenggam. Volf menjelaskan dengan cukup berhati-hati empat momen perengkuhan: 1. Membuka lengan-lengan; 2. Menanti; 3. Menutup lengan-lengan (oleh kedua pihak); 4. Membuka kembali lengan-lengan. Dengan membuka lengan-lengan (momen 1), Volf berkata, “Saya telah menciptakan ruang di dalam diri saya sendiri bagi orang lain untuk datang dan … saya telah melakukan sebuah gerakan keluar dari diri saya sendiri untuk memasuki ruang yang diciptakan oleh orang lain”. Singkatnya, ia adalah sebuah gerakan mengundang. Menanti (momen 2) muncul tatkala saya “berhenti pada batas dari orang lain”. Puncak dari gestur ini adalah saling menutup lengan dan terjadilah rengkuhan oleh kedua pihak (momen 3). Menurut Volf, rengkuhan semacam ini tidak menghancurkan orang lain seperti yang terjadi dalam perenggutan atau penggenggaman erat. “Di dalam sebuah rengkuhan, identitas diri dijaga dan diubah, dan keliyanan orang lain ditegaskan sebagai keliyanan dan sebagian diterima ke dalam identitas diri yang selalu berubah”. Yang terakhir (momen 4) adalah membuka kembali lengan-lengan itu. Pada titik ini, setiap pihak melepaskan orang lain dan membiarkannya menjadi dirinya sendiri.

Saya tak tahu, mana yang lebih baik antara menyentuh dan merengkuh. Yang pasti, keduanya tak terpisahkan. Jika menyentuh menciptakan relasi, maka merengkuh menciptakan komuni. Ketika dikerjakan bersama-sama, baik sentuhan maupun rengkuhan sama-sama menghargai orang lain sebagaimana mereka ada sembari merayakan kebersamaan di dalam persekutuan yang baru yang transformatif. Dunia teologi membutuhkan orang-orang yang tidak hanya bercerita tentang cinta Allah, tetapi juga yang memperagakan/melakukan cinta Allah itu dengan menyentuh sesamanya. Inilah panggilan untuk menjadi seorang teolog sentuhan. Kita dipanggil untuk menciptakan relasi-relasi baru dengan sikap hormat dengan mereka yang selama ini berada “di luar sana”. Luce Irigary seorang filsuf mengatakan, “yang dibutuhkan adalah sebuah sentuhan yang menghormati orang lain, yang menghargai, yang mengasihi … sikap memperhatikan dengan sungguh, termasuk sebuah perhatian yang menubuh”. Dan teologi yang sehat juga harus mendorong kita untuk mengundang orang lain memasuki komuni yang lebih mendalam, yang ditandai oleh rengkuhan persahabatan. Inilah panggilan untuk menjadi seorang teolog rengkuhan. Kita dipanggil untuk mau merengkuh mereka yang bersedia mengalami kehangatan cinta itu dalam relasi yang lebih manusiawi dan intim.

Sesama manusia bagi kita mungkin saja adalah orang yang seide dengan kita, sepemahaman, dll. Maka orang yang tidak sama dengan kita adalah orang yang patut diasingkan. Padahal pada prinsipnya tidak begitu karena kita hidup di dunia yang sama. Salah satu cerita mengenai orang Samaria yang baik hati merupakan bentuk kehendak Allah untuk memperlihatkan bagaimana sikap kita terhadap sesama. Dari cerita orang Samaria yang baik hati merupakan panggilan bagi kita untuk bergerak bersama mewujudkan perubahan diri sendiri dan masyarakat. Dan ternyata setuju atau tidak doktrin sekarang ini malah membatasi diri kita untuk memandang orang lain dengan menciptakan batas dan jarak. Pergeseran paradigm terjadi dengan adanya keputusan orang Samaria yang sangat berbeda dengan orang Yahudi. Orang Samaria yang oleh orang Yahudi diasingkan, dikafirkan, dan musuh yang dijauhi, justru melewati batas “doktriner” yang ada. Orang Samaria justru menunjukkan keberanian untuk mengasihi/menolong sesama dengan kasih. Dan itu lahir dari belas kasihan atau cinta. Orang Samaria digerakkan oleh empati yang mendalam, bukan sekadar perasaan kasihan pada penderitaan orang lain. Dari hal ini boleh dijadikan refleksi dalam khotbah ini yaitu cinta Tuhan dan sesama harus universal, mencakup juga kepada musuh. Cinta untuk sesama manusia terutama tidak dalam menjaga hukum tertentu, tetapi diartikan sebagai perasaan kasih sayang yang kuat. Dan tindakan belas kasihan ini atau tindakan cinta ini tidak dipengaruhi oleh doktriner yang mengasingkan orang yang tidak sesuai agamanya atau kemurnian rasnya.

Pdt. Andreas Pranata Meliala-GBKP Cibinong

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD