KAMIS 17 AGUSTUS 2023, KHOTBAH ULANGAN 20:1-4 (PERINGATAN HUT RI)

Invocatio :

Jadi apabila anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka (Yohanes 8:36)

Bacaan I  :

Matius 24: 4-14 (tunggal)

Tema :

Tuhan Allah Memberikan Kemenengan

 

I. Pendahuluan

Proklamasi kemerdekaan 17 agustus 1945 harus disadari oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari anugerah Tuhan. Artinya, kemerdekaan ini tidak lepas dari intervensi Tuhan yang telah menyempurnakan semua konsep dan rencana yang telah disusun oleh para pendiri bangsa. Tuhan memberikan anugerah ini sebagai bentuk kepedulianNya terhadap kebutuhan dasar bangsa yang ingin lepas dari penjajahan. Kemerdekaan itu dicapai dengan berjibaku, bukan saja pemikiran-pemikiran politik, tetapi juga soal nyawa yang telah dikorbankan oleh para pahlawan. Pengorbanan ini sangat berharga bagi generasi masa kini dan akan datang. 

Dalam kehidupan kemanusiaan, tentu saja setiap pribadi pada hakikatnya adalah manusia bebas. Jika kebebasannya direnggut oleh yang lain, maka secara naluriah ia akan memberontak dengan sekuat tenaga dan akan berupaya membebaskan dirinya dari kekuatan yang membelenggu. Karena sepenanggungan dan memiliki kegelisahan yang sama, maka dengan bahu membahu mencari jalan keluar. Semua dibuktikan dalam pengorbanan para pahlawan di medan perang. Bagi generasi penerus, itulah anugerah terindah yang tidak bisa dibayar oleh apapun juga. Para pahlawan memberikan hidup dan matinya demi kebebasan dan kemerdekaan.

II. Isi

Israel pada saat ini harus dipandang lebih sebagai sebuah perkemahan daripada sebuah kerajaan, karena mereka belum menetap di sebuah negeri yang menjadi milik mereka sendiri. Perang akan mereka jalani supaya mereka bisa menetap, dan bahkan setelah menetap pun, mereka tidak dapat melindungi atau memperluas daerah mereka tanpa mendengar bunyi-bunyi tanda bahaya perang. Oleh sebab itu, mereka perlu diberi beberapa petunjuk untuk urusan-urusan ketentaraan mereka. Dan dalam keseluruhan ayat-ayat dalam prikop ini, mereka diberi petunjuk untuk mengelola, menyusun, dan menghimpun pasukan-pasukan mereka sendiri.

Hal yang sangat penting bagi orang-orang yang akan menghadapi pertempuran harus disemangati melawan ketakutan-ketakutan mereka. Dalam nats kotbah kita Ulangan 20:1-4 Musa memberi semangat kepada semua prajurit. Hal yang harus diingat oleh para pemimpin dan panglima perang: “Janganlah engkau takut kepada mereka.” Sekalipun musuh tampak unggul karena jumlah mereka yang besar, melebihi jumlahmu, dan karena pasukan berkuda mereka, namun janganlah kamu mundur untuk bertempur dengan mereka. Kuda dan kereta menunjukkan tanda kekuatan suatu pasukan tentara. Pada saat itu dipakai sebagai senjata perang yang sangat penting dan menjadi suatu kekuatan yang sangat disegani. Kuda dan kereta sebagai perlengkapan perang yang kuat sering kali memberikan kemenangan dalam peperangan bagi bangsa yang memilikinya. Tetapi Musa mengatakan kepada bangsa Israel untuk tidak boleh takut melainkan harus percaya bahwa Allah ada bersama mereka. Allah yang telah membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir senantiasa menyertai mereka. Allah dengan kuasa-Nya dapat mengalahkan itu semua. Musa menyuruh bangsa Israel untuk tetap bersandar dan mengasihi Tuhan dan tetap percaya bahwa Allah sanggup mengalahkan musuh sekuat apapun. Dorongan semangat harus disampaikan oleh seorang imam yang ditunjuk, atau yang diurapi untuk tujuan itu. Imam harus menyemangati rakyat, memerintahkan mereka untuk tidak lemah hati, jangan takut dan jangan gemetar karena musuh mereka. Imam harus meyakinkan mereka akan hadirat Allah beserta mereka dan membela mereka. Bukan hanya untuk menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka, tetapi juga untuk memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh itu. Orang-orang yang disertai Allah tidak mempunyai alasan untuk takut.

Banyak orang bermunculan menafsirkan beberapa kejadian yang muncul akhir-akhir ini sebagai tanda berakhirnya zaman ini. Namun kenyataannya tafsiran mereka tidak berujung realita, karena sampai kini telah gugur pendapat-pandapat tentang kepastian hari kiamat yang memang hanya sekadar perhitungan manusia belaka, yang tidak berpijak pada kebenaran firman Tuhan. Dalam bacaan kita hari ini jelas dikatakan Yesus bahwa tanda- tanda zaman memang dapat diamati tetapi tidak bermaksud membuka kesempatan bagi manusia untuk menentukan hari- Nya. Dalam percakapan Yesus dengan murid-muridNya tumbul pertanyaan dari murid-murud tentang kapan dan bagaimana kesudahan dunia (akhir zaman). Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan mereka, tetapi memberikan nasihat bagi mereka untuk mengamati tanda zaman, yaitu: menjamurnya ajaran sesat yang berusaha menyelewengkan perhatian orang dari Yesus (4-5, 11), berbagai malapetaka perang dan bencana alam (6-7), penyiksaan dan pembunuhan orang beriman, permusuhan antar orang beriman karena ketidakjelasan dasar iman (10), dan kasih persaudaraan menjadi dingin (12). Dengan jelas dan tegas Yesus mengatakan bahwa semuanya ini akan terjadi sebagai permulaan penderitaan yang menimpa semua orang termasuk orang beriman. Orang percaya tidak seharusnya menjadi gelisah, kuatir, dan takut mengamati dan mengalami segala kejadian di atas, sebaliknya harus tetap teguh dan setia dalam kehidupan imannya. Di tengah kejadian-kejadian yang berakibat kemunduran, kerusakan, kehancuran, keruntuhan, dan kebinasaan, ternyata ada yang menghibur, karena berita Injil akan tetap tersiar dan berkembang ke setiap penjuru dunia sebelum zaman ini berakhir dan orang yang bertahan sampai akhir akan mendapatkan hidup kekal (13-14). Inilah misi Kristen yang tidak pernah ditelan kekacauan dan kehancuran zaman, karena firman Tuhan tidak pernah gagal. Kesudahan segala sesuatu pasti, tetapi jangan goyah karena kemenangan orang yang setia sampai akhir pun pasti.

III. Aplikasi

Janji kemenangan yang Tuhan berikan, akan dinyatakan saat kita melangkah untuk berjuang dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan. Tuhan berfirman kepada bangsa Israel, bahwa Tuhan akan menyertai mereka dalam peperangan yang mereka lakukan, dan Tuhan akan memberikan kemenangan kepada mereka. Jadi hari ini bangkitlah, berjuanglah, melangkahlah untuk meraih kemenangan yang sudah Tuhan janjikan.

Tema khotbah kita : Tuhan Allah memberikan kemenangan. Kemerdekaan RI yang ke 78 ini patut kita syukuri sebagai sebuah anugrah Tuhan yang luar biasa. Keberanian dan pengorbanan para pejuang, patut kita hargai, karena untuk mencapai kemerdekaan ini bukan sesuatu yang mudah diperoleh bangsa kita. Tuhan Allah telah bekerja melalui para pejuang kita, Tuhan yang memberikan keberanian bagi mereka untuk melawan para musuh walaupun perlengkapan senjata para musuh jauh lebih canggih dan lengkap dibandingkan dengan perlengakapn perang para pahlawan kita.

Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini bukanlah akhir dari perjuangan. Banyak hal yang masih perlu kita perjuangkan dalam menjaga keutuhan NKRI dan mewujudkan cita-cita bangsa menciptakan kehidupan makmur dan adil bagi setiap warga. Pada zaman sekarang banyak masyarakat yang lebih mementingkan diri sendiri daripada kepentingan bangsa. Hal semacam itu yang harus selalu kita hindari. Seperti kutipan yang pernah dikatakan oleh Bung Karno, "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri." Hal tersebut menandakan kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan. Saat ini kita harus tetap berjuang melawan segala hal yang dapat menghambat bangsa ini untuk menjadi bangsa yang maju dan makmur.

Ada sebuah ilustrasi untuk bias kita renungkan: Pada suatu hari seseorang berkunjung ke rumah temannya yang bekerja sebagai petani. Mereka telah lama tidak saling berjumpa. Ketika ia berjumpa dengan temanya, ia melihat temannya itu sangat menderita. Dengan penuh tanda tanya ia mulai mengajaknya bercakap-cakap. “Sobat, apakah tahun ini hasil panenmu tak baik?” “Aku tidak mempunyai hasil panen sedikit pun,” jawab petani itu. “O, maaf. Tidakkah kau dapatkan hasil dari pohon-pohon kapasmu?” tanya temannya itu dengan hati penuh iba. “Tidak, aku tidak menanam pohon kapas satupun, saya takut kalau kutu-kutu yang ada di benih kapas merusak pohon-pohon yang akan tumbuh,” jawab petani itu kembali. “Dan bagaimana dengan gandummu?” tanyanya kembali. “Aku juga tidak menanam gandum juga, karena aku pikir tahun ini tidak akan turun hujan.” “Kalau begitu kamu menanam kentang?” “Tidak, aku pun tidak memikirkan untuk menanam kentang, karena aku takut belalang akan menyerang dan memakan habis tanaman itu,” jawab petani itu lagi. Petani ini kalah perang sebelum maju berperang karena hatinya begitu dikuasai oleh ketakutan. Tidak heran jika petani tadi tidak memiliki panen sama sekali sebab karena ketakutannya ia sama sekali tidak mau melangkah untuk maju. Petani tadi tidak menyadari bahwa hidup ini adalah peperangan. Kalau ingin berhasil maka harus berani berperang. Tanpa peperangan, maka hidup ini tidak akan menghasilkan atau mencapai sesuatu yang berarti. Sama halnya dengan hidup kita, setiap hari kita haris menghadapi peperangan demi peperangan. Peperangan melawan diri kita sendiri, melawan kedagingan kita, melawan iblis, melawan semua rintangan dan hambatan untuk maju, dan masih banyak hal lagi. Hari ini kita harus menyadari bahwa kunci supaya kita bisa menang dalam peperangan adalah TIDAK TAKUT. Ingatlah bahwa Tuhan senantiasa beserta kita dan jika Tuhan beserta dengan kita, maka tidak ada satupun yang dapat melawan kita.          

Pdt Rahel br Tarigan M.Th-Runggun Denpasar

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD