MINGGU 16 JULI 2023, KHOTBAH YEREMIA 31:1-6 (MINGGU MERDANG)

Invocatio:

“Kemalasan  mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar” (Amsal 19:15).

Bacaan: 2 Tesalonika 3:6-10 (Tunggal)

Tema: Nuan segelah Rulih (Menanam Supaya Menuai)

 

Pendahuluan

Minggu ini kalender gereja kita memakai liturgi minggu “merdang”  atau minggu menabur. Istilah merdang sangat familiar bagi masyarakat karo yang sebagian besar adalah petani. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman, maka istilah merdang tidak hanya menggambarkan kegiatan para petani, tetapi   relevan juga bagi semua pekerjaan. Dengan pengertian, merdang adalah usaha untuk “Memulai” suatu pekerjaan dalam berbagai bentuk, baik petani, pedagang off line dan online, ASN, yotuber, dsb. Dan pasti dalam memulai pasti memerlukan sebuah persiapen yang baik dan tetap mengingat peranan Tuhan dalam memberkati setiap hal yang kita kerjakan.

Pendalaman Teks

Kitab Yeremia ditujukan kepada umat Israel yang sedang berada di pembuangan (Yer. 1:3). Kehadiran Yeremia sebagai seorang nabi Israel tentu saja memiliki fungsi sebagai perpanjangan lidah Allah dalam menegur dan memperingatkan umat Israel supaya tetap setia dan taat menyembah Allah. Ketaatan kepada Allah ini mulai tercampur dikarenakan umat Israel yang mengalami pembuangan mulai banyak bersinggungan dengan praktik agama lain dan kesetiaannya kepada Allah mulai luntur.

Memang ada beberapa tema utama yang selalu menjadi sorotan kitab Yeremia antara lain: paham Yeremia tentang Allah, tegurannya kepada penyembahan berhala yang dilakukan oleh umat Israel, permasalahan moral dan etika Israel, tantangan nabi-nabi palsu yang membelokkan iman Israel dari Allah. Selain itu, harapan pemulihan Israel juga menjadi bagian yang tidak kalah banyaknya dalam kitab ini. Demikian juga dalam pasal 31 ini, harapan pemulihan umat Allah sedang kembali disuarakan oleh Yeremia.

Menariknya pemulihan umat Israel itu dimulai dengan pemulihan hubungan dengan Tuhan. Hal itu dengan jelas dikatakan dalam ay.1, Allah menyatakan DiriNya  menjadi Allah segala kaum keluarga  Israel dan mereka akan menjadi umatKu (Yer. 31:1). Mengapa demikian? Patut diduga bahwa karena lamanya waktu pembuangan dan percampuran penyembahan kepada ilah-ilah lain sehingga umat Israel lupa bahwa Allah yang memanggil nenek-moyang mereka keluar dari tanah perbudakan adalah Allah yang patut disembah.

Setelah deklarasi tentang diri Allah maka pemulihan Israel sebagai suatu bangsa dilanjutkan lagi dengan kasih Allah yang kekal bagi umat pilihan ini (ay 2-3). Artinya selain menyatukan berbagai suku Israel, Allah adalah setia dalam kasih-Nya kepada umat pilihan. Dan kasih-Nya itu tetap sama, baik kepada nenek-moyang mereka maupun generasi Israel dimana Yeremia hidup. Berdasarkan sifat kasih Allah yang kekal itulah maka Allah seterusnya akan membangun kembali umat Israel yang tercerai-berai dalam pembuangan itu (ay. 4). Bahkan Allah menjanjikan bahwa Israel akan kembali ke tanah perjanjian dan menjalankan aktivitas sebagaimana mereka sebelum mengalami pembuangan yaitu dengan bercocok tanam (ay. 5) dan juga menyembah Allah di gunung Allah yaitu Sion (ay. 6).

Jadi dari teks  terlihat jelas bahwa waktu dan  kesempatan untuk memulai sebuah usaha/pekerjaan (merdang) ada karena pemberian Tuhan. Tuhan tidak hanya memberi waktu dan kesempatan tetapi juga memberkati sehingga memberikan hasil (ay.5, ….yang membuat yang akan memetik….). Jika sampai hari ini kita masih bisa memulai pekerjaan/usaha kita setiap hari, itu hanya karena kebaikan Tuhan oleh sebab itu pakai kesempatan dan waktu itu dengan baik dengan melakukan yang terbaik.  Melakukan yang terbaik, berarti menjauhkan diri dari sikap bermalas-malasan, tidak mampu memanagemen waktu dengan baik (bnd. Ams. 19:15, invocatio). Maka orang yang seperti itu akan menderita kelaparan. Bahkan dalam Amsal 18:9, mengatakan bahwa orang yang bermalas-malasan adalah perusak.  Seorang pemalas biasanya suka menunda-nunda pekerjaan atau tugas sehingga pekerjaannya kian menumpuk.  Prinsip mereka:  "Besok masih ada waktu, sekarang santai dulu saja!"  Orang yang lamban dan pemalas selalu menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada. Itulah sebabnya firman Tuhan menasihatkan agar kita mau belajar dari kebiasaan semut.  "...pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:  biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.  Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring?  Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?  'Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk berbaring' - maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekuarangn seperti orang bersenjata."  (Amsal 6:6-11).

Bahkan Paulus  dalam pembacaaan yang pertama (2 Tesalonika 3:6-10) juga sangat keras menegor jemaat Tesalonika yang tidak melakukan pekerjaannya. Mereka yang tidak melakukan pekerjaannya adalah anggota jemaat yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja dengan alasan hari Tuhan sudah dekat. Masa-masa penantian itu dijalani dengan tidak bekerja  yang kemudian menyalahgunakan kemurahan gereja dan menerima bantuan dari saudara seiman yang bekerja secara biasa. 

1) Paulus mengatakan bahwa orang semacam itu harus didisiplin dengan menjauhkan diri dan jangan bergaul dengan mereka (ay.6 )

2) Paulus menganjurkan bahwa pertolongan harus diberikan kepada mereka yang betul-betul memerlukannya, ia tidak pernah mengajarkan bahwa orang percaya harus memberi uang atau makanan kepada orang sehat yang menolak untuk bekerja tetap.

Terlebih jika kita mendalami Firman Tuhan bagi kita saat ini yang mengatakan “Jika seorang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat yang ada di Tesalonika bahwa  apapun yang akan terjadi di esok hari tidak akan menyurutkan niat kita untuk bekerja. Walaupun besok Tuhan datang, hari ini tetaplah kita bekerja.

Maka dari itu, Rasul Paulus memperlihatkan tiruan dan contoh bagi mereka walaupun sesungguhnya dia sebagai pekerja yang memberitakan Injil Kristus selayaknya hidup dari pekerjaannya. Paulus tetap berusaha dan berjerih payah siang dan malam untuk kehidupannya, itu dilakukannya untuk menjadi contoh dan tiruan bagi jemaat Tuhan untuk meniru dirinya dalam semangat kerja keras dalam bekerja.

Sebagaimana yang dituliskan oleh Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Berkarya” mengatakan di Israel seorang pekerja disebut sebagai “Malakah” asal kata dari “Malakh” yang artinya pesuruh Allah. Yang walaupun mulanya sebutan ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja membangun bait Allah, namun kata “malakah” itu menjadi sebutan bagi setiap pekerjaan apapun. Dengan demikian apapun yang menjadi pekerjaan kita itu adalah panggilan Tuhan, bahwa kita adalah hamba Tuhan yang bekerja bagiNya di dunia ini. Maka selayaknya kita kita memiliki semangat kerja yang tinggi sebab hal itu adalah panggilan iman kita. Melalui pekerjaan yang kita lakukan, dari situ jugalah kita mendapatkan berkat penyertaan Tuhan. 

Aplikasi

Dari tiga nats kita hari ada beberapa penekanan yang penting yaitu:

  1. Bekerja dan bekarya adalah kesempatan untuk memulai sesuatu (pekerjaan) yang merupakan  pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan baik.
  2. Orang yang bekerja dengan baik (berkualitas/tidak asal-asalan) adalah orang yang akan menuai hasil yang diberkati Tuhan.
  3. Ketika menerima hasil, pakai dan kelola dengan baik untuk kemulian Tuhan.

Pdt Sri Pinta Ginting-Rg Cileungsi

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD