MINGGU 23 JUNI 2024, KHOTBAH JAKUB 3:13-18

Invocatio  :

Masmur 34:15

“Tadingkenlah kejahaten, lakokenlah kai si mehuli, bulatkenlah ukurndu erbahan perdamen”

Ogen  :

Jesaya 65:17-25 (Tunggal)

Kotbah  :

Jakub 3:13-18 (Tunggal)

Tema :

Erngena Ate Nandangi Perdamen (Cinta Damai/Suka Hidup Dalam Perdamaian)

 

PENDAHULUAN

Rasanya semua orang tentu menginginkan kehidupan dunia yang damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, tidak ada kekerasan, kejahatan dan tidak ada perselisihan. Bayangkan betapa indahnya jika semua manusia hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada yang mengedepankan perbedaan tapi mencari persatuan di atas keragaman. Itu bentuk dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya itu hanyalah utopia saja, karena ada banyak sekali orang yang berhenti hanya pada bermimpi dan berharap. Dalam menjalani kehidupannya manusia cenderung masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas. Terus fokus pada perbedaan dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Ada pula yang bahkan bertindak lebih jauh dengan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Make love not war, slogan yang kencang dikumandangkan di akhir tahun 60 an sampai awal 70an ketika Amerika memutuskan perang terhadap Vietnam, lalu ada pula slogan peace on earth, akhirnya berhenti hanya sebatas slogan dan harapan yang sulit untuk diwujudkan. Maka melalui Minggu Perdamaian ini kita diingatkan kembali dan diajak belajar terus dari Firman Tuhan, sehingga kita menjadi pribadi-pribadi yang cinta damai/suka hidup dalam perdamaian dan mewujudkannya dalam kehidupan bersama.

PEMBAHASAN TEKS

Yakobus 3:13-18

Kitab Yakobus ditulis oleh Yakobus, yang dianggap oleh sebagian besar tradisi Kristen sebagai saudara Yesus. Surat ini ditujukan kepada para jemaat Kristen yang tersebar di seluruh dunia pada masa itu. Yakobus menulis surat ini dengan tujuan memberikan nasihat praktis dalam menjalani kehidupan Kristen sehari-hari. Dia menyoroti berbagai isu, termasuk pengendalian lidah, perlakuan terhadap orang miskin, iman yang hidup, dan pentingnya perbuatan sebagai bukti iman yang sejati. Latar belakang historisnya mencakup periode awal gereja Kristen, di mana para pengikut Yesus tersebar luas dan menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Surat Yakobus memberikan panduan moral dan rohani untuk menghadapi masalah-masalah tersebut dan hidup sesuai dengan ajaran Kristus.

Kitab Yakobus pasal 3, diawali penulis dengan mengajak kita untuk merenungkan kekuatan dan bahaya lidah. Namun, dalam teks yang menjadi bahan khotbah kita Yakobus 3:13-18, penulis tidak hanya berbicara tentang bahaya ucapan, tetapi juga menyoroti perbedaan antara hikmat dari atas dan hikmat dunia.

Ayat 13 membuka dengan pertanyaan yang sangat penting, "Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi?" Pertanyaan ini menuntun kita untuk merenungkan sumber sejati hikmat. Bukankah kita seringkali cenderung memandang hikmat sebagai sesuatu yang bisa diperoleh melalui pengalaman atau pengetahuan semata? Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa hikmat yang sesungguhnya berasal dari Allah. Kemudian, kita diperingatkan tentang sifat hikmat yang benar, yakni "berlaku dengan perbuatan baik, benar dan sopan." Hikmat yang dari atas tidak hanya tentang pengetahuan atau pemahaman, tetapi juga tentang bagaimana kita hidup dan bertindak. Hikmat yang datang dari atas akan menciptakan karakter yang santun dan penuh kasih.

Dalam ayat 15, kita diberitahu tentang perbedaan antara hikmat dunia dan hikmat yang dari atas. Hikmat dunia cenderung bermuara pada kepentingan diri sendiri, penuh dengan iri hati dan dusta. Namun, hikmat yang datang dari atas membawa buah-buah yang berlawanan, yaitu Hikmat dari atas memancarkan buah Roh, seperti yang tercantum dalam Galatia 5:22-23: "Namun buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri."

Untuk itu, kita harus berhati-hati dalam membedakan antara hikmat dunia dan hikmat yang dari atas. Kita hidup di dunia yang sering kali menekankan pada kesuksesan materi dan keunggulan pribadi, tetapi hikmat yang dari atas tidak diukur oleh standar dunia ini. Akhirnya, dalam ayat 17, kita diberikan deskripsi yang indah tentang sifat hikmat yang benar. Hikmat yang datang dari atas adalah murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah baik, yang itdak memihak dan tidak munafik. Dan ini adalah sifat-sifat yang harus kita usahakan dalam hidup kita, karena ketika kita hidup sesuai dengan hikmat yang dari atas, kita akan menghasilkan buah-buah yang membawa kemuliaan bagi Allah. Semua ini tidak serta merta terjadi tapi boleh terwujud dengan setiap anak-anak Tuhan senantiasa membangun relasi dan komunikasi dengan sumber hikmat yang dari atas tersebut, yaitu Kristus Yesus Tuhan kita.

Yesaya 65:17-25

Teks ini adalah sebuah pasal dalam Alkitab yang berbicara tentang janji-janji Tuhan terhadap umatNya. Ini adalah bagian dari nubuat Yesaya tentang masa depan dan pemulihan yang akan datang bagi orang-orang Israel setelah masa penderitaan mereka. Pesan yang disampaikan di sini adalah tentang pemulihan, kebahagiaan, dan kedamaian yang akan datang bagi umatNya. Ini adalah janji-janji Tuhan akan membangun kembali, memberkati, dan memberikan kebahagiaan kepada mereka yang setia kepadaNya.

  • Ayat 17: Ini adalah janji Tuhan akan menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak terbayangkan, di luar batas-batas apa yang kita kenal. Janji ini memberikan harapan akan masa depan yang cerah, di mana kesedihan dan penderitaan masa lalu akan dilupakan.
  • Ayat 18-19: Ini adalah gambaran tentang sukacita dan kedamaian yang akan datang. Tuhan menjanjikan bahwa tempat suciNya, Yerusalem, akan menjadi sumber kegembiraan bagi umat-Nya. Tidak akan ada lagi tangisan atau ratapan, hanya sukacita yang abadi.
  • Ayat 20: Ini adalah janji akan umur yang panjang dan kesejahteraan bagi umat Tuhan. Tidak akan ada lagi kematian prematur atau penyakit. Semua akan hidup dalam kekuatan dan kesehatan, dan umur yang seratus tahun akan dianggap sebagai masa muda.
  • Ayat 21-24: Ini adalah gambaran tentang kehidupan yang makmur dan berkelimpahan. Mereka akan menikmati hasil kerja keras mereka sendiri, tanpa takut akan perampokan atau penindasan. Semua upaya mereka akan diberkati oleh Tuhan dan akan berbuah hasil yang melimpah.
  • Ayat 25: Ini adalah janji bahwa keturunan umat Tuhan akan mewarisi berkatNya. Mereka akan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan menerima berkat-Nya secara turun-temurun.

Sungguhlah, Yesaya 65:17-25 adalah sebuah janji yang penuh harapan dan penghiburan bagi umat Tuhan. Ini adalah janji akan masa depan yang cerah di bawah kekuasaanNya yang adil dan penuh kasih.

Masmur 34:15

Teks ini adalah penghiburan bagi kita sebagai umat yang percaya bahwa kita tidak pernah sendiri. Bahkan dalam saat-saat sulit sekalipun, kita bisa yakin bahwa Tuhan mendengar dan peduli terhadap kita. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang yang benar, dan hatiNya terbuka terhadap doa mereka. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan hadir dalam hidup kita dan mendengarkan ketika kita berbicara kepadaNya. Teks ini menyoroti pentingnya berdoa dan mencari Tuhan dalam semua situasi.

Benang Merah Teks Ketigas Teks Bacaan

Secara keseluruhan, ketiga teks ini menegaskan pentingnya hidup dalam kebijaksanaan dan kebaikan, serta mencari perdamaian dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Hal ini memberikan harapan akan masa depan yang dijanjikan oleh Allah di mana kedamaian dan keadilan akan memenuhi dunia.

PENUTUP

”Cinta Damai/Suka Hidup Dalam Perdamaian” merupakan prinsip yang sangat penting dalam ajaran Kristen. Perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan konflik, tetapi sebuah keadaan yang aktif diperjuangkan. Hidup dalam perdamaian berarti berkomitmen untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah, diri sendiri, dan sesama. Mari kita lihat beberapa prinsip yang dapat membantu kita hidup dalam perdamaian:

  1. Kristus adalah teladan sempurna tentang bagaimana hidup dalam perdamaian. Dia adalah Sang Juru Damai yang mengajarkan kepada kita untuk mencintai satu sama lain sebagaimana Dia telah mencintai kita (Yoh. 13:34-35). Melalui hidupNya, Dia menunjukkan bahwa perdamaian bukan hanya sebuah keadaan, tetapi suatu panggilan aktif untuk menjalin hubungan damai dengan Allah dan sesama.
  2. Hidup dalam Hikmat yang dari atas: Firman Tuhan mengajak kita untuk hidup dengan hikmat yang sesuai dengan ajaran Kristus. Hikmat adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang baik dan benar, yang bersumber dari pemahaman yang mendalam tentang kebenaran dan kasih. Untuk itu hiduplah dalam persekutuan dengan Sang Sumber Hikmat, Yesus Kristus Tuhan kita.
  3. Perbuatan yang Baik: Firman Tuhan juga menekankan bahwa perbuatan yang baik haruslah dilakukan dengan rendah hati. Ini berarti kita tidak boleh memperlihatkan kesombongan atau keangkuhan dalam tindakan kita yang baik, tetapi sebaliknya, kita harus tetap rendah hati dan menghormati orang lain.
  4. Kebenaran dan Keadilan: buah dari hikmat yang dari atas adalah kebenaran dan keadilan. Ini menggarisbawahi pentingnya hidup sesuai dengan kebenaran dan keadilan dalam semua hubungan kita, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.
  5. Perdamaian: Keseluruhan teks bacaan kita menekankan pentingnya perdamaian. Di Yakobus 3:18 khususnya menyatakan bahwa mereka yang menanam benih perdamaian akan menuai buah damai. Ini mengajarkan bahwa dalam hubungan kita dengan orang lain, kita harus berusaha untuk menciptakan perdamaian dan harmoni, bukan konflik atau pertikaian.
  6. Menjadi Pembawa Damai: Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat. 5:9). Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai di dunia ini. Ini berarti aktif berupaya memperbaiki konflik, menciptakan keharmonisan, dan menyebarkan kasih Allah kepada semua orang.

Hidup dalam perdamaian bukanlah tugas yang mudah, tetapi itu adalah panggilan yang penting bagi setiap pengikut Kristus. Dengan memperjuangkan perdamaian dalam hidup kita, kita mencerminkan karakter Allah yang adalah sumber perdamaian sejati.

Pdt. Melda br Tarigan-Runggun Bogor Barat

 

Info Kontak

GBKP Klasis Bekasi - Denpasar
Jl. Jatiwaringin raya No. 45/88
Pondok Gede - Bekasi
Indonesia

Phone:
(021-9898xxxxx)

Mediate

GBKP-KBD