SUPLEMEN PA MORIA TANGGAL 03-09 JUNI 2018, OGEN : KEJADIN 39:7-18

(Moria Terteki Selaku Ndehara)


Tema :

Man Ise Leket Ukurndu?

Tujun : Gelah Moria ;
- Ngangkai runuten kelasetiaan ndehara Potifar
- Tetap leket ukurna ras setia nandangi perbulangenna saja

Metode PA :

Diskusi dan meditasi

 

Pengantar
Ada yang bilang “Kalau sudah jatuh cinta, maka akan sulit pindah ke lain hati.” Namun ternyata, cinta dapat diuji oleh suatu kondisi, waktu atau pihak lain yang bisa saja membangkitkan arti yang baru, sehingga cinta yang awal tadi menjadi layu. Cinta yang sesungguhnya akan membuat kita mampu tetap setia dan kesetiaan itu sudah pasti tahan akan ujian.

Mencintai sesuatu atau seseorang pasti ditumbuhkan di dalam hati dan berdampak pada apa dan bagaimana pilihan selanjutnya. Apa yang terpikirkan? apa yang diucapkan? apa yang dilakukan? bagaimana menjalaninya? bagaimana membuktikannya? dan lain sebagainya. Seperti orang yang hatinya sedang bersukacita, akan terlihat dari raut wajah berseri-seri, tersenyum, bernyanyi gembira dan mengerjakan sesuatu dengan baik. Hal ini menyadarkan bahwa segala sesuatu di dalam hidup ini, harus dimulai dari bagaimana arti cinta dan kesetiaan itu dimaknai dan dimengerti. Karena berpengaruh besar dalam semua aspek kehidupan. Terlebih jika kita mengaku cinta dan percaya kepada Tuhan, akankah kita mampu untuk setia dan mewujudkannya di dalam kehidupan kita?

Isi
Cinta dan kesetiaan Yusuf kepada kehendak Tuhan, diuji saat dia bekerja di rumah Potifar. Segalanya miliknya telah dipercayakan Potifar agar dapat dikelola Yusuf dengan baik. Sikap dan paras Yusuf memang sangat manis/menarik (ay 6-7) sehingga banyak orang terpikat, termasuk istri Potifar. Sehingga dengan berahi, istri Potifar mengajak Yusuf untuk tidur dan bersetubuh dengannya. Yusuf tahu betul, apa yang diinginkan istri tuannya itu bukanlah sesuatu yang pantas dan berkenan di hadapan Tuhan. Walaupun ada kesempatan, terlebih rayuan istri Potifar terus berusaha membujuknya, Yusuf teguh menolak (ay 9-10).

Istri Potifar tidak berhenti untuk membujuk Yusuf dan mencari-cari kesempatan. Dia hanya ingin memuaskan hasrat mata dan keinginan dagingnya. Sehingga apa pun dilakukannya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Pada saat tidak ada seorang pun di rumahnya, Istri Potifar memegang baju Yusuf dan menggodanya. Namun Yusuf pergi berlari dan meninggalkannya. (ay 11-12). Penolakan Yusuf membuat istri Potifar kecewa. Sehingga dia memutarbalikkan fakta, memberi tuduhan dan fitnah bagi Yusuf dihadapan orang lain dan suaminya sendiri, Potifar. Baju Yusuf yang sempat tertinggal di tangannya saat menggoda Yusuf dijadikannya alat yang membenarkan tuduhannya dan menutupi maksud jahatnya (ay 13-18).

Apa yang dilakukan istri Potifar menjadi bukti atas apa yang melekat di hatinya. Istri Potifar tidak mengenal kehendak Tuhan sehingga dia pun tidak menganggap kesetiaan kepada suaminya berharga untuk dijaga. Istri Potifar lebih memilih melekatkan hati pada keinginannya sendiri, yang walaupun itu salah tetap dilakukannya karena itulah yang jadi penuntunnya melakukan segala yang dikehendakinya. Istri Potifar menuruti kehendak dagingnya, sehingga membutakan mata dan membuat sikap, perbuatan dan perkataannya menyimpang. Sementara Yusuf mengenal Tuhan dan mengasihi tuannya Potifar yang telah mempercayakan pekerjaan dan tanggung jawab padanya. Yusuf taat dan setia pada Tuhan sehingga tidak membiarkan dirinya berbuat dosa. Yusuf pun tidak berlaku seenaknya terhadap tuannya dengan memakai kesempatan untuk hal yang tidak seharusnya. Yusuf menjaga hatinya agar melekat pada apa yang baik dihadapan Tuhan dan demi kebaikan tuannya. Hal inilah yang mendasari sikap Yusuf yang memilih lari dari istri Potifar dan dihukum.

Aplikasi dan penutup
Dunia menawarkan banyak sekali hal yang menarik untuk dicintai dan dimiliki. Bahkan terkadang apa yang tidak seharusnya kita cintai dan miliki, dapat menjadi godaan untuk didapatkan. Terlebih di dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya harta, tahta, pria dll yang datang pada waktu dan situasi yang tidak tepat. Apalagi zaman sekarang, sangat mudah melakukan apapun dengan cepat tanpa terlihat orang lain. Adanya PIL (pria idaman lain), PELAKOR (perebut lelaki orang) dsb. Media, cara dan kesempatan yang dapat digunakan semakin banyak pilihannya. Semua bisa saja ditutup-tutupi, terlebih jika hal itu disimpan di dalam hati. Tetapi pada akhirnya akan menimbulkan konflik dan perpecahan (perselingkuhan, perceraian, KDRT, kenakalan anak dan remaja dll dalam rumah tangga).

Mengingat kondisi tersebut, maka saat ini penting bagi Moria untuk tahu, kepada siapa hatimu tertuju? Ini adalah pertanyaan bagi Moria agar dapat menentukan sikap. Apa dan bagaimana cara berpikir, bertindak, berkata-kata khusunya sebagai istri/ibu yang taat akan Tuhan. Terlebih untuk menjaga cinta dan kesetiaan kepada keluarga dan suami. Keinginan-keinginan daging dapat begitu menggoda jika dituruti. Dampaknya sudah pasti menghancurkan kehidupan kita, cepat atau lambat.
Apa yang ada di hati, akan terwujud dalam sikap dan pilihan hidup kita. Jika hati kita melekat pada kehendak Tuhan, seperti Yusuf, maka kita pun diingatkan dan dimampukan untuk kuat melawan godaan yang ada. Namun sebaliknya jika kita melekatkan hati pada keinginan daging, kehendak pribadi maka seperti istri Potifar, kita pun akan menghalalkan segala cara untuk tujuan pribadi, membuahkan sikap dan tindakan menyimpang lainnya dari kebenaran dan kehendak Tuhan. Hal ini menunjukkan betapa kita tidak mengasihi keluarga dan suami.

Status Moria adalah sebagai istri yang seharusnya taat dan setia pada Tuhan. Tentunya sikap hati dan hidupnya berorientasi pada kehendak Tuhan saja. Hal ini terwujud dalam cinta dan kesetiaan pada suami yang membuat Moria tidak akan membiarkan hal-hal lain merusaknya. Walaupun banyak godaan, Moria harus mengingat bahwa cinta dan kesetiaan yang sejati harus tahan uji. Jangan memberi celah dan kesempatan untuk kalah dan menuruti kehendak daging. Biarlah Roh Kudus menuntun, menjaga kekudusan rumah tangga, menjaga hati pada pasangan dan cinta di dalam keluarga. Berikan hatimu melekat dengan kehendak Tuhan saja. Dengan menjalin hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan dalam doa dan ibadah yang berkenan di hadapanNya.

Pdt. Deci Kinita br Sembiring – GBKP Rg. Balikpapan

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD