MINGGU, 12 FEBRUARI 2023, YOHANES 10:22-42

MINGGU SEXAGESIMA/KE-ENAMPULUH

(Minggu Yesus sungguh-sungguh siap memasuki masa-masa penderitaanNya)

Invocatio  :

Mazmur 142:6

Bacaan 1  :

Mazmur 69:5-9 (Tunggal)

Khotbah :

Yohanes 10:22-42 (Tunggal)

Tema :

Yesus kuat menghadapi penderitaan

 

I. Pendahuluan

Dua orang yang sepakat menurunkan berat badan dengan zumba (sejenis olah raga tari salsa yg dipadukan dengan aerobik), sekalipun menggunakan video tutorial yang sama, sangat mungkin kedua orang itu memiliki hasil yang berbeda. Mengapa demikian?

Kembali ke konsistensi, kesungguhan hati, dan keseriusan kedua orang itu melakukan setiap gerakan.

Setiap kita memiliki Alkitab yang sama, namun pasti memiliki pertumbuhan iman yang berbeda. Ini kembali ke konsistensi membaca dan melakukan firman Tuhan serta seberapa serius kita percaya bahwa setiap janji firman Tuhan adalah benar dan akan digenapi dalam hidup kita.

Jika hasil zumba bisa dilihat dari tubuh yang sehat dan bugar, maka hasil kita membaca dan melakukan firman Tuhan akan kelihatan dari kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita mengaku percaya bahwa Kristus adalah Tuhan tetapi tidak menjadi teladan dalam kata dan perbuatan kita, sangat mungkin kita hanya membaca, tetapi tidak melakukan firman Tuhan.

II. Penjelasen Teks Khotbah

Melalui bacaan khotbah di Minggu Sexagesima ini, kita belajar tentang dua respons manusia yang melihat Yesus dan apa yang telah dilakukanNya selama pelayananNya.

Ada banyak kesaksian dalam Alkitab yang menjelaskan kepada kita bahwa sekalipun beberapa orang melihat dan mengalami mukjizat yang dilakukan oleh Yesus ternyata tidak dapat menjadi dasar bagi mereka pada waktu itu untuk percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Ini terlihat pada dua kelompok orang dalam bacaan kita hari ini.

Ayat 22-24, Kelompok pertama yakni orang-orang Yahudi yang berada di Bait

Allah di Yerusalem, saat hari raya Pentahbisan Bait Allah (22-24).

Apa yang terjadi dengan mereka ini? Mereka mempertanyakan ke-Mesias-an Yesus karena selama ini mereka masih merasa bimbang, apakah benar Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu. Mengapa mereka masih bimbang? Bukankah mereka selama ini sudah melihat pelayanan Yesus dan berbagai mujizat yang dilakukan Yesus?

Ayat 25-29, Yesus merespons kebimbangan mereka dengan mengatakan bahwa permasalahannya bukan pada apa yang telah mereka lihat dan alami melainkan terletak pada diri mereka sendiri, yaitu karena mereka tidak percaya kepada Yesus (ayat 25), bukan karena Yesus tidak mampu menyatakan identitas-Nya yang nyata melalui karya-karya-Nya yang sudah dilihat dan dialami banyak orang. Ketidakpercayaan mereka juga diakibatkan karena mereka ternyata tidak termasuk domba-domba yang diberikan Bapa kepada-Nya (26-29). Bagi Yesus kebenaran sejati itu dipercayai atau tidak dipercayai adalah tetap kebenaran, tidak berubah dan tidak dapat diubah. Merekalah yang harus berubah, bukan Yesus yang harus berubah.

Ayat 30-33, Melalui penjelasan tentang domba-domba itu, Yesus juga menyatakan bahwa Ia dan Bapa adalah satu (ayat 30). Pernyataan terus terang Tuhan Yesus bahwa Dia dan Allah Bapa adalah satu (ayat 30) membuat orang-orang Yahudi tetap saja tidak mau mengerti dan menjadi berang dan malah hendak melempari Tuhan Yesus dengan batu (ayat 31). Bagi mereka perkataan Yesus jelas menghujat Allah karena Dia menganggap diri-Nya setara dengan Allah (ayat 33).

Ayat 34-39, Untuk memahami bagian ini, Tuhan Yesus memberikan dua argumentasi yang membela klaim keilahian-Nya.

Pertama, Ia mengutip Mazmur 82:6 yang berkata, " Aku sendiri telah berfirman: ”Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian” (ayat 34).

Menurut pemazmur, Allah sendiri menyapa umat Tuhan yang menerima firman-Nya dengan menyebut mereka sebagai anak-anak Allah. Kalau penerima firman Allah dilayakkan untuk disapa sebagai anak Allah (ayat 35), betapa lebih layak lagi Dia yang diutus Allah ke dunia, yaitu Firman yang berinkarnasi itu disapa sebagai Allah (ayat 36). Jadi, dari segi bahasa menyebut Yesus sebagai Anak Allah atau Allah tidaklah salah.

Kedua, Yesus membuktikan diriNya sebagai Anak Allah melalui pekerjaan yang dilakukan-Nya. Karya Kristus adalah melakukan pekerjaan BapaNya yang mengutus DIA (ayat 37). Perbuatan-perbuatan Yesus yang mengandung sifat ajaib dan moral terpuji selama hidup dan pelayananNya (ayat 32a) menyatakan kesatuan kehendak dan kesatuan misi-Nya dengan kehendak dan misi Bapa (ayat 38). Itulah sebabnya, Yesus menanyakan kepada mereka, kesalahan apa yang telah Dia kerjakan sehingga mereka ingin merajam Dia (ayat 32).

Salah satu karya agung Tuhan Yesus Kristus adalah kematian-Nya di atas kayu salib untuk menggenapkan misi penyelamatan Allah bagi dunia ini. Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah hasil karya-Nya. Hidup kita yang sudah dimerdekakan dari perbudakan dosa diberi mandat menjadi saksi akan keilahian Tuhan Yesus. Dengan hidup kudus, menjunjung tinggi kebenaran, dan menegakkan keadilan kita sedang menyaksikan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah. Meskipun Yesus masih menambahi pemaparannya mengenai istilah allah yang dipakai pada Mazmur 82:6 (32-38), tetap saja mereka tidak mau mengerti. Bahkan mereka ingin menangkap Dia (39).

 Ayat 40-42, kelompok kedua ialah orang-orang yang berada di seberang sungai Yordan, tempat Yohanes membaptis dahulu (40). Yesus, yang akan ditangkap dan dilempari dengan batu di Yerusalem, pergi ke Betania yang merupakan tempat bersejarah bagi-Nya dan Yohanes Pembaptis. Di sanalah Yohanes menyerukan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang akan menghapus dosa dan tidak melakukan mukjizat (41). Namun Ketika Yesus kembali ke Betania, ada banyak orang yang menjadi percaya kepada-Nya. Kehadiran Yesus di Betania memberikan dampak yang tidak terkira. Apa yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis menghasilkan buah pada waktunya. Tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Yesus membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis bukanlah omong kosong belaka, karena semua mukjizat dan pengajaran yang dilakukan Yesus Kristus telah mengonfirmasi pemberitaan Yohanes Pembaptis. Dengan itulah mereka diyakinkan dan pada akhirnya menjadi percaya. (42).

Perbandingan di antara kedua kelompok (ayat 22-24 dan ayat 40-42) ini jelas: yang satu tidak mau percaya meski sudah melihat mukjizat Yesus, sementara yang lain mau percaya walau hanya mendengar pengajaran dari Yohanes.

  • Pokok -pokok Khotbah
  1. Tentukan sikap kita: percaya dan mengasihi Dia atau menolak dan akhirnya membenci Dia. Dalam hal ini mari kita hindari sikap seperti orang-orang Yahudi yang masih meragukan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Mesias yang dinanti-nantikan). Tetap teguh menjaga iman kita kepada Yesus Kristus. Sekali percaya tetap percaya dan setia kepadaNya.
  2. Percaya kepada Yesus Kristus dapat terjadi tanpa harus ada mukjizat sebagai bukti. Hal ini dibuktikan oleh Yohanes Pembaptis yang tidak pernah melakukan mukjizat apa pun, namun banyak yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ini membuktikan bahwa iman tidak tergantung pada penglihatan. Bukankah Yesus pernah menegur Tomas karena tidak percaya pada kebangkitan-Nya sebelum melihat tanda? Sungguh berbahagia bila kita dengan iman meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat sekalipun kita tidak melihat-Nya secara fisik. Kedewasaan iman terjadi saat kita memiliki keyakinan yang teguh sekalipun tidak pernah melihat tanda. Tetap pegang teguh firman-Nya dan taat sepenuhnya.
  3. Tidak semua orang memiliki karunia untuk mengadakan mukjizat, oleh karena itu, yang penting harus kita gencarkan adalah ajarkanlah kebenaran tentang identitas dan kuasa Yesus.
  4. Sebagaimana Yesus Kristus yang tetap kuat menghadapi perlawanan orang-orang Yahudi yang hendak mencelakai hidupNya, Dia merasa aman Bersama BapaNya, karena IA dan Bapa satu adanya.
  5. Di dalam dunia kita menyaksikan dan mengalami sendiri berbagai penderitaan. Ada penderitaan yang terjadi karena seseorang melakukan kesalahan dan dosa, namun ada pula orang yang menderita justru karena membela dan melakukan kebenaran. Di mana kebenaran ditegakkan, di situ pula kejahatan menghadang.

Pengalaman seperti itu dialami oleh pemazmur (dalam bacaan kita yang pertama). Ia menyatakan bahwa karena Allah ia telah menanggung cela (ayat 8a), dan cintanya bagi rumah Allah menghanguskan dirinya (ayat 10a). Kesesakan yang menyerbu hidup pemazmur digambarkan dengan sangat dahsyat, bak orang yang tenggelam ke dalam sheol (dunia orang mati). Ia terasing dari hidupnya sendiri dan berada dalam ketidakberdayaan ketika marabahaya melingkupinya (ayat 1-3). Ada juga orang-orang yang begitu membenci dia tanpa alasan dan ingin menghabisi nyawanya (ayat 5), dan ia pun "mati" secara sosial karena dikucilkan dari masyarakat serta keluarganya sendiri (ayat 9-13).

  1. Tema kita Minggu ini: Yesus Kuat menghadapi Penderitaan

Tema ini mengajak kita supaya belajar dari pergumulan Yesus yang ditolak keMesiasanNya ditengah-tengah kehidupan orang-orang yahudi yang meragukan Dia. Yesus tetap tenang, sabar dan kuat menghadapi tantangan dari lawan-lawanNya. Yesus yakin bahwa BapaNya pasti akan berpihak kepadaNya. Ketika kita menengok ke dalam kehidupan pemazmur, ini merupakan kekuatan bagi kita yang rela menderita bagi Allah, namun perlu kita sadari bahwa mencintai Allah adalah sebuah perjuangan yang berat. Untuk itu, marilah kita meminta kepada Tuhan agar Ia memberikan keberanian bagi kita menjadi saksi kebenaran. Mari kita juga memohon kepada Dia agar menolong kita menjadi orang-orang yang senantiasa beriman dan berpengharapan karena kasih setia-Nya.

  1. Bagi orang-orang yang menantikan Tuhan, mencari Tuhan, mengasihi Tuhan dan menderita bagi Tuhan, harus mengakui ketidakberdayaan dirinya dalam menghadapi penderitaan karena mencintai Tuhan dan mengingat rahmat Tuhan yang senantiasa memberikan penebusan bagi mereka yang dalam kesesakan.
  2. Sebagaimana Kristus Kuat menghadapi Penderitaan, Kitapun diberi kekuatan oleh Tuhan menghadapi berbagai penderitaan. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

Pdt Philipus Tarigan-GBKP Runggun Cililitan

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD