SUPLEMEN PA MORIA 29 OKTOBER-04 NOVEMBER 2023, JOSUA 6:22-25

BAHAN  :

JOSUA 6:22-25

THEMA   :

PERBAHANEN SI MABA KEGELUHEN

 

PENGANTAR

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa hari esok merupakan misteri. Memang betul bahwa kita tidak pernah tahu akan hari esok, namun bukan berarti tidak ada suatu hal pun yang bisa kita persiapkan. Sebagaimana sejak awal penciptaan, kita mengimani bahwa Allah kita ialah Sang Perencana Agung, di mana Ia mempersiapkan dan merancangkan segala sesuatu, demikian pulalah sikap hidup yang harus kita jalankan. Hidup kita bukan seperti air mengalir, hanya mengikuti situasi serta kondisi yang ada. Hidup yang penuh dinamika ini harus kita jalani dalam persiapan dan perencanaan yang baik, karena hal tersebut adalah cermin kehidupan kita sebagai manusia yang dikatakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena begitu antusiasnya, banyak orang memulai sebuah perencanaan dengan mengumpulkan ide sebanyak-banyaknya, memetakan kelebihan dan kekurangannya serta menelusuri harapan-harapannya. Hal-hal ini perlu, hanya penempatannya bukanlah pada posisi yang pertama. Hal pertama yang harus kita lakukan dalam mempersiapkan dan membuat perencanaan adalah mendasarkan pemikiran kita dengan landasan yang kokoh yaitu kebenaran Firman Tuhan. Ini yang sering terlupakan dalam pembuatan perencanaan. Hal pertama merupakan tempat untuk kita kembali dan menyegarkan langkah kita dalam mengerjakan perencanaan dengan segala kompleksitas masalah yang kita hadapi. Dalam hal pertama inilah, kita punya kekuatan untuk mengarahkan segala sesuatunya pada tujuan semula. Dan untuk itu, kita hanya bisa mendapatinya dalam firman Tuhan.

PENJELASAN TEKS

Peristiwa penaklukan tanah kanaan oleh Yosua dan pengikutnya diperkirakan terjadi pada akhir abad ke-15 SM atau sekitar abad ke-13. Peristiwa penyerangan ini dilakukan dalam suasana persaingan orang Het dan orang Mesir yang - saling bersaing untuk memperebutkan jalur-jalur perdagangan di Siro-Palestina. Sebagai akibat dari persaingan ini   adalah melemahnya kekuatan bangsa Mesir dikawasan tersebut sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh para raja sekitar untuk merebut dan memperluas wilayah kekuasaan mereka. Termasuk di dalamnya bangsa Israel dibawa pimpinan Yosua pada masa itu juga memanfaatkan keadaan untuk merebut dan menguasai daerah Kanaan. Meskipun Yosua telah menerima janji perlindungan dan penyertaan dari Tuhan untuk menaklukan tanah Kanaan, namun dia tetap melakukan apa yang wajib ia dan pasukannya harus lakukan, yakni melakukan persiapan berdasarkan situasi yang ada. Oleh karenanya ia mengutus dua orang pengintai dari Sitim (tempat perkemahan mereka) menuju kota Yerikho secara diam-diam .( Bdk. Yos 2:1). Yerikho sendiri berjarak dua jam perjalanan ke barat sungai Yordan dan terletak di daratan yang subur. Kota Yerikho merupakan bagian dari Kanaan, sehingga bila mau menaklukan Kanaan maka kuncinya adalah menerobos kota Yerikho lebih dahulu.

Sesampainya di Yerikho, mereka singgah di rumah Rahab untuk bernaung dimana Rahab menerima mereka dengan baik. Banyak ahli yang berpandangan bahwa Rahab bukan sekedar pelacur biasa tetapi ia juga sekaligus adalah pemilik penginapan dan memiliki relasi dengan petinggi-petinggi yang ada di kotanya. Hal ini dapat dilihat dari kata Ibrani הנוז zonah (bdk. Yos. 2:2), yang diterjemahkan sebagai pelacur, pemilik penginapan, atau orang yang menjual perbekalan. Sebagaimana Rahab disebut sebagai pelacur oleh dua Rasul (bdk. Ibr. 11:31 & Yak. 2:25) maka semakin jelas bahwa ia memang adalah seorang pelacur. Penggunaan kata zonah disini juga bertujuan untuk menggambarkan Rahab sebagai seorang yang terkenal ‘bermoral rendah’. Walaupun ia digambarkan demikian, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Rahab ini juga memiliki tanggungjawab dan keramah-tamahan yang luar biasa karena ia dengan sungguh-sungguh berupaya melindungi tamu-tamunya itu. Pertama ia menyembunyikan kedua pengintai dan yang kedua ia mengambil resiko dengan berbohong kepada utusan raja dan ketiga ia menolong mereka keluar dari Yerikhi dengan selamat. Seandainya jika tindakan Rahab terbukti maka ia bisa diganjar hukuman mati ( berdasarkan hukum Hammurabi) seperti yang lazim dilakukan di daerahnya, dengan tuduhan perencanaan kejahatan serta penghianatan. Mengapa Rahab bersedia mengambil resiko untuk menolong kedua pengintai itu? Hal itu dia lakukan karena ada kesadaran dalam dirinya bahwa Tuhan menyerahkan negeri Kanaan bagi bangsa Israel untuk ditaklukan. Rahab sudah mendengar kesaksian yang juga didengar oleh seluruh penduduk negeri bahwa Tuhan Allah telah melakukan perbuatan luar biasa dengan cara mengeringkan laut Teberau (Kel.14:21), dan peristiwa dimana bangsa Israel mengalahkan kedua raja bangsa Amori, yaitu Sihon dan Og (Bil 21:21-35). Melalui pengakuannya, dan melalui kata-katanya, Rahab sedang memproklamirkan bahwa Allah bangsa Israel (YHWH) adalah Allah diatas segalanya. Pengakuan akan Allah Israel ini adalah suatu hal yang luar biasa dari seorang Rahab yang memiliki latar belakang dari kebudayaan kafir apalagi ia adalah seorang pelacur. Berawal dari mendengar cerita lalu berlanjut pada respon yang yang sangat baik dan benar kepada Allah yang ia buktikan melalui pengakuan dan tindakan.

Berkat Rahab, kedua pengintai itu dapat melarikan diri dan pulang dengan selamat kepada Yosua dan orang Israel. Kedua pengintai menceritakan apa yang mereka alami dan keyakinan bahwa Tuhan telah menyerahkan seluruh negeri ke tangan mereka. Seluruh penduduk negeri itu gemetar menghadapi mereka. Di bawah kepemimpinan Yosua, Tuhan menyerahkan Yerikho ke tangan Israel. Rahab dan keluarganya diselamatkan sesuai perjanjiannya dengan kedua pengintai yang telah ditolongnya. Mereka menjadi bagian dari umat Allah dan tinggal di antara mereka ( bdk. Yos. 6:17,23,25). Di kemudian hari, Rahab menikah dengan seorang Israel dan nantinya menjadi nenek moyang Raja Daud, yang menurunkan Yesus, Sang Juru Selamat (bdk. Mat. 1:5). Demikian pun kesaksian mengenai kehidupan Rahab ini tercatat dalam Surat Ibrani 11:3; “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.”

APLIKASI

  1. Ternyata bahwa iman yang disertai dengan tindakan dapat mengubahkan hidup seseorang. Rahab mengalami perubahan dalam hidupnya karena ia mau meninggalkan dosa-dosanya, dan bersedia untuk diperbaharui oleh Allah. Rahab tahu benar dengan siapa dia sedang berhadapan yakni dengan pengintai-pengintai yang memiliki Allah yang benar-benar berkuasa. Dari apa yang dia dengar dia tahu Allah Israel adalah Allah yang sungguh-sungguh agung dan berkuasa sehingga ia pun menjatuhkan pilihan untuk menyembah dan tunduk pada Allah. Di lain pihak, kita pun melihat kasih Allah yang sungguh luar biasa; tidak peduli masa lalu seorang yang buruk dan memiliki status social/ moral yang rendah sekalipun, bahkan dianggap sampah masyarakat, jika ia berpaling kepada Allah, maka ia akan direngkuh oleh Allah dalam kasih-Nya. Memang latar belakang kehidupan yang buruk tidak bisa disembunyikan, namun pada akhirnya anugerah Tuhan yang jauh lebih besar itu menang, dan memberikan harapan baru bagi orang-orang yang oleh dunia ini sering di-cap sebagai orang buangan, diberi stigma negatif, dan dianggap tidak berharga.
  2. Salah satu ciri yang harus dimiliki oleh setiap orang yang telah diselamatkan, adalah kerinduan untuk menyampaikan berita keselamatan kepada orang lain. Kepada orang percaya telah dibebankan suatu tugas yang tertinggi, yakni memberitakan anugerah Tuhan Yesus Kristus berupa keselamatan. Berita ini harus didengar oleh semua orang yang sedang menuju kepada kematian kekal. Rahab menyadari keberadaannya, bahwa ia memiliki orang tua dan sanak saudara yang lain. Ia tidak egois, melainkan ingin memperhatikan kesejahteraan orang lain juga. Rahab bertugas untuk menjelaskan kepada seluruh keluarganya tentang janji tersebut. Tugas ini tidaklah mudah. Tentunya Rahab akan berusaha meyakinkan orang tua dan sanak saudaranya tentang janji keselamatan tersebut. Bagi seorang yang telah memiliki kepastian atas keselamatan hidupnya, selalu terdorong untuk menyampaikan hal itu kepada orang lain. Ini terjadi dalam diri Rahab. Walaupun pengetahuannya tentang Allah masih kurang, tetapi rasa tanggung jawab yang penuh terhadap tugasnya telah dilakukan sebagai ketaatannya.
  3. Sebagai seorang perempuan, Rahab telah dicatat secara terhormat di dalam kitab Ibrani. Ia dijadikan suatu contoh „iman‟ dan dalam surat Yakobus wanita ini menjadi ilustrasi dari tindakan yang benar sebagai hasil iman. Allah memberikan ganjaran bagi setiap orang yang beriman kepadaNya. Ganjaran tersebut adalah keselamatan bagi orang percaya. Bahkan melalui diri orang tersebut, Allah berkenan menyalurkan keselamatan kepada orang-orang lain. Keselamatan dari Allah tidak hanya ditujukan kepada segolongan orang atau bangsa tertentu. Setiap orang dari setiap bangsa di dunia ini menjadi sasaran keselamatan dari Allah. Maukah kita dipakai Tuhan Yesus untuk menjadi berkat? Baik atau buruk masa lalu kita, di tangan Yesus mampu diubahkan menjadi masa depan yang gemilang sebab tiada yang mustahil bagi Tuhan.

Pdt. Eden P. Funu-Tarigan, S.si (Teol)

GBKP Runggun Bumi Anggrek

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD