MINGGU 28 AGUSTUS 2022, KHOTBAH 2 RAJA-RAJA 17:34-39 (MINGGU BUDAYA I)

Bacaan :

Yakobus 2:1-4

Khotbah  :

2 Raja-raja 17:34-39

Tema :

TETAP BERPEGANG PADA KETETAPAN-KETETAPAN TUHAN

 

PEMBUKAAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur, dalam bahasa Inggris budaya itu adalah Culture: Kesopanan, Kebudayaan dan pemeliharaan. Culture bisa juga berarti terpelajar, dalam bahasa latin cultura. 

Koentjaraningrat, seorang tokoh Antrotopologi Indonesia mengatakatan: Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Sedangkan menurut Cicero, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat serta setiap kecakapan, dan kebiasaan. 

Dari penjelasan arti budaya secara etimologi dan uraian para tokoh di atas, maka dapat disimpulkan bahwa budaya atau kebudayaan adalah hasil dari pemikiran manusia untuk hidup dalam masyarakat dengan mampu menjalankan hukum adat atau kebiasaan serta norma yang berlaku dalam masyarakat.

Manusia berbudaya, yaitu manusia yang hidup dalam kebenaran dan kesucian hidup. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang melestarikan budaya itu sendiri. Budaya yang dilestarikan adalah budaya yang tidak menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. 

 ISI

Latar belakang teks ini ditulis 2 Raja-raja 17:5-6 Raja Asyur menyerbu seluruh negeri, berbaris melawan Samaria dan mengepungnya selama tiga tahun. Pada tahun kesembilan pemerintahan Hosea, raja Asyur merebut Samaria dan mengusir orang Israel ke Asyur. Dia menempatkan mereka di Halah, di Gozan di Sungai Habor dan di kota-kota Media.

  • Ini terjadi pada 722 SM dan mengakhiri Israel, Kerajaan Utara.(10 suku)
  • Penulis merefleksikan semua yang telah terjadi dan apa yang menyebabkan hari yang menentukan ini. Dari teks 2 Raja 17:7-23 kita memiliki ringkasan yang ditulis dengan baik tentang sejarah hubungan Israel dengan Tuhan (selama 200 tahun terakhir dan 20 Raja-raja). Penulis menyimpulkan semuanya tepat di awal dengan baris ini: “Semua ini terjadi karena Israel berdosa terhadap Allah …”
  • “Mereka menyembah dewa-dewa lain…” Tidak ada alasan lain. Mereka berpaling dari Tuhan. Mereka membawa penghakiman ke atas kepala mereka sendiri.

Tuhan menebus mereka dengan kasih karunia-Nya ketika Dia “membawa mereka keluar dari Mesir dari bawah kekuasaan Firaun, raja Mesir”. (17:7)

  • Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada mereka ketika Dia memberi mereka perintah, ketetapan dan hukum, dan menyatakan: "Dengarlah, hai Israel: TUHAN, Allah kita, TUHAN itu esa." (Ul 6:4), Ini adalah Perintah Allah, bukan ide pengetahuan saja yang dibuat-buat oleh manusia.
  • Tuhan adalah satu, dan satu-satunya untuk disembah

Sayangnya dan perlahan-lahan kita melihat Israel menolak Tuhan dan menyembah dewa-dewa lain. Mereka tidak hanya menyangkal Tuhan (seperti beberapa ateis atau agnostik); mereka menggantikan Dia!

  • “Mereka mengikuti berhala-berhala yang tidak berharga dan diri mereka sendiri menjadi tidak berharga.” (17:15b). Mereka membuang satu Tuhan yang benar untuk yang palsu dan buatan manusia.
  • 17:8 - mereka mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa (dari luar) dan juga kebiasaan yang diperkenalkan oleh raja-raja mereka sendiri .
  • Mereka mendirikan batu, tiang Asyera, berhala, menyembah Baal, dua anak sapi, melakukan ramalan dan sihir, dan membakar anak-anak sebagai korban. Panggilan Israel adalah untuk menjadi umat Tuhan, dikhususkan untuk Tuhan, tetapi sejarahnya tidak mengikuti panggilannya.
  • Sebaliknya, mereka menyesuaikan diri dengan bangsa-bangsa luar dan berbaur dengan mereka.

Terlepas dari penyembahan berhala dan kemurtadan Israel, Tuhan hadir sepanjang sejarah mereka.

  • 17:13 “Tuhan memperingatkan Israel dan Yehuda melalui semua nabi: “Berbaliklah dari jalanmu yang jahat. Taatilah perintah-perintah-Ku dan ketetapan-ketetapan-Ku, sesuai dengan seluruh Hukum yang Aku perintahkan kepada nenek moyangmu untuk dipatuhi dan yang Aku sampaikan kepadamu melalui hamba-hamba-Ku para nabi.”

Namun mereka tidak mendengarnya.

  • Sekali lagi dalam 17:23 "... TUHAN menyingkirkan mereka dari hadirat-Nya, seperti yang telah diperingatkan-Nya melalui semua hamba-Nya para nabi."
  • Sejak Kerajaan itu terbagi dan Raja Yerobeam (Israel) memperkenalkan dua anak lembu emas, sekitar 200 tahun yang lalu, Tuhan terus berbicara dan memperingatkan. Tuhan yang menebus mereka, Tuhan yang memperingatkan mereka, akhirnya menghakimi mereka. Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai TUHAN YANG MENGHAKIMI. Tuhan yang benar menghakimi.
  • “Maka Tuhan sangat murka terhadap Israel dan menjauhkan mereka dari hadirat-Nya” (17:18). Raja Asyur membawa orang asing dari seluruh penjuru.
  • Mereka mengusir tawanan dari tanah air mereka dan mengirim mereka ke mana-mana, sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan tanah kembali.
  • Ada kejadian dimana singa dikeluarkan dan membunuh orang-orang Israel. Raja diberitahu bahwa alasannya karena para pemukim baru ini “tidak tahu apa yang diminta oleh dewa negara” (17:26).

17:32-33 “32 Mereka menyembah TUHAN, mengangkat imam mereka sendiri juga menyembah allah-allah mereka sendiri menurut kebiasaan bangsa-bangsa dari mana mereka berasal. Mereka memiliki campuran dewa. Mereka melupakan perjanjian yang dibuat Allah dengan Israel, Perjanjian yang dibuat Allah, sepanjang perjalanan kembali ke waktu Keluaran Yaitu: Hanya ada satu Tuhan. Dia mengungkapkan diri-Nya. Sembahlah Tuhan Allahmu. Allah yang Esa.

  • Dalam teks ini menekankan agar bangsa Israel, 3 hal ini:
  1. “Jangan menyembah allah lain” (ay.35),
  2. “Jangan menyembah allah lain” (ay.37),
  3. "Jangan menyembah allah lain" (ay.38).

Penyembahan kepada Tuhan Allah membuat iman orang Israel unik di dunia kuno. Israel memiliki panggilan unik – untuk mengarahkan bangsa-bangsa lain datang kepada Tuhan. Panggilan mereka gagal karena mereka tidak mau mendengarkan Allah sebaliknya mereka menyembah dewa-dewa dan patung-patung buatan mereka sendiri. Sehingga Allah Murka dan membiarkan mereka ditaklukkan Asyur dan hidup menderita.

 PENUTUP

Manusia dicipakan Allah berbudaya (memiliki akal, pengetahuan dan adat istiadat agar hidupnya teratur dan saling menghormati. Karena manusia pada dasarnya mahluk sosial. Individu hidup bersama manusia lain dalam struktur masyarakat. Demikian juga kita suku Karo memiliki tradisi, budaya dan adat istiadat yang harus dilakukan sebagai cirikhas dan membentuk karakter kita. Namun dalam hal ini kita tidak hanya hidup melestarikan budaya Karo kita namun tentunya juga melakukan ketetapan dan hukum-hukum Allah yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tentunya dalam hal ini dibangun peraturan/perangkat hukum atau undang undang baik dalam kaitan Kekristenan maupun adat dibuat bertujuan agar ada keteraturan, ada keadilan di dalam masyarakat. Iman dan adat Karo tidak dipertentangkan namun bagaimana iman kita menerangi adat istiadat yang kita lakukan setiap hari. Tetapi terkadang manusia cenderung melanggar aturan dan imannya, hanya karena tidak mampu mengendalikan diri ataupun mengikuti kemauan/ego. Sehingga tidak jarang berhadapan dengan hukum itu sendiri. Bahkan ada istilah “peraturan itu dibuat untuk dilanggar”. Seperti orang Samaria/Israel Utara yang tidak mau mendengarkan suara Tuhan melalui NabiNya maka Tuhan Murka dan Tuhan mengijinkan Israel jatuh ketangan Asyur. Israel menderita ditekan, di jajah dan di perlakukan secara kejam dan semena-mena. Bangsa diusir keluar dari tanah mereka. Hak mereka telah dirampas bangsa asing.

Namun demikian, Allah sangat mengasihi manusia dan tidak dibiarkanNya kita hidup di bawah hukuman dan dosa sehingga Dia dalam rupa manusia (Yesus Kristus) turun kedalam dunia dan menebus dosa manusia. Yesus datang agar manusia dibenarkan dan hidup dalam kebenaran dan firmanNya. Manusia hidup dalam penebusan dan iman kepada Allah yang transendence hadir dalam hati manusia dan firman Tuhan sebagai acuan dalam menjalankan kehidupan. Manusia yang sudah dikasihi Allah juga harus mengasihi dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan untuk disembah dan dimuliakan dengan cara berpegang pada segala ketetapan-Nya haruslah menjadi “budaya/gaya hidup” yang tampak dalam kehidupan orang percaya. Jika kita melihat, ada orang yang mengaku percaya namun kehidupannya tidak menampakkan hidup orang-orang yang taat, maka pada hakekatnya kepercayaannya kepada Allah masih diragukan. Karena kepercayaan seseorang kepada Tuhan diimbangi dengan ketaatannya dalam melakukan segala ketetapan dan perintah Tuhan. Ketaatan yang dilakukan hendaknya didasarkan pada hati yang benar-benar tulus, dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan.

Karena itu sebagai orang percaya yang telah menerima keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus, tentunya ketaatan dan membudayakan kebenaran firman Tuhan menjadi ciri/identitas diri kita. Ketaatan akan kebenaran Firman Tuhan akan memberi kita kekuatan untuk dapat menghadapi kehidupan yang semakin tak menentu akhir-akhir ini, dan percayalah ketaatan kita akan kebenaran Firman Tuhan akan membuat kita melihat dan menerima janji-janji Allah yang mengagumkan.

Sebagai contoh dalam Markus 7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia

Dan Yakobus 2:1-4 kita yang sudah hidup dalam iman akan Yesus Kristus jangan lagi memandang muka / lahiriah saja (Tidak gampang jatuh kepada penghakiman dengan melihat tampilan fisik) namun kita melihat kedalaman hati. Memperlakukan orang lain seperti kita melihat wajah Yesus di wajahnya. Dengan demikian kita sebagai anak Tuhan menampakkan firman Allah/Ketetapan Allah dalam hidup kita secara menyeluruh (Hati, pikiran, perbuatan) memperlihatkan jelas karakter dan ciri anak-anak Tuhan. Beribadah dan perintah Tuhan yang kita lakukan.

Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya (Ulangan 11:1)

 Kolose 3:17 “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”

 

Pdt. Rosliana br Sinulingga-Runggun Bumi Anggrek

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD