SUPLEMEN PA MORIA 18-24 JUNI 2023, 1 KORINTI 9:20-24

Ogen : 1 Korinti 9:20-23

Tema : Pentar Ncibalken Diri

Tujun  : Gelah Moria

                - Meteh maka Paulus pentar encibalken diri ras bangsa-bangsa si deban si ilayanina

                - Mediate, ngangkai ras mpehuliken peradaten kalak Karo

 

 

I. Pendahuluan

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalahh Suku Karo yang memiliki budaya yang sangat kompleks untuk mengatur tatanan kehidupan orang Karo. Sebagai orang Karo yang sudah mengenal Yesus kita harus mempertahankan budaya Karo yang tidak bertentangan dengan iman Kristen dan menerangi/memperbaharui budaya yang tidak seturut dengan Firman Tuhan.

Dalam kehidupan setiap hari manusia selalu diperhadapkan dengan Injil dan budaya. Jangan sampai tergoda untuk mendiskreditkan budaya tertentu, akan tetapi kita   perlu   selalu   merenungkan   bagaimana   Injil   dapat memperbaharui budaya. Kehidupan   dijaman   modern   ini   sangat   penuh   dengan berbagai pluralitas sebagai akibat dari kemajuan industri, ilmu pengetahuan   dan   teknologi.   Perkembangan   sosial   yang   telah melaju dengan cepat membuat perubahan-perubahan yang mau tidak mau harus diterima oleh masyarakat. Dalam hal ini kita harus mampu memberikan filter dan proteksi agar   setiap   anak-anak   Tuhan   mampu   menghadapi   tantangan hidup.

II. Isi

Prinsip Paulus dalam pelayanan bukan suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan. Paulus bukan sedang belajar menjadi bunglon, tetapi menjadi hamba Kristus. Ia menaklukkan semua kepentingan dirinya, kebebasan dan haknya dalam upaya mempersempit jurang pemisah antara dirinya dan orang-orang yang dilayaninya demi memenangkan mereka bagi Kristus. Rasul Paulus menjadikan dirinya hamba dari semua orang, ia menyesuaikan dirinya dengan semua jenis orang. Bagi orang Yahudi ia menjadi seperti orang Yahudi, Ini menunjukkan bahwa Paulus memposisikan dirinya bukan sebagai orang Yahudi meskipun dia adalah keturunan Yahudi.  Tetapi sejak menerima Yesus, dia adalah ciptaan baru dan menjadi pengikut Kristus dan bebas dari tuntutan hukum Taurat. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, ia menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya ia dapat memenangkan mereka ketika berada di bawah hukum Taurat. Walaupun ia menganggap hukum upacara simbolis sebagai kuk yang telah dilepaskan oleh Kristus, namun dalam banyak contoh ia tunduk kepada hukum itu, supaya ia dapat mempengaruhi orang-orang Yahudi, menghilangkan prasangka mereka, membujuk mereka supaya mau mendengarkan Injil, dan memenangkan mereka bagi Kristus. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, ia menjadi seperti orangg yang tidak hidup dibawah hokum taurat. Dalam hal-hal yang tidak mengandung dosa, ia dapat mengikuti kebiasaan dan kegemaran orang-orang ini demi keuntungan mereka, ia bertingkah laku diantara mereka seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, seperti yang telah ia tegaskan dan ia jalankan, walaupun ia tidak bertindak seperti orang yang hidup di luar hukum Allah, tetapi hidup di bawah hukum Kristus. Ia tidak akan melanggar hukum Kristus untuk menyenangkan atau menghibur orang lain. Namun, ia akan menyesuaikan diri dengan semua orang, sejauh itu tidak melanggar hukum, asal saja ia dapat memenangkan beberapa orang. Bagi orang-orang yang lemah Rasul Paulus menjadi seperti orang yang lemah, supaya ia dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Orang-orang yang lemah di sini adalah orang-orang belum percaya yang memiliki status sosial yang rendah. Ia tidak memandang rendah atau menghakimi mereka, tetapi ia menjadi seperti salah seorang dari mereka. Ia menyangkal diri demi kepentingan mereka, supaya ia dapat menembus perasaan mereka dan memenangkan jiwa mereka. Singkatnya, bagi semua orang ia telah menjadi segala-galanya, supaya ia sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Ia tidak akan berbuat dosa melawan Allah untuk menyelamatkan jiwa sesamanya, tetapi dengan penuh sukacita ia siap menyangkal diri. Hak-hak Allah tidak dapat ia tolak, tetapi ia dapat menyangkali haknya sendiri, dan sangat sering ia melakukannya demi kebaikan orang-orang lain.

Rasul Paulus memberikan alasannya mengapa ia bertindak seperti itu : Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya, yaitu untuk kemuliaan Kristus, dan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Demi mencapai tujuan inilah ia merendahkan diri, menyangkal diri dengan kebebasannya, dan menyesuaikan diri dengan kesanggupan dan kebiasaan orang-orang yang ia layani, sejauh tidak melanggar hukum Kristus.

III. Aplikasi

Dari 1 Korintus 9:20-23 dapat ditemukan prinsip-prinsip yang diperlukan untuk membangun relasi dengan dunia (pentar encibalken diri).  Prinsip yang pertama adalah tujuan Allah menjadi fokus utama.  Paulus menyampaikan dengan sangat jelas bahwa semua yang dia lakukan berkaitan dengan sikapnya menyesuaikan dirinya dengan berbagai golongan orang-orang di Korintus adalah untuk memenangkan mereka bagi Injil.  Paulus bisa saja memanfaatkan pergaulan yang dia bangun untuk mendapatkan ketenaran atau dukungan di dalam pelayanan, tetapi ini tidak dia lakukan.  Pergaulan yang dibangun oleh Paulus bukan untuk alasan pragmatis yang berorientasi pada keuntungan diri sendiri tetapi kepada kemurnian dan tujuan Allah yang bernilai kekal. Yang kedua adalah batasan di dalam pergaulan.  Tujuan yang mulia akan menjadi tercemar bila tujuan tersebut dicapai dengan cara yang merusak atau amoral. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa penyesuaian yang dilakukan oleh Paulus ini bukanlah penyesuaian yang asal-asalan atas segala hal.  Paulus dibatasi oleh hukum Kristus.  Dengan kata lain, sejauh penyesuaian ini tidak melanggar firman Tuhan maka Paulus akan melakukannya. Yang ketiga adalah cara di dalam pergaulan.  Dengan “menjadi seperti” Paulus telah memberikan teladan untuk menjalin relasi dengan dunia.  Keberadaannya yang telah menjadi manusia yang baru di dalam Kristus tidak menjadikan dia eksklusif dan menutup diri tetapi sebaliknya Paulus membuka dirinya dan memberikan kesempatan untuk terjadi proses pengenalan satu dengan yang lain. “menjadi seperti” juga menunjukkan bahwa Paulus bukanlah orang yang egois tetapi dia bersedia untuk mengerti orang lain dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan latar belakang kepercayaan maupun status sosial.

Dari ketiga hal ini kita dapat melihat bahwa pergaulan dapat dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan kabar baik.  Untuk itu pemakaian prinsip-prinsip etika pergaulan Kristen ini akan menolong orang-orang Kristen tidak terjatuh di dalam salah satu ekstrem pergaulan, baik yang mengisolasi diri atau yang membuka diri dan mulai “menjual” kebenaran sebagai bentuk penyesuaian di dalam pergaulan.  Tetapi mereka dapat menempatkan diri secara tepat sebagai seorang teman tetapi juga sebagai hamba yang bersaksi bagi Tuhan.

Suku Karo mempunyai adat istiadat yang sampai saat ini harus kita pelihara dengan baik dan sangat mengikat bagi kita orang Karo antara lain adalah Merga Silima (Karo-karo, Tarigan, Ginting, Sembiring, Perangin-angin), Rakut Sitelu ( Senina, Kalimbubu, Anak Beru) Tutur Siwaluh (puang kalimbubu, kalimbubu, senina, sembuyak, senina sipemeren, senina sepengalon/sedalanen, anak beru, anak beru menteri), perkade-kaden si sepulu dua (nini, bulang, kempu, mama, mami, bere-bere, bapa, nande, anak, bibi, bengkila, permen).

Selain itu masih banyak hal lain tentang budaya Karo yang harus terus kita pelihara dengan baik yaitu Bahasa karo, kesenian Karo (seni tari, seni bela diri, seni musik, seni ukur/pahat), makanan dan minuman khas Karo, lagu daerah dan lain-lain.

 

Pdt. Rahel br Tarigan-GBKP Runggun Denpasar

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD