MINGGU 10 APRIL 2022, KHOTBAH MAZMUR118:19-29 (MINGGU PALMARUN)

Invocatio :

Kolose 1:20b dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus

Ogen :

Matius 21:1-9 (Tunggal)   

Tema :

Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan

 

Pendahuluan

Ada satu lagu pujian yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan karena Dia baik. “Bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan. Sebab Dia baik bersyukur kepada Tuhan.” Sekalipun, situasi yang kita alami ada dalam kesusahan, penderitaan, kita percaya ada rancangan Tuhan yang baik dalam hidup kita, sehingga kita senantiasa mampu bersyukur.

Mazmur 113-Maz 118 biasa dipakai oleh orang Yahudi pada perayaan Paskah setiap tahunnya. Dua Mazmur pertama dinyanyikan sebelum perjamuan Paskah, dan sisanya setelah perjamuan. Dengan demikian menurut beberapa penafsiran, mazmur ini adalah nyanyian terakhir yang dinyanyikan Yesus Kristus sebelum kematianNya.

Pemazmur terlebih dahulu mengajak Israel secara keseluruhan (2..biarlah Israel), Pemimpin Rohani (3..kaum Harun), dan semua umat yang takut akan Tuhan (4) untuk memuji Tuhan. Setelah ajakan mengucap syukur (ay. 1-4), pemazmur menceritakan tiga kesaksian berbeda akan karya Tuhan dalam hidupnya. Yang pertama ay/ 5-9, kesaksian akan pertolongan Tuhan dari kesesakan karena himpitan musuh. Terbukti, Tuhan adalah tempat perlindungan yang lebih teruji daripada manusia, bahkan bangsawan sekalipun. Kedua, ay. 10-12, kesaksian raja akan pertolongan Tuhan ketika musuh berupaya menaklukan bangsanya. Umat Israel berulangkali mengalami bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari cengkraman dari bangsa-bangsa musuh. Ketiga, ayat 13-25 yang juga menjadi bagian kotbah kita, adalah kesaksian pemazmur yang mengalami pembentukan dari Tuhan melalui penolakan dan hajaran. Tuhan mengijinkan dia kalah dan babak belur, tetapi pengalaman itu justru membentuk kekuatan dan ketangguhan untuk tetap setia kepada Tuhan. Dialah batu yang dibuang tukang bangunan, tetapi yang dijadikan sebagai batu penjuru untuk mengokohkan sebuah bangunan. Dan kembali Masmur ini ditutup dengan ajakan bersyukur, yang merupakan ulangan dari ay. 1.

Pendalalam Teks

Sebagaimana pengantar menjelaskan bahwa perikop ini adalah ungkapan syukur pemazmur yang sungguh merasakan pertolongan Tuhan, walaupun diawali dengan penderitaan (ay. 18 Tuhan menghajar aku dengan keras), tetapi pemasmur mengimani itu adalah cara Tuhan dalam membentuk pemazmur. Sehingga pemasmur tidak lupa mengucapsyukur kepada Tuhan. Ada 6 kali kalimat yang menunjukan ungkapan syukur pemazmur atas pertolongan Tuhan (ay 19, bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk dan mengucap syukur kepada Tuhan, ay. 21 aku besyukur kepadaMu, sebab Engkau menjawab aku, dan telah menjadi keselamatanku, ay. 24 bukan hanya bersyukur tapi juga bersorak-sorak dan bersuka cita selamanya, ay. 28 Allahku aku hendak bersyukur kepadaMu, aku hendak meninggikan Engkau dan ditutup di ay. 29 ajakan bersyukur : Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Dia baik.

Dan di ay. 22-23 Apalagi yang dialami oleh pemazmur, merupakan kesaksian pengalaman hidup Yesus Kristus. Dimana Yesus menerapkan ayat ini pada diriNya sendiri karena Ia ditolak oleh umatNya sendiri, tetapi kemudian menajdi batu penjur rumah Allah yang baru, yaitu gereja. Pemazmur bermohon, supaya Tuhan memberi keselamatan dan juga nubuatan keselamatan melalui pengorbanana Kristus dan dinyanyikan oleh orang banyak ketika Yesus memasuki Yerusalem. Pembacaan Firman Tuhan pertama (ogen), Judul Yesus dielu-elukan di Yerusalem, bagaiman sambutan yang sangat antusias dari orang banyak pada waktu itu yang mengharapkan Yesus sebagai penyelamat/pembebas dari bangsa Romawi yang selama ini sudah menjajah bangsa Israel. Sehingga orang banyak menyebut Yesus bukan saja sebagai Mesias yang datang dalam nama Tuhan tetapi juga sebagai nabi yang datang dari Nazaret (11). Namun dari perspektif Yesus, Dia sengaja mendemostrasikan diriNya sebagai Mesias dengan karakter dan tujuan yang berbeda. Yesus menunggang keledai bukan kuda (sesuai dengan nubuatan nabi Zakaria (Za 9;9), keledai merupakan simbol perdamaian dan kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Yesus tidak menungang kuda yang adalah lambang kekuatan dan kuasa. Bahkan Yesus tidak menunggang induk keledai, melainkan anaknya (ay. 7). Demonstrasi Yesus ini hendak menegaskan kemesiasanNya yang bersifat rohani. Ia datang sebagai raja damai untuk membebaskan umat manusia dari belenggu perbudakan dosa dan dari konsekuensi hukaman Allah.

Aplikasi

Minggu ini adalah Minggu Palmarum, minggu yang mengingatkan kita akan peristiwa Yesus memasuki kota Yerusalem sebelum Dia menjalani Via dolorosa. Umat menyambutNya dengan penuh sukacita sambil menghamparkan baju-baju (seolah red karpet), di jalan dan memotong ranting ranting dari pohon dan menyembarkan nya di jalan. Tradisi ini sampai sekarang masih diteruskan oleh beberapa gereja.

Apa pesan Firman Tuhan pada minggu Palmarun tahun ini

  1. Tetaplah besyukur kepada Tuhan dalam setiap perkara hidup kita, karena Tuhan baik. Sekalipun ada-hal-hal yang tidak kita mengerti adalah cara Tuhan untuk membentuk kita. Percayalah pertolonganNya selalu tepat pada waktuNya.
  2. Pujia-pujian pengaggungan kita kepada Tuhan harus tulus, bukan karena ada keinginan kita (udang di balik batu), bahkan ada hidden agenda, sehingga seringkali yang terjadi ketika tidak sesuai dengan harapan/ekpetasi kita kecewa.
  3. KehadiranNya sebagai Juruslamat yang membebaskan orang-orang berdosa dengan kelemahlembutan, kerendahan hati bukan kekerasan dan keangkuhan. Biarlah lah terpenggil untuk menjadi penolong, pembebas, jurudamai dengan karakter yang tetap mengedepankan kerendahan hati.

 

Pdt. Larena br. Sinuhadji-Rg. Cikarang

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD